Catatan Kecil
Menyambut Hari Lebaran
Oleh: Wisnu Boediono
Lebaran sudah diambang pintu. Tak terasa sudah hampir satu bulan umat Islam menunaikan ibadah puasa dan amal-amal soleh lainnya. Tak terasa pula, satu tahun telah berlalu dari bulan puasa tahun yang lalu. Bagi umat Islam yang menunaikan ibadah puasa di negeri orang, khususnya di negara yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam, tentunya mengalami pengalaman yang berbeda dengan saudara-saudara dan kawan-kawan yang berpuasa di tanah air.
Rasa haru, gembira dan sedikit rasa sedih bercampur di sanubari penulis. Keharuan ini timbul karena rasa kangen akan tanah air, adanya rasa rindu akan momen-momen seperti: ngabuburit (menunggu saat berbuka) sambil jalan-jalan santai, shalat tarawih di masjid (ajang beribadah dan juga silaturahmi dengan kawan-kawan), suasana malam takbiran berkeliling kota, maupun berbelanja keperluan lebaran. Beruntung karena di Los Angeles ini pihak pengajian-pengajian di Los Angeles dan konsulat banyak mengadakan buka puasa bersama, dan acara yang lain. Rasa kangen sedikit terobati dengan menikmati hidangan kolak yang tersedia, dan canda tawa bersama masyarakat Indonesia yang lain. Rasa gembira karena hari kemenangan telah menunggu, dan sedikit rasa sedih karena mengingat banyaknya waktu yang terbuang tanpa beribadah, mengingat bulan puasa adalah bulan penuh berkah, rahmat dan
ampunan.
Bagi para kawula muda khususnya, berpuasa di negeri Paman Sam ini, tentunya memiliki tantangan tersendiri. Banyak kawan-kawan dari negeri lain yang senantiasa menawarkan makanan, minuman, dan bahkan hal-hal lain yang bisa membatalkan puasa. Dalam hal ini, tentunya mereka tidak bisa disalahkan mengingat adanya perbedaan kepercayaan,kebudayaan, dan mungkin saja mereka tidak tahu kalau kita sedang berpuasa. Namun tantangan-tantangan ini mungkin bisa memberikan pengalaman tersendiri yang akan menjadi hiasan memori di masa yang akan datang.
Bagi orang awam dalam masalah agama seperti saya, lebaran juga bisa berarti bahwa setahun telah berlalu. Ada yang beranggapan waktu berjalan demikian cepat. Ada juga yang merasa bahwa waktu berjalan dengan lambat. Apapun yang terjadi, waktu terus berjalan. Kadang-kadang penulis merasa bahwa apakah bulan puasa ini sudah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Sesaat teringat apa saja yang sudah dikerjakan, dan apa saja yang sebaiknya dikerjakan. Jika terus menerus mengingat kelemahan yang ada nanti bisa pusing sendiri. Maka dari itu penulis mencoba start small, dan pelan-pelan menambah / memperbaiki hal-hal yang sebaiknya dikerjakan. Shalat sunnah, shalat tasbih, dzikir, shalawat, asmaul husna, ataupun meningkatkan silaturahmi dan berbuat kebaikan/menolong siapa saja tanpa memandang kepercayaan dan bangsa adalah beberapa contoh hal-hal yang bisa dikerjakan sehari-hari. Penulis sadar bahwa untuk memulai segala sesuatu haruslah dilandasi dengan niat yang baik. Momen lebaran mungkin bisa digunakan sebagai titik tolak untuk memulai small steps untuk perbaikan diri, mengingat pada saat itu kita diharapkan kembali dalam keadaan fitrah, bersih, dan siap memulai lembaran baru dalam kehidupan. Sambutlah hari lebaran dengan senyuman. Senyuman dengan secercah harapan agar jika Allah Swt mengijinkan, mudah-mudahan hari esok kita akan penuh dengan keceriaan, kebahagiaan, aman dan sejahtera. Jika boleh, penulis ingin sedikit berpesan agar kawula muda hendaknya memuji diri sendiri untuk perbaikan diri yang telah dilakukan, dengan harapan agar kita selalu terpacu untuk memperbaiki diri dan memelihara persaudaran dengan sesama umat muslim, maupun dengan siapa saja tanpa memandang agama, bangsa dan faktor-faktor pembeda lainnya.