Ramadan, Idhul Fitri, dan Mr. Olajuwon
Oleh: Prof. H. Abdurrahman Mas`ud Ph.D.
Saat team basket ball Houston mengalahkan Chicago Bulls dengan kemenangan telak 108-86 di awal bulan Januari 1997, Hakeem Olajuwon (32 tahun), pemain utama Houston, lagi dalam keadaan berpuasa sebagaimana yang dialami Muslim diseluruh dunia yang sedang menjalani rukun Islam yang ketiga. Karena Hakeem bukan dalam status musafir, atau sakit, maka dia memilih berpuasa meskipun lagi berhadapan dengan raja basket Amerika, Michael Jordan. Kendatipun demikian yang terjadi adalah peristiwa indah yang tidak mudah terlupakan seperti komentar Charles Barkley: "What Mr. Olajuwon did today -- to play that well without drinking a drop of water during the game -- was the most amazing thing I've ever seen in my life."
Dengan kata lain, jika Michael Jordan sering menunjukkan permainan manis dalam mengalahkan lawan-lawannya adalah satu hal yang biasa terjadi. Tapi bahwa Hakeem dalam keadaan berpuasa lahir batin telah membuat tidak berdaya raja basket bal itu, merupakan sebuah kejutan besar. "This is indeed a big news."
Sudah pasti seperti Muslim sedunia, Hakeem adalah pecinta Nabi Muhammad saw. Lebih dari itu, Hakeem barangkali juga pengagum berat `Ali bin Abi Talib, Sahabat Muhammad, yang terkenal pendekar, cendikia, dan memiliki hobbi berpuasa. Puasa sebagai salah satu hobbi `Ali, terlihat dalam percakapan Nabi Muhammad dengan empat Sahabat terdekat seperti
berikut.
Nabi Muhammad berkata, "Ada tiga hal yang kusukai dalam kehidupan ini: bau harum (parfum), istri yang setia dan saleh, dan kekhusyukan penglihatanku tatkala bersembahyang."
Abu Bakr menjawab, "Betul ya Rasul, sayapun memiliki tiga hal yang kusenangi: melihat wajah Rasulullah, menafkahkan hartaku untuk perjuangan agamamu, serta menjadi mertua Rasulullah."
`Umar menyambung, "Betul engkau Abu Bakr, aku juga punya tiga hal yang kucintai: amar ma`ruf (memerintahkan kebaikan), nahi munkar (mencegah perbuatan keji, social control), serta mengenakan pakaian sederhana nan jauh dari
kemewahan."
Usman menyusuli pembicaraan, "Betul engkau `Umar, ada tiga hal juga yang kusayangi: memberi makan orang kelaparan hingga kenyang, mengasih pakaian orang yang membutuhkan sandang, dan membaca al-Qur'an."
Terahir Sahabat Nabi yang termuda, Sayyidina `Ali, menyempurnakan diskusi, "Betul engkau Usman, sedangkan tiga hal yang kugemari adalah menghormati tamu, bermain pedang, serta berpuasa di musim panas yang sedang
mengganas."
Memahami hobbi Sahabat Ali berpuasa di zaman Nabi di belahan pertama abad tujuh dan melihat kenyataan kehebatan Hakeem Olajuwon berlaga di lapangan basket dalam keadaan berpuasa di era internet ini, seorang Muslim semakin yakin bahwa puasa justru memilki nilai tambah, "added value," kepada pelakunya. Puasa bukanlah kegiatan diet, juga bukan upaya solidaritas sosial, "show off" kesengsaraan hidup karena kurang sandang pangan. Diet tidak memiliki makna apa-apa, dibanding dengan kebesaran berpuasa dalam Islam. Diet merupakan upaya memperlangsing diri untuk keelokan tubuh, kecantikan diri, yang dihiasi dengan keinginan membuat penampilan diri lebih "greget" supaya orang lain memberi respek lebih padanya. Dengan kata lain individualisme adalah makna akhir diet. Puasa justru memiliki makna hakiki yang berbeda. Tujuan ahir puasa adalah terciptanya manusia taqwa, yakni manusia yang lebih "care" pada penderitaan orang lain dengan lebih banyak memberi daripada menerima. Manusia taqwa adalah manusia yang seimbang kehidupan dunia dan akhiratnya, antara kehidupan peribadi, keluarga, sosial, serta kenegaraannya, serta harmonis antara emosi dan akal sehatnya.
Poin-poin yang disampaikan para pemimpin Muslim diatas menyejukkan jiwa sedemikian rupa dan menujukkan budi luhur serta kekayaan spiritual mereka. Muslim seluruh dunia yang sedang menjalani puasa tentu berkaca pada tradisi mulia para leluhur itu. Dalam Islam, meneruskan tradisi baik, atau "modeling", termasuk dalam katagori menghidupkan Sunnah Rasulullah. Sungguh tradisi puasa adalah tradisi Muhammad dan juga tradisi Nabi-Nabi sebelumnya seperti Nabi Ibrahim. Puasa sebulan penuh dalam bulan Ramadan selalu diakhiri dengan perayaan idhul fitri. Hari idhul fitri bagi umat Islam bisa dianalogikan dengan "graduation day", wisuda bagi mereka yang telah lulus dari studi dan training selama bulan Ramadan penuh. Mereka yang tulus menunaikan puasa: tekun salat tarawihnya, rajin membaca dan mengkaji ayat-ayat Tuhannya, bermunajat pada Penciptanya ditengah malam buta tatkala manusia lain lagi asyik dengan mimpinya, menggalakkan amal sosial yang berupa zakat fitrah, zakat maal serta amal-amal sosial lainnya, pasti akan merindukan puasa mendatang di tahun depan.
Kerinduan inilah yang hanya dimiliki oleh manusia beriman yang mendapatkan diploma dan degree dari Allah dalam al-Qur'an: "Muttaqin", manusia taqwa itu. Manusia berkualitas ini pulalah yang mampu menyerap wisdom sabda Rasul: "Jika umatku memahami dan mengerti makna puasa, mereka akan meminta puasa berjalan setahun penuh". Muttaqin ini sesungguhnya label dari Allah dan perwujudan dari "human perfection" dalam proses mengabdi padaNya dengan tiada henti dan tanpa pamrih. Allah memujanya dalam al-Qur'an (87:14-15):: "He is successful who grows and remembers the name of his Lord, so prays": "Sungguh beruntunglah seseorang yang berhasil menyucikan diri (dengan berpuasa dan amal sosial), mengingat dan menyebut nama Tuhannya, kemudian menegakkan salat."
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. "Selamat Hari Idhul Fitri, 1 Syawal 1417 H. Mohon maaf lahir batin".
(UCLA awal Pebruari 1997).