Rubrik Interaktif
“Anda Bertanya – Kami Menjawab”
Pengasuh : Hj. Betania dan Redaksi Buletin
1. Al-Qur’an dan Bahasa Latin
Penanya : Bambang Irawan – Lake Forest
Tanya: Bolehkah kita membaca Al-Qur’an dengan panduan (yang dibaca) bahasa latinnya?
Jawab: Allah SWT berfirman :
Yang artinya : “Dan telah Kami jadikan Al-Qur’an itu mudah untuk dipelajari, maka siapakah yang ingin belajar dan mengambil pelajaran?”.
(surah Al Qomar 54 : 17, 22, 32, 40)

Dari ayat itu kita bisa memahami, bahwa walaupun bagi kita tulisan Arab itu sekilas terlihat susah, khususnya bahasa Arab yang bukan menjadi bahasa ibu kita (mother tongue), namun sudah menjadi janji Allah bahwa siapa saja yang mau mempelajarinya pasti akan diberi kemudahan.
Selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk tidak belajar membaca Al-Qur’an dengan panduan huruf latin, diantaranya:
Ada beberapa huruf Arab yang kita tidak temui kesamaan cara melafazkannya (makhroj) dengan huruf latin, seperti :
ع,د,ث
dan masih banyak lagi.
Di dalam bahasa Arab, apabila kita salah melafazkan makhroj yang benar, maka akan merubah maknanya.
Contohnya :
Sadiid dengan س yang artinya baik dan
Syadiid dengan ش yang artinya keras.
Ni’mat dengan ع yang artinya nikmat dan
Niqmat dengan ق yang artinya siksa.
Kita juga harus berhati-hati dengan panjang pendeknya, sedangkan Fathah, Dhommah, Kasroh, Tasydid atau Sukunnya semua punya bagian masing-masing yang tidak boleh dirubah dan tidak selalu bisa pas dengan huruf latin.
Khususnya bagi pemula sangatlah baik apabila belajar membaca Al-Qur’an langsung dengan huruf Arab nya. Mudah-mudahan Allah selalu memberi jalan kemudahan, Amien.
Penanya : Jama’ah setia Mesjid KJRI Los Angeles
Tanya: Apakah mesjid KJRI merupakan mesjid yang kita dambakan dari dulu, dan dibangun dari dana yang telah kita kumpulkan sejak berdirinya IMF?
Jawab: Ya dan Tidak.
Ya, karena apa yang menjadi dambaan kaum muslim Indonesia di Los Angeles akhirnya terwujud yaitu dengan berdirinya mesjid KJRI, walupun statusnya masih plat merah/milik pemerintah RI (karena berlokasi didalam gedung milik pemerintah RI). Karena itu penggunaannya belum dapat maksimal seperti umumnya sebuah mesjid, mengingat aturan-aturan yang berlaku di gedung tersebut yang harus kita hormati dan patuhi.
Tidak, karena seluruh biaya pembangunan berasal dari KJRI-LA, dimana ide dan prakarsa murni berasal dari kebaikan para pimpinan KJRI-LA. Untuk itu, kita sebagai masyarakat wajib mensyukuri nikmat ini dan wajib merawat serta mengisi mesjid tersebut.
Adapun dana yang telah terkumpul selama ini (di IMF) akan tetap digunakan untuk mendirikan sarana komunitas muslim Indonesia (termasuk Mesjid plat hitam – 100 % milik rakyat), Insya Allah.