Bagian 2: Gap Generasi

Oleh: Syamsi Ali

 

 

    Mentor anak-anak seringkali menjadi penentu arah kehidupan sang anak ke depan. Keputusan-keputusan penting dan strategis, seperti perkawinan, dan bahkan agama, seringkali ditentukan oleh arahan mentor tadi. Kegagalan membangun "trust" orang tua pada anak menjadikan sang anak bersikap eskapistik, melarikan diri mencari tempat untuk bergantung.

     Untuk menghindari ini, selain komunikasi harus dibangun sejak sedini mungkin, juga perlu dicarikan "trik-trik" yang sesuai sehingga anak tetap menaruh "kepercayaan" dan merasa terikat secara positif dengan orang tuanya. Hal yang paling kuat untuk membangun ini adalah "cinta yang ikhlas". Cinta yang ikhlas bukan sekedar dengan "honey, love you!", dalam kenyataannya anak tidak mendapatkan perhatian secara maksimal. Dalam dunia modern masa kini, banyak sekali kepura-puraan yang terjadi. Pada event-event tertentu ungkapan cinta begitu menggebu-gebu, tapi most of the time, cinta ditempatkan digudang yang dibuka sekali setahun, mungkin pada saat "valentine day" saja.

     Anak seharusnya sejak kecil diajarkan untuk selektif dalam melakukan pergaulan. Kata "selektif" tidak berarti "diskriminatif". Selektif artinya mencari teman pergaulan yang akan memberikan manfaat kepadanya. Diskriminatif artinya memilih-milih teman berdasarkan prestise pribadi, seperti ras, warna kulit, kelas ekonomi, dan lain-lain.

     Ketidak selektifan anak dalam memilih teman pergulan, paling sensitif untuk menjatuhkannya ke dlam jeratan yang pelik. Pergaulan bebas yang tidak mengenal lagi norma-norma "moralitas", sangat rentang membawa anbak terjerumus kepada tindakan-tindakan yang menjerumuskan ke dalam amoral dan agamis sekaligus. Kalaupun tidak "hamil atau dihamilin atau menghamilin", maka besar kemungkinan akan terjadi perkawinan yang "undesirable" menurut agama Islam.

     Perkawinan yang kurang sesuai ini, seringkali pula dicarikan alasan pelarian "oh..itu kan mereka saling mencintai...". Cinta dari mana? Cinta itu turun dari mata...kata lagu klasik. Jadi sesungghnya, perkainan undesirable ini terjadi karena salah pergaulan. Salah pergaulan terjadi karena keterlembatan dalam mengarahkan pergaulan anak-anak itu.  Akibatnya, kalau kedua belah pihak (suami isteri) pun tidak ada masalah, anak-anak dan generasi masa depanlah yang semakin tidak menentu!

 

Visi global

     Dalam dunia global sekarang ini, istilah-istilah yang dulunya dibatasi oleh pembatas georafis, seperti American, western dll., sepertinya tidak lagi demikian. Pengistilahan itu lebih kepada cara pandang kehidupan (visi hidup) dan life style orang-orang. Untuk itu, pengistilahn kebarat-baratan misalnya, bukan lagi karena orang tersebut tinggal di barat. Karena boleh jadi, seseorang yang sedang dilanda kekagetan kultur di dunia lain justeru lebih kebarat-baratan ketimbang mereka yang tinggal di dunia barat.

     Untuk itu, pembentukan generasi Muslim sebenarnya tidak terlalu ditentukan lagi oleh factor geografis. Saya kira, ini sejalan dengan hadits yang mengatakan: Tiada hijrah lagi setelah Fath Makkah. Bahwa secara geografis tidak ada lagi pelarian untuk menyelamatkan keimanan dan keislaman, karena di mana saja daerah itu telah menjadi netral. Sehingga dapat dikatakan, membesarkan anak di Jakarta bukanlah sebuah jaminan untuk tumbuh menjadi Muslim yang lebih baik ketimbang dilakukan di NYC.

     Untuk itu, dalam era informasi global sekarang ini, seharusnya visi juga ikut menglobal. Dengan demikian, ketika menata masa depan generasi maka generasi yang dicita-citakan adalah generasi yang tangguh kapan dan di mana saja.

     Kalau kita perhatikan pada pertandingan atletik di olimpiade lalu, ternyata start cukup menjadi penentu menang atau kalahnya seorang peserta. Keterlambatan start membawa akibat yang cukup fatal. Hal ini disadari oleh para peserta lomba, sehingga mereka betul-betul memperhatikan start tersebut.

     Dalam hidup ini kita sedang racing (berlomba). Perlombaan antara kemnusiaan dan kesyetanan, kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan. Untuk itu, upaya untuk memenangkan kebaikan di atas keburukan, upaya menaklukkan syetan dalam perlombaan ini memerlukan start yang jitu. Maka dalam membangun generasi yang baik (zurriyah thoyyibah) memerlukan kejituan start dari awal. Keterlambatan hanya melahirkan penyesalan tak berujung.

     Hakikat ini sebenarnya sudah dijelaskan secara gamblang dalam sabda-sabda Rasulullah SAW. Berbagai sabdanya menjelaskan proses-proses persiapan generasi, mulai sejak dua anak manusia masing-masing mencari pasangan hidupnya, proses ini sudah menjadi bagian dari perencanaannya. wanita dinikahi karena empat ha¦..tapi jadikanlah syarat agama sebagai prioritas, niscaya kamu beruntung, dan nasehat Rasulullah kepada orang tua para gadis: jika datang kepadamu seseorang pemuda yang agamanya dan akhlaknya terpuji, nikahkanlah, semua ini menjelaskan proses perencanaan generasi.

     Hubungan suami isteri yang tidak didahului dengan isti adzah (memohon perlindungan Allah dari campur tangan syetan), justeru akan melibatkan syetan dalam proses pembentukan generasi tersebut. Maka disunnahkanlah doa: Ya Allah jauhkanlah kami darin syetan dan jauhkanlah syetan dari anak yang Engkau kelak rezekikan kepada kami. Tapi berapa orang yang bersabar untuk sekedar membaca doa ini?

     Di saat kehamilan, stabilisasi jiwa orang tua menjadi bagian dari proses persiapan generasi. Membaca ayat-ayat al Qur’an, dzikir, shalat-shalat sunnah, memperbanyak sholawat, semuanya disunnahkan sebagai bagian proses mempersiapkan generasi. Jiwa yang gundah, goncang selama kehamilan, kata ahli ilmu jiwa, banyak mempengaruhi kejiwaan anak yang akan lahir.

     Demikian pula ketika kelahirannya. Adzan dan Iqamah, bukanlah sebuah ritual tanpa makna. Statement adzan dan iqamah adalah recommitment untuk menjadi hamba yang hanif. Meluruskan kembali ikrar ketauhidan yang pernah setiap manusia ikrarkan ketika masih dalam rahim ibunya. Dan itu semua adalah proses membangun generasi yang baik (zurriyah thoyyibah).

     Bahkan lebih gamblang lagi, sabda Rasulullah SAW: Ajarkan shalat pada anak-anak kamu ketika berumur tujuh tahun. Jika telah berumur sepuluh tahun (tapi tidak melakukannya) maka hukumlah. Di sini dengan jelas Rasulullah menganjurkan agar proses mempersiapkan generasi ini hendaknya dilakukan sejak seawall mungkin. Bilangan tujuh adalah bilangan yang paling umum terpakai dalam istilah-istilah bilangan keagamaan. Sehingga bilangan tujuh di hadits ini tidak perlu diartikan dengan 3 + 4 = 7. Boleh jadi makna sesungguhnya adalah ajarkanlah shalat (relasi kepada Allah) seawall mungkin.

     Kegagalan melakukan start pada waktunya, sekali lagi, mendatangkan penyesalan yang besar di kemudian hari. Ini dipeparah lagi dengan realita, jika memang sudah terjadi gap komunikasi, di mana anak tumbuh menjadi remaja dalam situasi hubungan yang kurang harmonis dengan orang tuanya. Lebih tragis, anak-anak tumbuh dengan lingkungan berdikari yang terkadang tidak pada tempatnya (tidak bertanggung jawab), yang akhirnya menjadikan anak merasa lebih mampu, berilmu, memahami keadaan, dll.

     Di sinilah ditemukan, anak-anak tidak lagi menaruh respek pada orang tua. Bahkan lebih menyakitkan mendudukkan orang tua pada posisi yang tidak layak. Jika ini terjadi, maka itulah realisasi ayat Allah: Sungguh pada pasangan-pasangan kamu dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh bagimu. Show-show di berbagai TV Amerika sebenarnya gambaran realita di masyarakat. Salah satu show yang selalu menampilkan anak-anak remaja, khususnya remaja wanita yang mencari bapak bagi anaknya adalah Maury Show. Sungguh menyayat hati, anak-anak remaja itu mencari-cari bapak bagi anaknya yang terlahir dari rahimnya tanpa diketahui siapa yang telah membuahinya. Mustahilkah ini terjadi di kalangan kelurga Muslim? Dan jika ini terjadi, akan bagaimana perasaan orang tuanya?

     Start yang jitu tentu tidak cukup mengingat pertarungan antara insaniyah dan syaithaniyah bersifat terus menerus dan abadi. Untuk itu, kosnistensi dalam melakukan pengarahan atau pendidikan diperlukan. Ayat al Qur’an mur ahlaka bissolati wastobir alaiha (perintahkan keluargamu untuk shalat dan bersabarlah atasnya), secara gamblang memerintahkan perintah untuk mendidik keluarga dan anak-anak serta bersabar di jalan tersebut. Kata ’istabir’ tidak saja bermakna bersabar, tapi bermakna terus menerus konsisten dan sabar melakukannya.

     Untuk konsistensi ini, tentu bukan hanya prosesi waktu. Tapi yang lebih penting juga adalah adanya konsistensi program. Dalam 24 jam program apa yang dipersiapkan untuk anak? Dalam sepekan, apa perencanaan yang disiapkan bagi anak-anak? Tanpa program dan perencanaan, proses pendidikan itu tidak akan terarah dan hanya akan melahirkan rutinitas yang boleh jadi dianggap membosankan dan bahkan mengganggu prioritas-prioritas lainnya dalam kehidupan keluarga.

     Maka, dalam rangka program dan perencanaan ini, ilmu tentunya sangat diperlukan. Ilmu dalam Islam bukan sekedar pelengkap, tapi dasar dari segala sesuatu yang dilakukan. Mendidik anak adalah merajut masa depan kita sendiri. Untuk itu, ilmu dalam proses tersebut bukanlah sesuatu yang sepeleh. Sayang sekali, sedikit orang tua yang memiliki perbekalan keilmuan yang cukup dalam proses ini.

     Sehingga, ada ilustrasi yang cantik tentang Muslim hidup di AS ini. Mereka ibaratnya sebuah kelurga yang hidup dengan mewah dan rumah yang besar. Sayang sekali, bagian dari kemewahan membuat mereka membangun rumah atau istana di suatu tempat di pinggiran sungai yang besar. Air suangai itu deras, dan di dalamnya banyak binatang buas seperti buaya dan ular berbisa. Sehingga boleh jad, anak-anak tersebut akan keluar rumah, jatuh ke sungai dan hanyut atau tenggelam.

     Untuk itu, ada tiga alternatif bagi orang tua anak-anak mewah ini. Pertama adalah melarang mereka keluar rumah. Tapi ini pilihan yang tidak realistic karena tidak mungkin untuk terus menerus tidak meninggalkan rumah itu. Kedua adalah memagari sungai itu. Tapi sepanjang-panjang mereka pagari, sepanjang itu pula anak bisa berjalan dan jatuh. Maka pilihan ketiga adalah mereka ajari anak-anak mereka berenang. Sehingga walau mereka jatuh ke sungai, mereka akan bisa menyelamatkan diri mereka sendiri.

     Yang jadi masalah, bahwa orang tua yang diharapkan mengajarkan renang kepada anak-anaknya, juga tidak berenang. Sehingga mereka juga terancam tenggelam, begitu mereka masuk ke dalam sngai tersebut. Itu karena selam ini, meraka juga tidak pernah beusaha untuk belajar renang untuk menghadapi derasnya air sungai kehidupan ini.

     Saya yakin, ilustrasi di atas seringkali menjadi kenyataan di lapangan. Ketika anak-anak mulai memperlihatkan hal-hal yang kurang berkenang, orang tua ingin melakkan sesuatu. Tapi mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan. Hal ini disebabkan karena mereka juga tidak pernah menyelami tantangan-tantangan tersebut, bahkan kemungkinan memang kurang peduli dengannya.

     Oleh karenanya, orang tua perlu pembelajaran dan persiapan secara terus menerus. Selain belajar substansi agama, juga perlu secara terus menerus mempelajari realita kehidupan sekitarnya sehingga bisa come up dengan trik-trik yang sesuai untuk menyelamatkan anak-anaknya dari derasnya aliran sungai lingkungan hidup. Jika tidak, maka tunggulah masanya di saat anak tenggelam sedikit demi sedikit, satu persatu. (AF)