Melanjutkan Ruh Ramadhan
Oleh: Abu Tajuddin
Berlinanganlah air mata para shahabat ketika Nabiullah Muhammad SAW mengingatkan bahwa sebentar lagi Ramadhan akan segera meninggalkannya, dan mereka sadar bahwa tidak ada jaminan mereka akan bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Para shabahat sudah sangat menjiwai arti dan makna syahru Ramadhan itu bagi diri mereka, karena tiada satupun bulan yang memiliki keberkahan yang luar biasa kecuali Ramadhan itu sendiri. Di dalamnya terdapat kerahmatan, dan ampunan Allah pun terbuka lebar, serta janji Allah akan membebaskan dari api
neraka.
Al Quran yang merupakan petunjuk bagi manusia, penjelasan dari petujuk itu, serta pembeda dari yang haq dan yang bathil, juga diturunkan Allah pada bulan Ramadhan. Masih ditambah lagi adanya Lail al Qadr atau malam yang lebih mulia dari 1000 bulan. Dan masih banyak lagi yang lain. Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallahu Allahu
Akbar.
Sangat beruntunglah kita sebagai ummat pengikut Nabi Muhammad SAW., karena sangat besar kemungkinkannya untuk bisa menikmati segala fasilitas dan kemudahan yang diberikan oleh Allah Azza wa Jalla tersebut di atas.
Dengan Ramadhan yang telah kita lalui belum lama ini hendaklah dapat menjadikan dan merubah diri kita lebih baik dari sebelumnya. Yang pasti adalah melatih kita untuk berpuasa selama sebulan penuh. Kemudian tiada lagi kata kesiangan dalam melaksanakan shalat Subuh dan membiasakan ‘qiyamul lail’ (shalat malam) secara berjamaah yang diistilahkan dengan shalat Tarawih. Mengisi waktu luang dengan tilawah al Quran (bagi yang telah dapat membaca) dan membaca buku-buku yang berkaitan erat dengan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT. serta meningkatkan frekuensi dalam bersilaturahmi dengan sesama muslim dalam acara ifthar berbuka bersama yang dilanjutkan dengan shalat fardhu (Maghrib & Isya) dan Tarawih berjamaah. Bahkan menyempatkan diri untuk mentadaburi (mempelajari) al Quran ketika usai shalat
Tarawih.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu masjid daripada masjid-masjid Allah, mereka membaca al Quran dan mentadaburinya, kecuali turun kepada mereka ketentraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut makhluk yang ada di sisi-Nya.”
(HR.Muslim)
Modal awal yang telah kita miliki dari bulan Ramadhan yang baru berlalu itu hendaklah jangan disia-siakan begitu saja. Karena setelah Ramadhan adalah bulan Syawwal yang artinya bulan ‘peningkatan’. Maka tibalah saatnya untuk mengimplementasi apa-apa yang telah kita latih selama satu bulan. Setidak-tidaknya ada beberapa hal yang pantang kita tinggalkan dan harus kita lanjutkan serta
pertahankan.
Pertama, memperkokoh keimanan kepada Allah SWT menjadi target utama keberhasilan ibadah Ramadhan, yang dalam firman-Nya disebutkan dengan “…agar kamu bertakwa.” Itu sebabnya ketika Ramadhan berakhir, kita menyeru dengan takbir, tahlil, dan tahmid sehingga keimanan kita semakin kokoh dan tidak luntur maupun runtuh oleh kemaksiatan yang setiap saat selalu menghampiri kita.
Kedua, lebih giat mengkaji ilmu dengan banyak beraktifitas dan berinteraksi dengan ‘ulama yang berada disekitarnya. Karena kita menyadari betapa dhaifnya kita terhadap ilmu tentang keislaman, tatkala Ramadhan berlangsung ternyata masih banyak hal-hal yang berkaitan dengannya kita tidak faham ataupun mengetahuinya. Maka Rasulullah memberikan rangsangan kepada kita dengan sabdanya, “Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam rangka mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah hingga kembali.”
(HR.Muslim).
Ketiga, dapat mengendalikan hawa nafsu. Tidak hanya syahwat belaka namun lebih dari itu, yaitu yang berkaitan dengan aktifitas kita sehari-hari. Karena kita telah teruji dengan mampu menjauhi yang halal (di siang hari) apalagi harus meninggalkan yang haram, maka bukan merupakan hal yang sulit untuk laksanakan. Keberhasilan kita membentuk akhlakul karimah akan menjadi ujung tombak keteladanan kita bagi orang lain. Karena dengan demikian berarti kita telah melanjutkan tugas Nabi Muhammad SAW, yaitu memperbaiki akhlak. Karena sangat mudahnya kita menjumpai kasus-kasus seperti perzinahan, perselingkuhan, perampokan, pembunuhan, dlsb. di lingkungan dekat kita. Bahkan ada yang terjerumus ke dalam korupsi, pemerasan berkedok (pungli), suap, ‘uang administrasi’, serta ambisi akan jabatan, dlsb. Hingga hampir-hampir merembet pada kita.
Na’udzubillah.
Keempat, menjadi salah satu pemakmur masjid. Kebiasaan mendatangi masjid untuk bermunajat kepada Rabb (yang di tangan-Nya segala ketentuan kita) SWT merupakan kebiasaan yang harus selalu ditumbuhkembangkan, karena ketika hisab nanti kaki akan bersaksi atas segala langkah kita. Tidak saja menjadi tamu di dalam masjid, namun lebih dari itu iyalah menjadi pemakmur yang notabene menghidupkan suasana masjid dengan berbagai aktifitas. Salah satu ciri orang yang beriman adalah orang yang tertambat hatinya dengan masjid, demikian sabda Rasulullah.
Kelima, menjiwai shaum Ramadhan. Selain sebagai pengendali hawa nafsu, shaum Ramadhan juga meyadarkan kita akan beratnya hidup dengan perut yang sangat minim akan makanan. Sehingga meningkatkan dan mengingatkan kita kepada hamba Allah yang papa, fakir, maupun miskin yang padanya belum dapat dipastikan kapan bisa menikmati makanan berikutnya. Alhasil, kepedulian sosial kita akan tumbuh dengan
sendirinya.
Keenam, saling mengingatkan. Shaum merupakan benteng yang ampuh bagi perjalanan hidup kita, seperti antara lain yang telah disebutkan di atas. Ditambah lagi kesabaran kita dalam menanti waktu berbuka. Hampir tidak ada yang berani gegabah ketika hendak berbuka meskipun hanya satu menit mengawalkan. Artinya, perjuangan panjang kita yang sehari penuh telah mampu bertahan tidak akan rela tercemar dan menjadi sia-sia dengan hal yang belum pasti keberadaannya walau satu menit (sedikit) itu tadi selisihnya. Firman Allah SWT, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
(QS.103 :
1-3)
Marilah kita lanjutkan budaya Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya hingga kita (insya Allah) bertemu kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Sehingga seolah-olah ruh Ramadhan itu selalu melekat di hati kita. Insya Allah.
Wallahua’lam bish-shawab.
Dalam kesempatan ini pula saya sekeluarga mengucapkan: Taqabalallahu minna wa minkum.
Garden Groove, 21 Ramadhan 1425