Jakarta Kembali Terguncang
Oleh: Tim Liputan Khusus MT

Di hari Kamis yang cerah, jam menunjukkan waktu sepuluh lewat lima belas, kota Jakarta kembali dikejutkan oleh ledakan keras yang berasal dari rangkaian bom yang diduga dipasang pada sebuah mobil yang berhenti sesaat di depan pinta gerbang Kedutaan Besar Australia yang terletak di bilangan distrik bisnis, Kuningan, Jakarta Selatan.
Serangan bom ini seakan membangkitkan lagi rasa ketakutan warga kota Jakarta yang boleh dibilang telah merasakan kembali suasana bomb-threat free (bebas dari ancaman bom) selama lebih dari satu tahun lamanya. Masih hangat di ingatan kita, di bulan Agustus tahun lalu, ketika bom berskala cukup besar menghancurkan bagian muka Hotel J.W. Marriot Jakarta yang merenggut sepuluh korban jiwa.
Kekuatan bom kali ini diperkirakan memilki daya ladakan yang lebih dahsyat dibandingkan bom Marriot. Terbukti dari efek ledakan yang mampu menghancurkan hampir semua kaca jendela Plaza Kuningan, gedung yang bersebelahan dengan gedung Kedubes Australia, yang menghadap ke jalan besar. Konon kabarnya, seperti yang dikutip dari paparan beberapa orang saksi, bom tersebut berkarakteristik unik karena tidak menimbulkan kobaran api seperti layaknya ditemukan pada kejadian serangan bom Bali dan Marriot. 
Dengan kejadian ini akan membuat kita bertanya-tanya, siapa lagi yang mau mengacaukan negara kita? Bukankah para pelaku bom sudah tertangkap? Jawabnya, ya dan tidak. 
Memang benar beberapa pelaku peledakan dari dua serangan bom terakhir sudah tertangkap. Akan tetapi dari pengakuan eksekutor bom Bali dan Mariot serta keterangan para saksi menyiratkan bahwa otak pelaku dari serangan terencana ini mengarah kepada satu otak pelaku, yaitu Dr. Azhari, seorang ahli fisika dari negeri jiran Malaysia.
Kalau kita cermati bersama dari kejadian-kejadian serangan bom dahsyat yang telah terjadi di Indonesia, maka terdapat ciri-ciri modus operandi yang sama. Pertama, kalau kita melihat kejadian bom Bali, Marriot dan Kuningan, semuanya menggunakan mode perantara mobil sebagai perantara peledakan. Kesemuanya menanamkan puluhan kilogram bahan peledak di dalam mobil, dan dalam beberapa saat..boom..bom meledak. Disinyalir bom diledakkan melalui alat remote control.
Kedua, menurut keterangan sementara dari pihak yang berwenang telah ditemukan bekas-bekas ledakan yang memakai bahan kimia dan jenis bahan yang sama. Ketiga, yang sudah diperkirakan pembaca, yaitu sasaran yang dijadikan target utama penyerangan adalah fasilitas negara asing atau tempat lain yang kerap dikunjungi oleh warga negara manca negara, terutama Amerika dan Australia. 
Keempat, rangkaian tiga kejadian bom dahsyat terakhir memiliki kurun waktu yang hampir sama. Bom Bali terjadi pada Oktober 2002, bom Marriot pada Agustus 2003 dan bom Kuningan Sepetember 2004. Ini bisa menandakan bahwa ada tenggang waktu yang sama antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Kurun waktu inilah yang bisa kita asumsikan barangkali sebagai jumlah waktu yang dibutuhkan bagi kelompok teroris untuk merakit bom, mencari bahan, lari dari kejaran aparat, merekrut kelompok eksekusi, pencarian target serangan dan penggalangan dana.
Yang membuat sulit sekarang adalah tiadanya lagi UU No. 15 tahun 2003 tentang penanggulangan dan pemberantasan tindak terorisme, membuat aparat semakin sulit untuk bergerak cepat. Seperti yang diutarakan oleh Kepala Badan Intelejen Indonesia (BIN), A.M Hendropriyono keadaan saat ini menyulitkan aparat kepolisian dan intelijen untuk bertindak karena mereka tidak mempunyai “payung” hukum yang kuat untuk bisa menjerat warga negara yang dicurigai tanpa melalui proses hukum yang berkepanjangan.
Beberapa negara tetangga juga telah menerapkan UU anti-teror yang serupa di negaranya. Singapura dan Malaysia dengan ISA-nya (Internal Security Act) ternyata bisa mampu meredem terorisme di negeranya. Malah Singapura yang menjadi target utama pertama kali di akhir 2001 bisa selamat dari bahaya terorisme hingga saat ini.
Terlepas dengan bagaimana seharusnya negara kita bertindak, kita semua sesama warga negara Indonesia yang baik patut berduka dan mengutuk tindakan terorisme tersebut apapun alasannya. Semoga saja segenap keluaga yang ditinggal oleh para korban yang meninggal bisa mendapat ketabahan di bawah bimbingan-Nya. (IK/AF/KK)