DASAR KEISLAMAN

Oleh : Hj. Betania Muflih

 

Dalam pembahasan edisi lalu mengenai kalimah syahadah, kita baru menjabarkan makna dari :

اَشْهَدُانْلاإلَهَإلآآلله

 (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), serta konsekwensi dari ke imanan kita melafazkan kalimah tersebut.

     Pada edisi kali ini, kita akan membahas kalimah yang kedua yang berbunyi :

 

وَاَشْهَدُاَنَ مُحَمّدًارََّسُولُ الله


(Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah pesuruh Allah).

Ini menyatakan suatu ke imanan bahwa Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT sebagai Rasul. Jadi kita harus meyakini bahwa apa yang disampaikan oleh Muhammad SAW kepada kita baik yang berupa ucapan (dari perintah dan larangan) ataupun contoh lewat perbuatan, harus kita lakukan dan patuhi, sebab itu semua bukan karangan dari beliau, melainkan perintah atau larangan dari Allah SWT yang disampaikan melalui Rasul Nya.

Kita juga harus beribadah dan menyembah Allah SWT sesuai yang dijelaskan oleh Rasululloh SAW.

     Beberapa ayat Al-Qur’an yang ditulis tafsirnya di bawah ini akan lebih memperjelas dan memperkuat keterangan di atas.

Allah berfirman ( 59:7 ):

 

مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

 

“Apa-apa yang Rasul (Muhammad SAW) menyuruh kamu sekalian untuk mengerjakannya maka lakukanlah dan apa-apa yang ia melarang kamu sekalian untuk dikerjakan maka tinggalkanlah”.

Firman yang lain ( 3:32 ) :

 

قُلْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ فإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

 

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada kaum muslimin), Taatilah Allah dan taati Rasul (Muhammad SAW)”.

Juga pada surah ( 3:31 ):

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 

“Katakan (wahai Muhammad) kalau kalian semua benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku maka Allah akan mencintai kalian semua”.

     Dari ayat-ayat yang ditulis tafsirnya tersebut kita memahami bahwa Rasululloh diutus oleh Allah SWT untuk menyeru kepada apa-apa yang Allah perintahkan dan mencegah akan apa-apa yang Allah SWT larang jadi beliau tidak mengada-ada sama sekali

Allah berfirman  yang tafsir nya :

“Dan tidaklah ia (Muhammad SAW) berkata menurut hawa nafsunya melainkan apa yang disampaikan itu adalah wahyu yang diwahyukan/

diturunkan Allah SWT padanya”.

 

Firman Allah lagi (7:188)


قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

 

“Katakan (wahai Muhammad) aku tidak memiliki manfaat atau tidak pula mudarat kecuali apa-apa yang dikehendaki Allah, kalau aku memiliki pengetahuan tentang hal-hal ghaib, pastilah aku akan memperbanyak kekayaan bagi diriku sendiri dan aku tidak akan tertimpa suatu bencana, (aku bukanlah yang demikian) tiada lain aku ini hanyalah pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Jadi cinta sejati kepada Rasululloh adalah terletak pada ketaatan kita pada beliau, dan sekali-kali kita tidak memohon apa-apa dari beliau.

Rasulullah SAW bersabda  (HR. Tarmizi) :

“Apabila kamu meminta, maka mintalah pada Allah dan apabila kamu memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan dari Allah”.

Salah satu do’a yang sering diucapkan Rasululloh adalah (HR. Tarmizi) :

“Wahai Zat yang maha hidup, wahai Zat yang maha abadi (Allah) dengan rahmatMu aku mohon pertolongan”.

     Demikianlah, Allah mengutus Muhammad SAW supaya kita mengikuti dan menjadikan beliau teladan yang harus kita contoh.

Allah SWT berfirman ( 60:6 ) :


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

 

“Sungguh bagimu sekalian dalam diri Rasululloh SAW terdapat suri tauladan, bagi siapa saja yang mengharap Allah dan hari kemudian”.