Happy Ied, Selamat Merayakan Kemenangan Atas Diri Sendiri
Oleh: Prof. Abdurrahman Mas`ud, Ph.D.
Puasa adalah ajang sekaligus proses pendidikan yang ‘sophisticated’, canggih tapi merupakan kebutuhan dasar manusia untuk menempa diri dan mengantarkannya sebagai manusia berkualitas dihadapan Allah dan manusia. Puasa seharusnya mampu mengembalikan manusia pada fitrah sucinya, yakni sebagai makhluq yang ‘civilized’, berbudaya dan berperadaban mulia dan tinggi dalam arti yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu istilah yang didengungkan setiap lebaran, sebagai penutup Ramadan, adalah “MINAL AIDIN AL FAIZIN al-Maqbulin kulla am wa antum bikhairin”, yang berarti “semoga kita semua termasuk orang-orang yang kembali (pada Allah atau jati diri suci) memperoleh kemenangan (keberuntungan), yang diterima Allah, setiap tahun semoga anda semua dalam kebajikan.”
Hari idul fitri bagi umat Islam sekaligus merupakan “graduation day” : Hari perayaan wisuda bagi mereka yang telah lulus dari studi dan training berat selama Ramadan penuh. Bagi mereka yang tulus menunaikan puasa: tekun salat tarawihnya, rajin membaca dan mengkaji ayat-ayat Tuhannya, berdmunajat pada penciptanya ditengah malam tatkala manusia lain asyik dengan bantalnya, amal sosial yang berupa zakat fitrah, zakat maal serta amal-amal sosial lainnya, pasti akan merindukan puasa akan datang lagi di tahun depan, RAMADAN DATANGLAH KEMBALI. Kerinduan semacam inilah yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman yang mendapatkan diploma dan gelar dari Allah : Muttaqin.
Manusia yang beriman ini pulalah yang mampu menghayati sabda Rasul: “Jika umatku memahami dan mengerti makna puasa, mereka akan meminta puasa berjalan setahun penuh”. Biasanya jika penulis memperoleh kesempatan untuk berkhutbah di bumi Hollywood khatib menambahkan, “Bagi mereka yang berpura-pura mengikuti training puasa” silahkan pura-pura ikut diwisuda. (alias please stop pretending). Bagi kita wisudawan-wisudawati Ramadan, tidak ada alaternatif lain kecuali mengikuti petunjuk al-Quran dan Sunnah Rasul.
Siapakah alumni Ramadan peraih iman-taqwa ini: Allah mengisyaratkan dalam al-Quran : Mereka adalah orang orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit orang yang menahan amarahnya (control their anger), dan memaafkan kesalahan orang lain lahir dan batin (forgiving). Dan Apabila mereka mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (al-Imran 133-134).
Iman pada Allah harus disertai dengan amal shaleh, tindakan nyata. Bohong besar mereka yang mengaku Islam secara politis, tapi tingkah lakunya tidak mencerminkan manusia beriman. Dalam sejarah Islam juga dalam al-Quran hanya ada tiga tipe manusia di jagat ini: yakni orang yang beriman, Islam KTP atau munafik, serta non-Muslim. Yang pertama dan ketiga mudah dilihat, tapi yang kedua justru yang membingungkan. Orang Munafik berkulit luar Muslim tapi menganggap Islam hanya sebagai agama ritual, salat dipandang senam aerobik, puasa adalah solidaritas kemiskinan, hajji adalah pra-Summer vacation atau wisata massal, zakat dalam rangka pamer kekayaan. Oleh karena itu zakat jika kepergok terpaksa saja. Tapi apabila kafilah berlalu: uang rakyat adalah kekayaan raja. Atau dalam istilah yanglucu, di negeri kepulauan kita berkembang budaya BOB ASU (biar orang lain bunting asal aku untung), bukankah itu budaya jahiliyyah. ”Ya Allah jauhkanlah kami Muslimin Muslimat ini dari sifat-sifat yang tidak terpuji sebagaimana doa Rasul”: “Ya Allah kami mohon perlindunganmu dari sedih dan menderita, dari sifat penakut dan kikir atau bakhil, dari sifat lemah dihadapan kafir, dari hutang yang berlipat ganda, serta dari perbuatan semena-semena dan ketidak adilan”.
Muslimin Muslimat yang berbahagia, Islam memang mengajarkan solidaritas dan toleransi yang luar biasa demi kehidupan umat manusia yang damai dan sentosa. Lihat saja dimana Islam kuasa, disitu kehidupan kemasyarakatan yang adil dan beradab selalu ditegakkan. Lihat majoritas di Mesir, non Muslim damai, lihat tatkala Islam berkuasa di India, Ratusan juta manusia damai, tapi saat ini Islam tertindas di india, Lihat mayoritas Muslim Indonesia, Malaysia, dan negara Asia yang mayoritas Muslim penduduknya. Mereka hidup mesra-mesraan dengan non-Muslim. Kehidupan Muslim yang yang damai inilah, hususnya Indonesia, yang sering dilupakan media Barat. Bacalah sejarah tatkala Rasulullah menjadi pemimpin negara yang mayoritas Islam di Medinah, kaum protestan, Yahudi dari Aus dan Khazraj hidup damai dibawah naungan kebijaksanaan Rasulullaah. Inilah “baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur” model Islam yang harus dilihat dunia. Model Indonesia dengan mayoritas Muslim tapi menegakkan demokrasi, pluralisme, egalitarianisme inilah yang menurut seorang professor di German, Bassam Tibi, disebut sebagai “Indonesia, a Model for the Islamic Civilization in Transition to the 21st century”.
Dengan ajaran Ramadan, idul Fitri, sudah seharusnya kita memperkokoh diri. Menagapa Umat Islam sejak zaman Nabi abad ke tujuh sampai abad ke lima belas menguasai dunia. Jawabannya bias disederhanakan: “mereka begitu konsisten dengan ajaran-ajaran Nabi.” Serta kreatif mendialogkan dengan perkembangan zaman”. Marilah kita kembali ke ajaran-ajaran Islam, kembali ke Fitrah Islam: Idul Fitri. Dalam Islam setiap manusia mempunyai peran.
1- Orang tua disuruh menyintai Anak muda.
2- Anak muda menghormati yang tua
3- Suami harus menjadi model keluarga yang terbaik: “Khairukum khairukum liahlihi, awa ana khairukum liahli.”
4- Istri terbaik adalah yang bisa mendidik anak serta menjaga dirinya dan hartanya: “Tahfazu gaibaka fi nafsiha wa maliha”.
5- Ulama dan cendikiawan harus menyumbangkan ilmunya, atau “ilmu al-ulama”.
6- Pemimpin harus adil dan bijaksana “adlul umara”.
7- orang kaya harus dermawan “sakhawatul aghniya”.
8- Orang fakir miskin harus menyumbang doanya . “Dua`ul fuqara mustajabun” .
Sebagai penutup marilah kita berdoa bersama:
Allahumma Ya Allah, jadikanlah idul fitri ini menjadi hari yang membawa barakah, rahmah, yakni momen yang membawa manfaat bagi kami, bagi masa depan bangsa kami yang sedang membangun untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran.Allahumma Ya Allah, Jadikanlah bangsa kami menjadi bangsa yang beriman, berkarya produktif bagi kepentingan bersama yang tengah berjuang mengatasi segala tantangan menuju masyarakat yang adil- makmur dan makmur yang berkeadilan.
Allahumma Ya Allah, Kokohkanlah kesatuan dan persatuan bangsa kami yang majmuk, hindarkanlah kami dari perpecahan yang hanya akan membawa bencana malapetaka pertumbhan darah. Allahumma Ya Allah, Bimbinglah para pemimpin kami dengan Kabinet barunya di daerah, pusat dan di luar negeri agar mampu memimpin dengan keimanan, ketakwaan, kearifan yang akan menjamin tercapainya pembangunan lahir batin. Ilahi anta maqsudi wa ridlaka mathlubi: Ya Allah Engkaulah tujuan ahir kami, Ridlo-Mulah satu-satunya dambaan kami, ampunilah dan kasih sayangilah kami, kabulkanlah pinta kami. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina azabannar.
Al-Faqir Ila Rahmati Rabbihi, Newport Rhode Island, 21 Oktober 2004
(Direktur Pasca Sarjana IAIN Walisongo, sedang mengajar di Universitas Katolik, Salve Regina University, Rhode Island)