Kampung Pegayaman
Oleh: Iwan K.
PETANG menjelang magrib, beberapa pemuda desa tampak sibuk menyiapkan sebuah panggung untuk peringatan Nuzulul Quran di depan sebuah masjid. Meski cuaca gerimis dan berkabut, situasi petang itu cukup ramai. Warga lalu lalang di jalanan desa yang sempit dan mendaki. Para lelaki berkopiah dan perempuan berkerudung menuju Masjid Jami Safinatussalam untuk berbuka puasa. Sesaat menjelang berbuka, gerimis mempercepat malam. Perbukitan yang mengelilingi desa hanya berupa gugusan yang samar-samar. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Tampak redup dari kejauhan. Ketika azan magrib berkumandang dan lonceng berdentang dari sebuah menara di Masjid Jami Safinatussalam, para pemuda yang menyiapkan panggung itu segera berbuka puasa dengan secangkir teh, kopi, lengkap dengan kuenya. "Mari silakan, ikut berbuka, ini situasi darurat. Kita minum kopi dan kue saja," ujar seorang pemuda
ramah.
Itulah sekilas gambaran mengenai kehidupan masyarakat desa pegayaman. Sebuah desa yang dihuni mayoritas orang-orang Islam di pulau Dewata Bali. Pegayaman sendiri merupakan sebuah desa kecil yang terletak di kabupaten Buleleng Bali.
Rasa persaudaraan di kampung muslim yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-15 itu begitu kental. Meski orang asing sekalipun, nyaris setiap warga memberikan sapaan dengan bahasa Bali halus. "Meriki simpang dumun, niki pondok titiang (Mari singgah, ke rumah saya)," ujar seorang wanita setengah baya.
Kebaiasaan di Desa Pegayaman, khataman Al Quran dilakukan setiap 10 hari. Istilah setempat yang lazim digunakan yakni namatan. Pada hari itu mereka berbuka puasa bersama di masjid, tentunya jumlah warga yang hadir lebih banyak. Pada hari-hari biasa acara berbuka dilakukan dari rumah ke rumah secara bergiliran.
Pegayaman memang bukan komunitas muslim satu-satunya di Bali yang menyerap unsur tradisi setempat. Masih ada komunitas lain seperti Dusun Saren Jawa, Budakeling, Karangasem, serta Dusun Nyuling Karangasem. Namun Muslim Pegayaman merupakan dusun "ramuan" antara tradisi Jawa, Bali, serta ajaran Islam. Saking pekatnya "ramuan" itu, sebagian besar warga Pegayaman merasa orang Bali asli. Bahasa pengantar sehari-hari-termasuk pada saat-saat acara resmi seperti pernikahan-mempergunakan bahasa Bali
halus.
Selain itu, nama-nama depan mereka sejak lama menggunakan terminologi nama-nama Bali. Terasa unik kalau kita mendengar nama Ketut Raji Jayadi, Ketut Syahruwardi Abas, Nyoman Mohamad Saleh atau Wayan
Makzum.
Menjelang hari raya, seperti Idul Fitri, masyarakat Pegayaman mengenal istilah penapean, tiga hari sebelum hari raya di mana warga membuat tape, kemudian penyajaan, dua hari sebelum Idul Fitri sebagai hari membuat kue, serta penampahan, saat memotong hewan yang dilakukan sehari sebelum hari raya.
Desa Pegayaman yang dihuni 450 kepala keluarga tersebut, terdiri dari empat banjar, yakni Banjar Dangin Margi, Dauh Margi, Banjar Kubu, dan Amertasari. Desa berhawa sejuk ini terhampar pada areal seluas 77 hektar. Khusus Banjar Dangin dan Dauh Margi, 100 persen warganya memeluk Islam. Meski tinggal di wilayah yang mayoritas warganya beragama Hindu, warga Pegayaman mampu beradaptasi dengan lingkungan tersebut.
Keberadaan dan kelestarian Pegayaman hingga sekarang tidak saja merupakan prasasti bagi masuknya Islam di Bali. Tetapi yang lebih monumental adalah Pegayaman telah mempraktikkan makna toleransi antar umat beragama sejak desa itu berdiri. Semoga semangat toleransi yang tinggi pada masyarakat Pegayaman ini dapat menjadi contoh kita semua untuk menirunya sekaligus membuktikan bahwa Islam adalah agama yang cinta akan perdamaian dan persaudaraan, jauh dari sifat kekerasan. Amin.(dikutip dari berbagai sumber)