“Nyanyian Angsa” Seorang Anak Negeri
Oleh: Iwan K.

Smes Taufik Hidayat menerabas ke sisi kiri Shon Seung Mo (pemain Korea Selatan), sekaligus mengakhiri set kedua 15-7 setelah pada set pertama unggul 15-8 pada pertandingan final Olimpiade kejuaraan bulutangkis tunggal putra.
Luapan kegembiraan bercampur dengan haru dari sekitar 400 warga Indonesia yang menyaksikan langsung event itu mewarnai lapangan pertandingan. Mereka saling bersalaman, berangkulan, sementara air mata berlinang mengiringi dikibarkannya sang Merah Putih dan dikumandangkannya lagu Indonesia Raya. Satu medali emas diraih Indonesia.
"Syukur akhirnya kita mendapat medali emas dan tradisi medali Olimpiade kita langgeng hingga kini. Ini nomor bergengsi. Terima kasih Taufik," kata Agum.
Berbagai ungkapan rasa terima kasih serta pujian mengalir kepada Taufik seketika itu juga. Mulai dari Ketua Umum KONI Agum Gumelar, Ketua PBSI Sutiyoso, Dubes Indonesia di Athena Dra. Faisha Hasan, serta masyarakat Indonesia yang bermukim di Athena.
Taufik, yang baru saja genap berusia 23 tahun pada 10 agustus ini, memang pantas untuk menerima ungkapan rasa terima kasih serta pujian ini semua. Berawal dari posisi yang tidak diunggulkan, tapi dengan kerja keras dan semangat juangnya yang tinggi akhirnya dia mampu menunjukkan kelasnya sebagai pemain dunia.
Di Olimpiade 2004 ini, Taufik Hidayat memang sempat melakukan “nyanyian angsa”, sesuatu yang sangat berarti ketika merasa telah mendekati akhir. Seminggu menjelang keberangkatannya, ia mengatakan bahwa ini merupakan kesempatan terakhir kalinya. “Empat tahun lagi mungkin saya tidak akan masuk ke team utama”, begitu ungkapnya ketika itu.
Mungkin orang banyak mencibir omongannya saat itu, mengingat prestasinya yang kurang cemerlang akhir-akhir ini di dunia bulutangkis. Berawal dengan kandasnya hubungan cintanya dengan penyanyi Nola AB Three, perselisihannya dengan pelatih maupun organisasi PBSI yang sempat membuatnya hijrah ke Singapura, serta kejadian pemukulan terhadap pengendara kendaraan yang memaksa dia berurusan dengan pihak berwajib baru baru ini. Ini semua merupakan hal-hal yang ingin dituntaskan Taufik tanpa adanya tekanan dari media massa. 
Rasa pesimistis ini kian besar melanda kubu bulu tangkis Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari terlepasnya piala Thomas dari tangan Indonesia, kemelut di tubuh PBSI yakni ketua umum PBSI Chaerul Tanjung dilengserkan dan digantikan oleh Sutiyoso dan puncaknya saat kontingen olimpiade Indonesia berangkat tanpa restu langsung dari presiden Megawati. 
Yang lebih parah lagi, untuk pertamakali perjuangan atlet-atlet bulutangkis kita tidak bisa disaksikan secara langsung melalui layar televisi lokal. Stasiun televisi Trans yang biasa menyiarkan langsung pertandingan bulutangkis tidak melakukan hal itu lagi. Sementara statsiun televisi lain menganggap event ini tidak menguntungkan dari segi komersial. Tidak seperti sepakbola antarnegara Eropa.
Namun faktanya, semangat "nyanyian angsa," memberikan yang terbaik sebelum habis, mampu memotivasi Taufik mengatasi masalah-masalah tersebut. Ia mampu melewati para pemain yang dalam turnamen reguler sangat sulit dikalahkan. Wong Choon Han dari Malaysia dilibas, begitu pun lawan yang paling sulit dikalahkan, Peter Gade ditekuk di babak perempat-final. Dua lawan di semi-final dan final, Boonsak Ponsana dan Shon Seung-Mo relatif dengan mudah dikalahkan. Tapi sekali lagi, Taufik adalah tipe pemain angin-anginan, dapat bermain sangat baik namun bisa juga sangat buruk. Apalagi jika mengingat bagaimana ia bisa begitu bermain emosi dan akhirnya dikalahkan Shon Seung-Mo di Asian Games Busan 2002.
Sekarang dengan gelar juara tertinggi di tangannya, segalanya menjadi lebih mudah buat Taufik Hidayat. Bukan persoalan hadiah uang Rp 1 miliar yang dijanjikan buat peraih medali emas, namun hilangnya kendala psikologis yang selama ini menghambat Taufik dalam mempertimbangkan kembali karirnya. 
Setibanya di tanah air, Taufik sempat mengkhawatirkan masa depan para atlet. Dia prihatin karena pemerintah kurang perhatian terhadap para pensiunan olahragawan yang telah membela nama bangsa. Hal ini diungkapkannya saat bertemu dengan presiden Megawati di Istana Negara baru-baru ini. Itulah sebabnya mengapa banyak orang tua yang melarang anaknya untuk berkiprah di dunia olahraga karena tidak memberikan jaminan masa depan yang jelas.
“Pendidikan kan nggak ada batas umurnya. Tapi, kalau jadi atlet, umur 28-29 tahun sudah berhenti," ungkap Taufik. Padahal, para atlet, seperti dirinya, telah rela menghilangkan kesempatan untuk sekolah dan masa remaja demi meraih prestasi olahraga.
Taufik dipanggil presiden bersama empat atlet peraih medali Olimpiade Athena lainnya. Mereka adalah Soni Dwi Kuncoro (peraih perunggu tunggal putra bulu tangkis), Flendi Limpele dan Eng Hian (perunggu ganda bulu tangkis), serta Lisa Rumbewas (perak angkat besi). 
Namun apa pun reaksi yang akan dihadapi di tanah air, Taufik telah melakukan apa yang disebut Bee Gees dalam lagu Swan Song,
" ... this is my last chance
a chance to show the world
that i am strong..."
Taufik telah membuktikan betapa kuat dirinya. Namun di tengah paceklik gelar yang dialami dunia bulutangkis Indonesia tahun-tahun belakangan ini, mungkin lebih cocok bila kata-kata tersebut menjadi ...we are strong..." (dikutip dari berbagai sumber)