Pantau Gunung Berapi Sekitar Aceh
BANDUNG - Pemerintah dan masyarakat diminta
mewaspadai aktivitas gunung berapi di sekitar daerah terjadinya gempa yang
memicu tsunami, Minggu (26/12). Sementara itu situasi di Aceh dan sekitarnya
diperkirakan segera memasuki tahap normal jika tidak ada lagi gempa susulan
dengan kekuatan antara 5,5 hingga 7 Skala Richter (SR).
Danny Hilman Natawidjaja dari Earthquake Geologist, Departemen Geoteknologi LIPI,
mengatakan, pemerintah harus menempatkan berbagai instrumen pemantau aktivitas
gunung api di sekitar daerah yang terkena gempa.
Pasalnya, gempa dengan kekuatan yang sama pernah tercatat dalam sejarah. Gempa
tersebut bersumber di Kepulauan Mentawai pada 1833 yang menyebabkan badai
tsunami merata di sepanjang garis pantai pulau Sumatera yang berhadapan dengan
kepulauan itu.
"Gempa itu lalu menyebabkan penumpukan magma yang kemudian ikut memicu
terjadinya letusan Gunung Krakatau pada 1883. Jarak dari gempa ke letusan gunung
itu memang 50 tahun, tapi kita hanya bisa memprediksi letusan itu ikut terpicu
oleh gempa," paparnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (28/12).
Sementara untuk gempa di Aceh sendiri, Danny menjamin daerah tersebut untuk
kisaran waktu 200 tahun berada dalam kondisi aman. "Energinya sudah
dilepaskan kemarin," katanya.
Danny menjelaskan, rangkaian gempa yang terjadi di sepanjang pantai barat
Sumatera ini merupakan gempa yang memicu retakan yang bergerak sepanjang
maksimum 1.000 kilometer hingga Pulau Andaman. "Titik pertama yang menjadi
sumber pusat gempa merupakan titik di mana bidang tersebut mulai retak. Retakan
tersebut memicu terjadinya rangkaian after shock wave atau gempa susulan.
Jadi, ibarat kaca kalau ada pecah kemudian retakannya menjalar ke daerah yang
lain. Itu yang kemudian menjadi gempa susulan," sambungnya.
Berdasarkan pemahaman umum di kalangan ahli geologi, lanjut Danny, jika terjadi
gempa dengan kekuatan 9 SR, maka gempa susulannya tidak akan lebih dari 7-8 SR
kekuatannya. "Frekuensi gempa susulan setelah gempa besar akan turun dengan
cepat. Sementara, jika di lokasi tersebut terjadi gempa dengan kekuatan hampir
menyamai gempa pertama, itu namanya gempa baru."
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Bandung, Hendri Subekti,
meminta masyarakat Jawa Barat, khususnya mereka yang berada di daerah pantai
selatan Jawa untuk tidak panik atas ancaman tsunami.
"Memang sepanjang selatan Pulau Jawa bisa terjadi tsunami, akan tetapi
waktu dan lokasinya belum diketahui," paparnya.
Hal ini dimungkinkan terjadi mengingat sepanjang pantai selatan Jawa tersebut
ada pertemuan antara lempeng tektonik Australia yang menyusup di bawah lempeng
Euro Asia sepanjang 100 kilometer. "Gerak penyusupannya itu mempunyai
kecepatan rata-rata enam sentimeter per tahun. Gerakan itu kemudian mendesak
batuan penahan dan melepaskan enerji yang dirasakan sebagai gempa bumi,"
ujar Hendri Subekti.
Aktivitas paling akhir yang menonjol di selatan pulau Jawa, menurut dia, adalah
gempa di selatan Pameungpeuk, Jawa Barat. Gempa yang terjadi 9 Desember 2004
tersebut tercatat berkekuatan di bawah enam SR dengan mengukur body wave atau
kecepatan rambat gelombang gempa dari pusatnya. Aktivitas yang menonjol tersebut
terjadi sebelum gempa besar yang menyebabkan tsunami di Provinsi Nangroe Aceh
Darussalam.
Himbauan agar masyarakat tidak panik, tambahnya bukan untuk menutup-nutupi
aktivitas kegempaan di sepanjang selatan Pulau Jawa. Pantauan BMG menyebutkan di
sepanjang pertemuan lempeng di selatan Jawa terus-menerus terjadi gempa.
Rata-rata setiap hari terjadi gempa yang bersumber pergerakan di pertemuan
lempeng di selatan pulau Jawa dengan besar rata-rata kurang dari 5 skala
Richter. Namun, pertemuan lempeng di selatan pulau Jawa mempunyai sifat
pembangkit tsunami yang berbeda dengan yang terjadi di Provinsi Nangroe Aceh
Darussalam.
Hendri Subekti menjelaskan, patahan yang terdapat di selatan pulau Jawa saling
bergeser sehingga patahannya tidak anjlok ke atas tapi saling bergeser. Kendati
demikian, keberadaan palung di selatan pulau Jawa menjadi penyebab terjadinya
tsunami. Jika dasar laut di palung tersebut bergeser, maka hal itu akan
mendorong sejumlah besar masa air yang terdapat di palung itu.
"Daerah selatan pulau Jawa memang punya potensi gempa. Tapi jangan
dikaitkan dengan tsunami di Aceh," kata Hendri. Dia menegaskan, baik BMG
maupun para pakar yang memberikan pernyataan mengenai gempa sama-sama tidak tahu
waktu kapan terjadinya gempa. BMG, menurut dia, tidak bisa memberikan pernyataan
tentang kapan terjadinya tsunami.
Untuk itu hendaknya mereka yang tinggal di sepanjang pantai untuk waspada dan
memperhatikan gejala alam yang berkaitan dengan tsunami. Gejalanya antara lain
saat terjadi gempa, maka permukaan air laut surut secara tiba-tiba. Lalu,
terdengar suara gemuruh yang bisa dikatakan tidak normal, udara menjadi dingin,
dan juga bau garam menyengat.
Jika hal seperti itu terjadi masyarakat diminta segera lari menjauh dari pantai.
Sejak terjadinya gempa dengan datangnya tsunami masih ada waktu tersisa untuk
menjauh dari pantai. Kecepatan rata-rata tsunami 500 km/jam.
Sebagai catatan, sejak tahun 1722 telah terjadi 15 kali tsunami di selatan Pulau
Jawa. Yang terbesar, terjadi di Banyuwangi pada 2 Juni 1994 dengan tinggi
gelombang pasang mencapai 19 meter menyebabkan 238 orang meninggal dunia.