Membendung Militansi Agama
Pengarang: Mun’im Sirry


Penerbit: Jakarta, Erlangga
Deskripsi: xvii, 228 hlm.
Tahun: 2003

Buku ini membahas pergulatan Islam di tengah berbagai persoalan kebangsaan termasuk pengalaman negeri ini melewati jalan terjal transisi demokrasi. Pada masa reformasi Islam di Indonesia dituntut untuk dapat mewujudkan nilai-nilai keadabannya dalam hubungan sosial politik yang luhur seperti keadilan, demokrasi, toleransi dan pluralisme. 

Dibahas pula secara mendalam fenomena-fenomena kekerasan yang timbul akhir-akhir ini di Indonesia yang melatar-belakangi terjadinya aksi terorisme domestik maupun internasional secara umum. 

Buku ini baik bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut faktor-faktor apa kiranya yang melatar-belakangi aksi kekerasa tersebut dengan membawa-bawa nama dan simbol keagamaan. 

Pada awalnya, buku ini ditulis sebagai buah pemikiran atas analisa merebaknya kasus bom Bali pada tahun 2002. Namun buku ini menjadi tambah menarik lagi bagi kita semua sebagai bahan dasar untuk kajian untuk membahas secara seksama dan mereka-reka gerangan apa sebenarnya di balik kejadian seputar tragedi bom Kuningan yang baru saja terjadi.

Dalam uraiannya, buku ini dibagi menjadi empat bagian besar, yaitu fenomena militansi agama di Indonesia, hubungan agama dan politik global, misi profetik (prophetic) agama, serta kritik wacana pluralisem agama.
Sarat akan nuansa intelektual yang tinggi, pengarang sering kali mengutip banyak statement dari ahli-ahli ilmu sosial, baik ahli barat maupun Islam sendiri, yang lebih menambah keragaman pemikiran, tidak berasal dari satu sumber yang sempit.

Tidak kurang pula seorang tokoh nasional angkat bicara untuk bisa menyemarakkan kaidah isi dari buku ini. Nurcholis Madjid dalam kata sambutannya akan buku ini di awal tulisan mengemukakan saat ini telah terdapat jumlah yang cukup orang-orang Islam yang sempat memperoleh pendidikan modern, kemudian mereka maju dengan gagasan-gagasan yang lebih segar, khususnya dalam bentuk pandangan terhadap Islam sebagai norma-norma dan nilai-nilai susunan sosial politik. Kiprah intelektual tersebut dipelopori oleh generasi baru pemikir dan aktivis Islam yang berusaha mengembangkan format baru Islam. Format baru itu menitikberatkan pada substansi, bukan bentuk.

Lanjutnya, dalam model yang dikembangkan para intelektual tersebut, paham “keislaman” dan “keindonesian” disintesiskan dan dintegrasikan secara harmonis. Generasi baru sarjana Muslim itu mengembangkan basis dan komitmen teologis untuk menyokong demokrasi dan pluralisme agama dan kultural. 

Menarik untuk kita simak paparan dari Cak Nur tersebut di atas. Mun’im Sirry yang tergolong sebagai salah satu intelektual muda Islam, Insya Allah akan menjadi suatu model yang cocok bagi kita semua untuk bisa melihat secara seksama dan menangkap kira-kira buah pemikiran pengarang ini, terutama dalam kaitannya dengan masalah militansi yang berbau agama, baik itu yang terjadi di dalam negeri maupun luar negeri.

Tentang penulis
Mun’im Sirry lahir di Madura, 9 Maret 1971. Pernah menyanteri di Pondok Pesantren TMI Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura. Menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 pada Faculty Shari’a and Law di International Islamic University, Islamabad, Pakistan (1990-1996). 

Beliau adalah juga salah seorang peniliti dari Yayasan Paramadina, Jakarta. Saat ini ia tengah mengenyam pendidikan S3 untuk meraih gelar PhD melalui program beasiswa Fulbright, salah satu program beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat yang paling terkemuka di dunia.

Beberapa karya tulisnya adalah Dilema Islam, Dilema Demokrasi: Pengalaman Baru Muslim dalam Transisi Indonesia (2002), Melawan Hegemoni Barat(1999), Islam Liberalisme Demokrasi, Sejarah Fikih Islam: Sebuah Pengantar(1999), Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam (1999) dan masih banyak lagi. Sering pula ia melalui tulisannya menghiasi kolom-kolom tulisan di media cetak ternama di Indonesia. (AF) □