“SAFARI RAMADHAN” DR. Miftah Faridl
Oleh: Hanna
Nurhasna Miftah
Dalam rangka 1st Annual
Safari Ramadhan
ICMI North
America 1427 H/2006, DR.
Miftah Faridl telah diberikan
kehormatan untuk berkeliling
ke beberapa kota di Amerika
Serikat, memberikan ceramah
mengenai berbagai topik
seputar Islam. Saya biasa memanggilnya
Bapa. Berikut
penuturan saya tentang perjalanan
Bapa dan keluarga
selama Safari Ramadhan, dari
sudut pandang saya yang berkesempatan
mendampinginya
selama lawatan.
Bapak dan Ibu Miftah Faridl sampai di kota Los Angeles di Hari Minggu 15 Oktober 2006, setelah telat 2 hari, dari jadwal yang direncanakan. Untuk membayar “hutang” ceramah yang tertunda, Bapa langsung menyempatkan untuk mampir ke konsulat Jenderal RI di Los Angeles, memberikan siraman rohani pertamanya. Tidak kurang dari lima hari Bapa dan keluarga menghabiskan waktu di Los Angeles, berceramah dan berbuka puasa bersama masyarakat Indonesia di LA dan sekitarnya serta memberikan siraman rohani di Masjid KJRI, mengisi hari-hari terakhir bulan Ramadhan sampai akhirnya perjalanan dilanjutkan ke kota sang penyelenggara lawatan, Houston, Texas.
|
|
Tanpa mengecilkan antusiasme kota-kota yang lain, dapat dikatakan disinilah puncak hajatan Safari Ramadhan berlangsung. Selain memberikan kotbah Ied, Bapa juga memberikan rangkaian ceramah dalam rangka pesantren kilat selama 2 hari. Jadwal Bapa cukup padat, namun mengingat Houston adalah kota pertama kami, Bapa terlihat tampil dengan optimal. Masyarakat Indonesia yang datang juga cukup banyak, malah tidak sedikit yang sengaja datang dari Dallas untuk mengikuti ceramah dan khusu-nya Shalat Ied di konsulat Houston. Ada yang mengatakan bahwa Shalat Ied kali ini adalah Shalat Ied yang istimewa. Kenapa? Karena shalat ied kali ini menjadi shalat ied yang paling bisa meredam ributnya anak-anak berlalu-lalang dan ibu-ibu yang “sibuk” mengobrol pada saat khotbah.
Kota kedua yang disinggahi selama Safari Ramadhan di Texas adalah Dallas. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 3 jam, melalui tranportasi darat dengan cuaca yang cukup dingin. Di Dallas Bapa memberikan ceramah disebuah masjid yang jamaahnya campuran masyarakat asal Indonesia dan Malaysia. Jemaah yang datang tidak terlalu banyak, karena saat itu adalah hari kerja. Selama 4 hari 3 malam di Dallas, kami memang menginap di rumah salah satu masyarakat Indonesia yang berada disana. Kegiatan ceramah Bapak diadakan dari rumah ke rumah, membahas dan berdiskusi mengenai berbagai topik dari pagi hingga malam hari. Setiap ceramah Jemaah yang datang tidak kurang dari 70 orang. Mereka sangat mendambakan dan menikmati siraman rohani dari bapak. kami merasa lebih dekat, seperti saudara sendiri karena hampir setiap harinya kami bertemu dengan jemaah yang sama dengan suasana kekeluargaan yang hangat.
Safari dilanjutkan dengan mengunjungi kota-kota di Pantai Timur Amerika. First Stop adalah NewYork, kota terbesar di EastCost sekaligus terbesar di Amerika. kami tiba di NewYork pada Jumat sore tanggal 27 Oktober. Disana kami dijemput oleh Ustad Syamsi Ali, seorang Imam yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat muslim Amerika. Di NewYork kami menginap di PTRI, tempat Pak Syamsi Ali bekerja. Di kota ini, Bapak diberikan kesempatan untuk berceramah sebanyak 2 kali, pada Hari Sabtu dan Minggu di Masjid Al Hikmah, yang memang milik warga Indonesia yang berada disana. Jumlah jemaah yang datang sangat banyak, mayoritas adalah Ibu-ibu yang telah berkeluarga. Pada kesempatan berceramah di kota Ini Bapak tampil sangat maksimal. Tidak hentihentinya jemaah bertanya seputar masalah keluarga, pernikahan beda agama, perceraian, dan talak dari sudut pandang Islam. Sampai- sampai ada seorang Ibu yang ngotot minta nomor cellphone saya dengan alasan ingin segera berkonsultasi dengan lebih pribadi dengan Bapak. Di hari kedua jemaah yang datang ternyata lebih banyak lagi. Antusiasme masyarakat muslim Indonesia di New York sangat tinggi, hingga tidak sedikit yang meminta Bapa untuk hadir lagi disana tahun depan.
Senin pagi berikutnya, kami sekeluarga berangkat menuju St. Louis, Missouri. Lagi-lagi kami disambut dengan udara yang dingin sekitar 30ºF. Dini hari esok harinya, kami sekeluarga menuju Washington DC., kota terakhir yang dikunjungi dalam rangka Safari Ramadhan tahun Ini. Rupanya udara dingin senantiasa menyertai kunjungan kami di kotakota EastCoast. Walupun baju yang kami kenakan sudah cukup tebal, kami tetap merasa kedinginan sesampainya di Bandara Ronald Reagan, Washington DC.
Di ibu kota negeri Paman Sam Ini kami menginap di kediaman Wakil Duta Besar Indonesia di AS. Kami dijamu cukup mewah, bak tamu istimewa. Kami juga diberi fasilitas kendaraan pribadi lengkap dengan pengendaranya yang siap sedia mengantar kami. Kesempatan ini kami manfaatkan untuk mengunjungi tempat- tempat bersejarah yang ada di kota Washington. Namun sayangnya, sepertinya hanya saya saja yang begitu menikmati pemandangan kota Washington dari dalam mobil, karena Bapak dan Ibu seringkali tertidur karena begitu lelah dalam rangkaian perjalanan Safari Ramadhan ini.
Diluar kegiatan ceramah Kami menyempatkan untuk mengunjungi sebuah kawasan di kota Ini, dimana hampir di sepanjang jalan terdapat banyak sekali museum yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang menarik. Kami sempat masuk ke salah satu museum, serta mengabadikan foto-foto di kawasan tersebut. Rupanya karena udara yang begitu dingin Bapak minta segera pulang. Persiapan pa-kaian kami memang terbatas, bukan coat panjang atau baju-baju tebal khas musim dingin yang kami kenakan. Di kota ini, Bapak diberikan kesempatan untuk memberikan ceramah sebanyak tiga kali. Dua diantaranya di kediaman seorang warga Indonesia dan sekali di Kedutaan Besar RI Washington DC.
Dalam Safari Ramadhan ini, saya menyimpulkan bahwa hampir semua jemaah di berbagai kota di Amerika sangat antusias dalam mendengarkan ceramah seputar membina keluarga yang sakinah. Terbukti dari banyaknya pertanyaan yang diajukan para jemaah baik dalam forum maupun secara pribadi. Beberapa pertanyaan terlontar sama, diantaranya seputar hak kaum wanita untuk mengeluarkan uang, talak dalam pernikahan, dan rangkaian cara bijak dalam membesarkan anak di lingkungan sekuler seperti di Amerika. Bagi saya pribadi, Bulan Ramadhan tahun ini menjadi salah satu Ramadhan terindah, ter-favorit, dan tak terlupakan. Selain diberi kesempatan untuk berjalanjalan keliling beberapa kota, saya juga jadi lebih mengenal masyarakat muslim asal Indonesia di berbagai state yang ada, dan dapat belajar untuk bisa menjadi seorang muslim yang baik di negara sekuler. Sangat memberikan pencerahan, terutama ketika melihat bagaimana umat kita menjadi begitu khidmat dan antusias dalam usaha memperkuat imannya. Semakin saya rasakan kuatnya ukhuwah islamiah antar muslim di Amerika, meskipun terkadang satu sama lain baru mengenal. Selayaknya karena memang setiap muslim adalah bersaudara. Bukankah begitu?
Hanna Nurhasna, anak keempat dari Bapak dan Ibu
Miftah Faridl.