Legenda Langit Jakarta
Oleh: Agusti Anwar

Apabila anda tinggal di Jakarta, punya anak kecil atau keponakan, ajaklah mereka keluar rumah dan menatap ke langit. Tanyakanlah apa warna langit dan yang mana itu awan.

Anak-anak kita mungkin masih akan tahu bahwa langit berwarna biru, sedangkan awan berwarna putih, yang menggumpal di angkasa. Namun, jangan heran bahwa mereka tidak akan bisa betul-betul menunjukkan langit biru itu atau awan-awan yang berarak. Yang ada hanyalah permukaan angkasa yang seolah berkabut, selimut warna mendung atau warna biru gelap tipis yang keabu-abuan. Itulah langit Jakarta!

Kalau pun anak-anak kita tahu bahwa langit berwarna biru, pengetahuan itu bukanlah hasil alamiah yang diperoleh karena memandangkan wajah ke angkasa. Mereka tahu itu karena diberitahu, bukan karena tahu sendiri, apakah karena pelajaran di sekolah, gambar-gambar majalah atau tanyangan acara televisi. Kalau tidak pun, pasti karena kunjungan ke daerah lain yang berlangit sangat biru terang dengan semarak gumpalan awan kumulus yang berarak. Atau justru karena pergi berlibur dan menatap keluar dari jendela pesawat, sehingga terpamerlah hamparan permadani awan yang tersangat luas itu, yang membuat hati seakan ingin mengambang di atasnya bagaikan para dewa.

Polusi udara, kata anda, tentu saja menjadi sebabnya. Semakin hari sepertinya semakin sulit mencari di mana awanawan putih dan langit biru itu berada. Selimut udara karbon monoksida (CO) yang semakin menebal, telah menjadi pembatas jauhnya pandangan mata. Yang terlihat hanyalah suasana berkabut atau selalu mendung, ketika udara tetap terasa panas. Bahkan matahari yang semestinya bulat terang dan menatap nyalang itu, menjadi tersamar dari kejauhan. Menurut data survei UNDP yang juga dirujuk Gubernur DKI Sutiyoso, di kota Jakarta penyumbang terbesar selimut polusi, 80%, adalah semburan asap pembakaran mesin kendaraan. Menurut sumber data yang sama, 20% pencemaran udara yang berasal dari asap industri; pabrik-pabrik itu. Selimut kabut yang mengurung gerak nafas warga Jakarta itu bukanlah kabut embun yang membawa partikel udara segar yang penuh oksigen seperti di wilayah pegunungan.

Selimut kabut itu adalah kombinasi partikel racun udara, apakah karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur oksida atau hidrokarbon. Pohon-pohon taman kota yang semestinya dapat menjadi paru-paru penyedia O2, sudah semakin langka di sekitar kota, dikalahkan oleh pembangunan gedung-gedung. Ironisnya kendaraan bermotor yang sudah melampaui daya tampung kota, masih terus bertambah . Kondisi asimestris semakin buruk, sehingga birunya langit pun sudah tak terlihat. Sudah menjadi pemandangan rutin bagi warga Jakarta bermanuvernya bis-bis kota dengan semburan hitam asap knalpot, persis seperti cumi-cumi yang menyemburkan tintanya. Mobil- mobil pribadi dan sepeda motor kita yang menyemut, melengkapi urutan penyumbang polusi kota, di tambah pabrik-pabrik industrial itu. Para perokok? Mereka memang dapat meracuni paru-paru sendiri dan mengganggu pernapasan orang lain. Namun terlepas suka atau tidak mereka bukanlah penyumbang kabut polusi kota.

Berbagai langkah ingin dilakukan untuk mengatasi polusi yang semakin buruk ini. Apa pun rencana itu pasti memiliki nilai positif, apabila dilaksanakan dengan baik. Namun, ketika semakin hari langit biru dan awan berarak semakin menjadi legenda, pastilah seluruh rencana tadi masih tetap tinggal rencana, atau, paling tidak masih belum terlaksana dengan baik. Sampai saat ini, Jakarta masih tetap diurutan ke-3 bersama-sama Chong qing (Cina) dari daftar panjang kota-kota dunia yang berpolusi tinggi, setelah Katmandu dan New Delhi .

Adakah harapan bagi program langit biru (blue-sky program) untuk Jakarta? Amerika Serikat menerapkan Clean Air Act 1990 yang telah berulangkali diamandemen demi menciptakan lingkungan bebas polusi. Tentu tidak mudah, bahkan untuk negara semaju AS pun. Namun, banyak kotakota besar di dunia yang berhasil membersihkan udaranya. Kota-kota di Jepang dan Eropa tergolong cukup suskses dalam program ini. Bahkan Beijing, yang sampai awal 2001 masih diselimuti kabut polusi seperti Jakarta, telah berubah memiliki langit yang biru.

Saya ingat waktu pertama ke Ibukota RRC itu, di paruh awal tahun 2000. Jakarta di tahun yang sama masih sering punya langit dan awan. Ketika melihat ke atas atau memandang jauh, Beijing selalu seakan diliput suasana berkabut. Mula-mula tidak begitu saya perhatikan dan menganggapnya sebagai hal biasa. Toh kendaraan bermotor tidak sebersemut di Jakarta, sepeda motor pun tak ada. Yang jelas banyak adalah pabrik-pabrik industri yang bertebaran di berbagai bagian kota, Ternyata, itulah biang kerok utama kabut polusi ibukota si negeri tirai bambu.

Seperti ucapan optimis seorang teman diplomat, “The Chinese, if they put their mind to it, they can practically achieve anything”. Lantas, RRC pun berambisi menjadi tuan rumah Olimpiade 2008 dan udara bersih merupakan persyaratan yang tidak dapat ditawar. Akibatanya, demi membawa perhatian dunia ke Beijing di tahun 2008, polusi diperangi secara habis-habisan. Karena sistem politik yang masih komunis, langkah2 membasmi polusi tidak terlalu sulit dilakukan. Pabrik-pabrik di dalam kota digusur dan dipindah jauh ke lingkar kota terluar, agar kepulan asapnya tidak mengganggu udara. Program penghijauan dilakukan besar-besaran, tentu bersamaan dengan kendali ketat terhadap asap emisi kendaraan bermotor. Karena banyak bis kotanya yang digerakkan dengan listrik layaknya trem, bis-bis kota sejenis metromini, kopaja, PPD dan sejenisnya, tidak menjadi penyembur asap nomor satu. Ketika RRC akhirnya memenangkan pemilihan tuan rumah Olimpiade 2008 pada Juli 2001, udara Beijing memang telah berubah. Di musim semi dan musim panas yang cerah, langit tampak sangat biru dan gumpalan-gumpalan awan rendah maupun awan tinggi berarak lembut karena ditiup angin. Sementara Jakarta, semakin tahun semakin kalah ditaklukkan oleh polusi.

Untuk Jakarta, hampir tidak ada satu cara pun yang efektif melawan polusi selain mengatasi sumber utama polusi karena emisi kendaraan bermotor. Menurut pakar lingkungan upaya menanam pohon lebih banyak dengan memperluas ruang terbuka hijau (RTH) bukan merupakan solusi yang realistis. Mengingat tingkat polusi Jakarta, maka diperlukan 80% dari keseluruhan lahan kota untuk RTH, baru langkah itu efektif.

Para pakar memperhatikan bahwa pendekatan ekologis dengan memperhatikan pemilihan disain, letak, dan jenis tanaman dalam RTH, memberikan pengaruh penting, hanya saja, saat ini peruntukan lahan untuk wilayah hijau di DKI hanya seluas 13% dengan target capaian tahun 2010, sedangkan yang telah dicapai baru sekitar 9%. Ketika setiap hari yang terlihat di lapangan adalah pembangunan berbagai gedung dan mal baru, bisa jadi penetapan terget yang rendah ini pun, apalagi kalau harus 80%, masih akan jauh dari harapan.

Artinya, selain pentingnya terus bergiat memperluas paru-paru kota, apabila sumber polutan dari kendaraan bermotor yang sudah sangat melampaui daya tampung kota itu tidak diatasi, melalui penyediaan alternatif kendaraan umum anti-polusi (trem monorail) pembatasan jumlah pemilikian kendaraan pribadi, pengontrolan emisi, pengendalian polusi industri dan lain2, maka peluang bagi anak-anak Jakarta untuk dapat melihat langit yang biru dan awan-awan yang berarak jelas akan tetap semakin kecil.

Tak usahlah disebut lagi soal urutan panjang jenis-jenis penyakit dan kelainan yang ditimbulkan oleh hirupan Dari hal 2 LEGENDA LANGIT .. Allah kenapa aku diuji? Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan “kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-Ankabut 2-3) Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia (Allah) mengetahui orangorang yang dusta.

R E N U N G A N karbon secara reguler bagi warga kota, karena pasti semua sudah sangat tahu [termasuk Menteri Kesehatan], meskipun tidak berarti ada perubahan. Saya hanya sedih bahwa putra-putri atau keponakan kita yang masih kecil dan tinggal di Jakarta semakin lupa mengenai warna langit dan bentuk awan, karena memang tidak biasa melihatnya sebagai sebuah bagian alam yang ada sehari- hari. Sebab, semua itu telah pindah tempat ke rubrik mitos atau legenda perkotaan dalam buku cerita anak, yang teksnya dimulai dengan kata-kata, “Once upon a time…..”

Agusti Anwar Jakarta, 22 September 2006