Siapkah Pilihan Anda?
Oleh: Iwan K.
Tidak terasa waktu berjalan, pemilihan presiden putaran ke dua tinggal beberapa pekan lagi. Hiruk pikuk suasana pemilu di tanah air semakin terasa. Dua kandidat pasangan capres-cawapres semakin gencar melakukan lobi-lobi politik yang berbuntut pada koalisi. Peta perpolitikan pun semakin jelas. Pasangan Mega-Hasyim yang didukung oleh beberapa partai besar, yaitu PDI-P, Golkar, PPP dan beberapa partai kecil lainnya maju dengan nama “Koalisi Kebangsaan”. Pihak pasangan SBY-MJK (Susilo Bambang Yudhoyono-Muhamad Jusuf Kalla) tidak mau ketinggalan kereta, dengan dukungan Partai Demokrat,PKS, serta Partai Bulan Bintang baru saja mendeklarasikan berdirinya “Koalisi
Kerakyatan”.
Apapun nama koalisi itu, baik koalisi kebangsaan maupun koalisi kerakyatan, pada hakikatnya adalah sama, yakni bentuk dukungan dari beberapa partai partai politik. Persoalan dukung mendukung capres-cawapres adalah sesuatu yang wajar dan sah-sah saja. Tiap partai politik berhak untuk menentukan pilihannya. Tapi teramat sangat disayangkan kalo alasan keikutsertaan dalam suatu koalisi hanya berdasarkan bagi bagi jatah kursi menteri di kabinet.
“kita bergabung dalam koalisi ini, karena mendapatkan 8 jatah kursi menteri dalam kabinet mendatang” ungkap seorang tokoh partai besar suatu ketika.
“kalau partai yang sebesar itu mendapat jatah 8 kursi, ya kita berharap separo nya lah” ungkap seorang tokoh agama yang juga ketua parpol tidak mau kalah.
Ungkapan-ungkapan semacam itu, menunjukkan betapa rendahnya mereka menilai suatu demokrasi. Alasan keikutsertaan dalam suatu koalisi yang sebenarnya berdasarkan kesamaan visi, misi dan platform dalam memajukan bangsa ternyata masih jauh untuk diterapkan. Kepercayaan rakyat yang telah diberikan melalui tahap pemilu sebelumnya ternyata hanya berakhir dengan “itung-itungan politik” yang tidak jelas, atau istilahnya politik dagang sapi.
Kedewasaan berpolitik memang memerlukan tahapan dan proses, tapi percayalah, bahwa rakyat semakin pintar dan kritis dalam menghadapi ini semua. Dalam pilpres kali ini rakyat memegang peranan penting, karena rakyatlah yang akan menentukan arah perjalanan bangsa ini ke depan. Pemimpin saat ini atau di masa yang akan datang tak akan lepas dari dukungan rakyat. Tanpa dukungan rakyat, jelas pemimpin ini tidak berarti
apa-apa.
Yang perlu kita renungkan adalah, apakah pemimpin bangsa sudah bertindak sesuai dengan aspirasi rakyat. Introspeksi dan koreksi terhadap diri sendiri sangat relevan untuk dilakukan apalagi bangsa Indonesia baru saja merayakan HUT ke-59 kemerdekaannya.
Mengucapkan memang jauh lebih mudah dari melakukan. Dimasa kampanye lalu, para capres-cawapres selalu mengangkat tema penegakan hukum, pemberantasan KKN sebagai isu utama untuk menarik perhatian massa. Namun kenyataannya kedua hal itu masih jauh dari
harapan.
Untuk itu apa yang diinginkan rakyat untuk memperbaiki mental bangsa menuju perbaikan yang diinginkan , janganlah dianggap angin lalu. Raykat sudah memberikan sumbangan yang luar biasa dalam menentukan arah perjuangan bangsa melalui pemilu. Di tangan pemimpin, rakyat berharap keinginan itu bisa terwujud. Rakyat sudah semakin terbuka dan cerdas untuk menilai apakah pemimpin bangsa sudah bertindak sesuai dengan keinginan mereka. Bila gagal, maka kepercayaan rakyat akan semakin pudar. Selamat menentukan pilihan anda. (dikutip dari berbagai sumber)□