Opini:
“Seandainya Saja...“
Oleh: S. Boediono
Suatu ketika di akhir musim panas, penulis bersama seorang rekan bersantap siang menikmati Lamb Gyro (Greek food) sambil duduk-duduk diatas rumput yang cukup nyaman di depan Hilmann Library, University of Pittsburgh. Ketika kami menyantap makanan sang rekan secara spontan berujar, “Wah, coba di Jakarta ada taman yang enak dan nyaman kayak gini!”. Mendengar ungkapan polos tersebut, ingatan penulis langsung terbang beribu-ribu kilometer menuju Jakarta. Rasanya apa yang diungkapkan rekan tersebut sangat masuk akal. Semua taman di Jakarta penuh dengan pedagang kaki lima yang jorok, penuh sampah dan langsung berubah menjadi tempat menyeramkan di malam hari. Kalo nggak percaya coba aja nongkrong di taman Blok M. Pasti deh disamperin bandit atau paling ngga bencong (Kalo nongkrongnya malam)!! Itu baru Blok M belum kalo di Tanah Abang atau di Plumpang Semper di Jakarta Utara.
Taman merupakan sarana rekreasi yang murah dan nyaman kalau saja keadaan kota Jakarta tidak semrawut. Anak-anak bisa bermain dan berlari-lari sementara para orang tua juga bisa menyempatkan diri menghirup udara segar sambil berjalan kaki. Kawula muda juga bisa menjadikan taman sebagai sarana olahraga. Mengingat fasilitas olah raga untuk rakyat umum sudah semakin langka di Jakarta. Bermain sepak bola, volley atau bisa juga sebagai tempat untuk membaca buku. Semuanya masih ditambah dengan semaraknya kicau burung. Itulah gambaran yang mungkin saja kita bersama idam-idamkan. Jakarta tidak saja sudah berubah dari kota yang dulunya nyaman menjadi kota yang paling semrawut di dunia. New York City saja sebagai kota terbesar di Amerika Serikat memiliki beberapa taman yang bisa dijadikan sarana hiburan bagi warganya (salah satunya yang palin terkenal Central Park). Seperti yang sering kita saksikan di film dimana seorang Tom Hanks dan Meg Ryan bisa menikmati taman dengan nyaman dan aman (You’ve Got Mail).
Rasanya taman-taman di Jakarta sudah tidak mungkin menjadi sarana hiburan yang nyaman bagi warganya. Warung, pedagang kaki lima, bandit, tukang palak, tukang hipnotis, bencong dan lain sebagainya telah menyulap sebuah taman menjadi pasar yang ribet penuh dengan sampah. Hal tersebut makin diperparah dengan kesadaran masyarakat untuk merawat taman-taman yang sangat rendah contohnya: Apakah masyarakat bisa disiplin untuk membuang sampah hanya di tempat-tempat yang disediakan khusus, tidak merusak pagar, dan lain-lain.
Kerinduan akan kenyamanan sebuah taman hanya dapat dijadikan perbincangan bagi para warga Indonesia yang sempat hidup di luar negeri. Hyde Park, Central Park, Royal Botanic Garden dan Schenley Park selalu akan menjadi kenangan manis bagi para warga Indonesia yang sempat tinggal di London (UK), New York, Melbourne (Australia) dan Pittsburgh.