Gap Generasi
Oleh: Syamsi Ali, MA
Imigran Muslim Amerika masih dikategorikan pada fase generasi pertama, walau bukti-bukti cukup kuat bahwa Muslim telah datang ke new world ini jauh sebelum Columbus menginjakkan kakinya. Muslim datang di negeri ini bersamaan dengan perbudakan kaum putih atas kaum hitam. Namun eksistensi Muslim di AS masih dianggap generasi pertama.
Jika kita pelajari sejarah imigran-imigran lain (hakekatnya semua orang Amerika Imigran), seperti Yahudi, Irish, Italia, dan lain-lain, didapati bahwa generasi pertama mereka mengalami tantangan yang sangat luar biasa. Seorang peserta Retiree Program di salah satu pusat Union pernah mengatakan, yang namanya makanan Itali di NYC di tahun 60-70-an dianggap makanan menjijikkan bagi kebanyakan orang. Sekarang, salah satu makanan mewah di NYC adalah makanan Itali. Itulah salah satu contoh perputaran kehidupan.
Kaum Yahudi, yang diyakini memegang kunci kekuasaan di negeri ini, pada awalnya sangat direndahkan. Mereka mengalami pelecehan dari komunitas lain dengan sangat menghinakan. Tapi dunai tetap berputar, kini mereka menjadi anak-anak kunci kebijakan kekuasaan AS.
Prof. Sulaiman Nyang, professor sejarah di George Tonw University dan Director of Muslim in Public Square, pernah mengatakan bahwa umat Islam saat ini masih dianggap sebagai generasi pertama. Tapi kenyataannya, kita lebih beruntung dan bahkan jauh bernasib lebih baik ketimbang komunitas-komunitas pada awal generasi mereka. Beliau kemudian menyebutkan beberapa fakta, antara lain, 61% kaum Muslim berumur 40 tahun ke bawah. 67% anak-anak Muslim minimal berijazah S1, dan rata-rata (average income) mereka lebih besar jika dibandingkan average income masyarakat Amerika secara umum.
Lain kata, Muslim Amerika muda-muda, terdidik, dan kaya-kaya. Dan mereka baru pada tataran generasi pertama.
Mungkin secara sederhana kita bisa ukur dengan Muslim NYC. Ada sekitar 800.000 Muslim di NYC dengan 100-an masjid. Banyak bisnis-bisnis menengah ke bawah yang dikuasai oleh kaum Muslim. Pengusaha Yallow Cab terbesar adalah Muslim keturunan Pakistan-Bangla, tentu termasuk Indonesia (dua/tiga orang?). Jika anda menyekolahkan anak anda di sekolah di Public School, bukan hal aneh lagi kalau banyak ibu-ibu berkerudung yang antar jemput anak. Demikian seterusnya.
Lucky enough bukan? yes...dunia!
Tapi bagaimana yang lain? Cukupkah bagi umat Islam jika anaknya telah menjadi insinyur, pengacara, dokter? Apakah itu misi dan visi kehidupan umat di AS? Jawabannya memang tergantung pribadi masing-masing. Ada memang yang datang ke AS untuk balas dendam. Di negeri gue, makan pun nggak cukup. Di sini, yang penting makan bagus, tidur bagus, drive bagus...tercapailah tujuan hidup.
Muslim American Magazine, sebuah majalah tahunan organisasi MAS terbitan Virginia, pernah melaporkan bahwa 9 dari setiap 10 anak yang lahir dari keluarga Muslim, ketika menginjakkan kaki di college/universitas, merasa "disconected" dengan agamanya. Mereka secara random diwawancarai, bagaimana kehidupan keislaman mereka. Jawabannya mengejutkan, agama bagi mereka tidak penting. Agama hanya sebuah tradisi orang tua yang perlu dihormati.
Ada seorang bapak yang berkomentar kepada saya, “Hah..??? Mungkin masih bagusanlah. Tradisi orang tua yang perlu dihormatin! Tapi ada yang keterlaluan juga, menghromatinya juga tidak. Tragisnya, agama hanya sebuah beban masa lalu yang diwarisi dari orang tua. Ada anak-anak yang shalat Idul fitri juga nggak muncul-muncul....minimal ikut rayain idul-idulan! Padahal, tidak jarang orang tuanya masih kental agamanya.”
Lanjutnya, “Inikah yang disebut gap generasi? Ternyata bukan gap kepeminpinan yang selalu menimbulkan krisis seperti di negeri tercinta kita, eyang minggi tanpa sebuah proses alamiah, maka goncanglah sendi-sendi bernegara itu. Gap generasi malah jauh lebih berbahaya, karena sendi-sendi kehidupan manusia Muslim terancam di masa depan! Sebuah peringatan untuk diri sendiri, dan mungkin juga bermanfaat kepada yang lain.”
Kenapa harus terjadi? Langkah apa yang perlu dilakukan untuk menjembatani gap tersebut?
"Semua anak lahir dalam keadaan fitrah. Tapi kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi".
"Semua hambaKu telah Kuciptakan secacara 'hunafa'. Tapi syetan-syetanlah yang menjadikan mereka membelok dari agama yang hanif".
Dua statement Rasulullah di atas memberikan gambaran jelas, betapa orang tua dan lingkungan saling berkolaborasi dalam membentuk wajah generasi kita. Hadits pertama lebih menitik beratkan pada peranan orang tua. Sementara hadits Qudsy (kedua) menitik beratkan pada syetan-syetan yang oleh ulama ditafsirkan dengan lingkungan hidup.
Hati manusia awalnya adalah suci (fitri), ya innocent-lah, not sinful sebagaimana orang lain meyakini. Tapi lambat laun, hati yang putih ini menjadi kelam dan hitam pekat oleh pengaruh luar, baik itu karena pengaruh keturunan yang memang kurang bertanggung jawab, maupun lingkungan hidup yang memang bobrok. Sehingga karakter anak-anak tersebut kemudian tumbuh berdasarkan "pengisian" di kemudian hari.
Bagi Muslim yang hidup di AS, yang sebenranya kata AS ini bukan lagi geografis sifatnya tapi "life style", mengingat ada orang yang hidup di Jakarta namun life stylenya even more Americanized than the Americans. Muslim yang hidup dengan influence Amerika, seharusnya sadar bahwa persaingan dan kopetisi ini begitu sengit. Ketertinggalan satu langkah berarti ketertinggalan seribu langkah.
Yang pertama sekali yang perlu dibenahi adalah "cara pandang hidup" itu sendiri. Ini yang biasanya saya katakan, hiduplah dengan visi yang jelas. Apa visi kita dalam hiudp ini? Hanya dengan visi yang jelas, kita akan tahu dengan jelas pula "misi" kita. Dengan misi yang jelas itu, kita bisa membuat perencanaan-perencanaan hidup kita, ternmasuk perencanaan yang paling strategis ini, yang berkaitan langsung dengan eksistensi masa depan generasi kita.
Berbicara mengenai visi ini, ada Ibrahim dan anaknya Ismail bisa menjadi tauladan kita. Mereka berdua, segera setelah meninggikan fondasi Ka'bah berdoa kepada Allah: "Ya Allah terimalah dari kami, sungguh Engkau Maha m,endengar lahi Maha melihat". "Ya Allah jadikanlah kami berdua Muslim, dan anak-anak keturunan kami sebagai umat Muslim, tunjukan cara peribatan kami, dan ampunilah kami, sunggu Engkau Maha pengampun". "Ya Allah utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mensucikan mereka, serta mengajarkan al kitab dan al
hikmah".
Doa Ibrahim di atas dapat dilihat pada akhir-akhir Juz dua S. Albaqarah. Di mana pada ayat-ayat itu terlihat sebuah visi besar, menatap masa depan anak-anak keturunan dengan visi yang tajam. Apalah makna membangun Ka'bah jika kemduian anak keturunan sendiri tidak lagi meyakini agamanya? Maka doa pertama beliau setelah membangun Ka'bah adalah "jadikanlah kami Muslim dan juga anak-anak keturunan kami". Bahkan lebih jauh: "utuslah seorang rasul kepada
mereka..."
Sikap Ibrahim di atas yang mungkin pantas disebut "Abrahamic Vision". Sebuah visi yang melihat masa depan generasi dengan penuh "concern" dan "tanggung jawab". Untuk itu, beberapa ayat selanjutnya menyebutkan: "Dan ingat ketika Tuhan mengatakan kepada Ibrahim, "menjadilah kamu Muslim. Ibrahim berkata: "saya sudah menjadi Muslim kepada Tuhan seru sekalian alam". Allah melanjutkan kisah ini: "Dan Ibrahim meninggalkan wasiat, dan juga Ya'kub, "Wahai anak-anakku, sungguh Allah telah memilih bagimu agama, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim".
Maka, menumbuhkan rasa kekhawatiran yang didasarkan kepada realita dengan ukuran visi tadi, Muslim AS bisa melakukan perencanaan, apa yang seharusnya dilakukan untuk menjaga generasi ke depan. Pembentukan komunitas Muslim, tujuan utamanya adalah agar ada pelarian untuk perlindungan (Gua bagi Ashabul Kahf) bagi generasi dari derasnya arus lingkungan hidup. Dan sudah pasti visi dari sebuah komunitas itu pula, banyak ditentukan oleh kapabilitas kapten-kapten yang menjalankannya.
Dari sini jelas, bahwa diperlukan kolaborasi positif antara orang tua (rumah) dan lingkungan (komunitas). Kalau di rumah anak tidak mendapatkan arahan yang benar, dan komunitas juga tidak memliki program yang kuat ke arah itu, maka tunggulah masanya untuk anak-anak ini tenggelam terbawa arus lingkungan
sekitarnya.
Menumbuhkan visi yang benar, seperti Ibrahim, menjadi fondasi bagi semua keluarga dalam membentengi anak-anaknya. Kesadaran keluarga per keluarga ini kemudian dirajut dalam sebuah bentukan komunitas yang tangguh, dengan program-programnya yang jelas. Keharmonisan relasi antara keluarga-keluarga dan komunitas inilah yang menjadi prisai kokoh bagi generasi menghadapi derasnya arus pengaruh lingkungan hidup.
Kegagalan mempersamakan visi keluarga-keluarga dan komunitas, melahirkan gap komunikasi dan program. Komunitas terkadang punya program dan kegiatan, tapi keluarga-keluarga juga punya sendiri-sendiri. Di sinilah nampak gap
tersebut.
Hal lain yang perlu diperhatikan para keluarga adalah "envolvement" dalam kegiatan-kegiatan keislaman, dan dorongan kepada generasi untuk selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ada di manapun. Ketika anak menginjakkan kakinya di college, maka sesunggunya mereka telah mulai membentuk kedewasaan yang sempurna. Ketergantungan kepada orang tua tidak lebih dari ketergantungan dana semata. Tapi mereka merasa sudah berdiri sendiri dan tidak perlu lagi diarahkan atau mengikuti telunjuk orang tuanya.
Pada saat seperti ini, orang tua tidak lagi bisa menjadi "mandor" bagi anak-anaknya. Yang terbaik adalah mengarahkan anak-anak tersebut untuk terlibat di kegiatan-kegiatan Islam di mana dia belajar, seperti MSA (Muslim student Association). Namun hal ini menjadi sulit, jika sejak dini anak-anak tidak pernah terlibat di kegiatan 'antar komunitas'. Jika selama ini anak-anak bergaul hanya dengan mereka, dibatasi oleh lingkungan 'sesama ras, suku atau bangsa'', maka ketika berhadapan dengan orang lain akan menjadi kaku.
Sekarang ini hampir di semua universitas ada MSA. Bahkan di beberapa High School seperti Styvesent High School di Down town juga ada MSA. Tapi masalahnya, semua ini kembali kepada pembentukan opini anak sejak dini.
Komunikasi yang harmonis antara anak-anak dan orang tua perlu dibangun secara terus menerus. Orang tua harus mampu menempatkan diri pada posisi yang beragam, terkadang sebagai teman, kakak, partner, tapi sekali-sekali perlu menjadi orang tua dan guru. Fleksibilitas, tidak harus iya semuanya, dan tidak juga harus tidak semuanya.
Komuniasi ini hanya akan terjalin dengan baik juga jika memang dibangun sejak awal. Ketika anak masih kecil, lalu komunitas ini sudah tidak lancar, maka jangan harap ada komunikasi di saat anak-anak mencapai umur remaja. Ditambah dengan language barrier, masalah bahasa karena anak lemah dengan bahasa Ibunya, maka semakin parahlah komunikasi itu terbangun. Kegagalan komunikasi ini yang menjadikan anak memerlukan "some one" untuk berkomunikasi dan terkadang sebagai tempat untuk menyalurkan "uneg-uneg"nya. Dan jika anak sudah mendapatkan orang lain, trust kepada orang tua akan semakin lambat laun molor, sehingga suatu ketika keputusan-keputusan penting, seperti perkawinan orang tua tidak perlu lagi dilibatkan. Bahkan yang menyedihkan, pilihan agama juga banyak ditentukan oleh "mentor"nya tadi. Untung kalau mentor itu Muslim (yang betul). Kalau ternyata tidak, di situlah akan terjadi "lakum diinukum waliya diien" (dad, your religion is yours and my religion is mine). In other words, don't intervene in my business dad, mom! □