Idul Fitri Membuka Mata Dunia
Oleh: Mun’im Sirry

Salah satu fenomena menarik menjelang dan saat tibanya Hari Raya Idul Fitri adalah tradisi mengucapkan selamat kepada kaum muslim. Biasanya, para pemimpin dunia, tak terkecuali Presiden Amerika Serikat, menyampaikan pesan Idul Fitri atas nama dirinya dan bangsanya kepada kaum muslim sejagat. Apa makna signifikan pesan Idul Fitri bagi peradaban dunia yang porak poranda saat ini?

Lebih dari sekadar tata-krama pergaulan dunia, ucapan selamat dari para pemimpin dunia mengisyaratkan bahwa cita-cita kohesi dunia merupakan idaman setiap insan yang menginginkan hidup dan koeksistensi secara damai dan bermartabat. Cita-cita kohesi dunia itu sendiri merupakan pengejawantahan dari semangat kemanusiaan sebagai satu keluarga (humanity as a single family). Semangat itu menemukan momentumnya pada Hari Raya Idul Fitri, karena makna kehadirannya memang untuk mengingatkan umat manusia akan kesucian penciptannya.

Fitrah adalah pola cipta manusia yang secara generik berakar kelembutan pada diri dan sesamanya yang tunduk pada hukum ketuhanan dalam kedudukan sebagai khalifah di atas bumi. Namun, manakala kepentingan ekonomi dan politik serta harga diri merasuk ke ruang sadarnya, ia akan tampil beringas, egois, dan cenderung berbuat kerusakan.

Kearifan Global
Persoalannya, pesan perdamaian dan kesucian yang mengawali misi umat manusia di muka bumi kerapkali hanya indah didengar dan enak diucapkan. Kenyataannya, peradaban dunia saat ini berada pada titik nadir kehancurannya justru karena ulah manusia yang mencampakkan makna perdamaian dan kesucian. Meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr, “manusia modern” berada dalam krisis yang tak ada padanannya dalam sejarah karena didorong keangkuhan dan kesewenang-wenangan hanya demi mengukuhkan kedigjayaannya atas manusia lain.

Maka, sungguh tepat seruan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafi’i Maarif, bahwa dunia saat ini tengah kehilangan kearifan global (the global wisdom), sebagai akibat “birahi” politik hegemonik yang serba pragmatis, eksploitatif, serta sarat ambisi dan ekspansi. Akibatnya, hubungan antarbangsa menjadi mudah terseret konflik dan kekerasan yang dapat mengancam peradaban dunia. 

Akibat kehilangan kearifan global itu, sebagian orang Islam yang tidak cukup mampu membaca peta dunia lalu menempuh jalan yang sangat radikal, militan, dan kalau perlu pakai jalan teror. Karena itu, siapa pun yang memiliki komitmen untuk membangun peradaban dunia yang lebih bermartabat, dituntut suara moral dan intelektualnya untuk menyelamatkan dunia kemanusiaan yang tengah diombang-ambing oleh oportunisme politik global, yang cenderung predator itu. 

Dengan kata lain, umat beragama dituntut menawarkan kerisalahan universal yang membawa penyelamatan bagi kehidupan umat manusia yang tengah berada di persimpangan jalan, terapung-apung di tengah lautan tanpa peta. Agama dan umat beragama dituntut untuk menawarkan peradaban alternatif yang berporos pada nilai-nilai Ilahi yang kokoh dan otentik, sekaligus memihak pada pencerahan umat manusia sebagai abdi dan khalifah di muka Bumi.

Tidak berlebihan jika dikatakan, agama-agama dunia perlu menggali kembali sumber spiritual yang dimilikinya untuk menyinarkan moralitas baru bagi arah perjalanan sejarah peradaban manusia modern.

Makna Idul Fitri
Idul Fitri kali ini hendaknya kita jadikan momentum untuk mengerahkan seluruh energi rohani, bagi terbentuknya moralitas baru yang lebih otentik (fitri) dan berkeadaban. Moralitas baru ini diperlukan untuk membangun tatanan peradaban profetik yang mampu memadukan relasi-relasi Ilahi dan kemanusiaan secara harmoni serta membendung arus kehidupan yang serba sekuler, pragmatis, memuja materi dalam kehidupan saat ini.

Dalam konteks itu, peran profetik agama menjadi begitu urgen untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran. Pemisahan nilai-nilai profetik-spiritual dari urusan duniawi ternyata memperburuk krisis, penderitaan, kediakadilan dan konflik. Dampak kegagalan moral, praktik tidak etis, dan korupsi moral dalam bisnis, korporasi, media, politik, dan pemerintahan telah merusak kualitas hidup kita. Karena itu, mutlak diperlukan kesadaran etis yang dapat menggerakkan kesalehan perilaku di kalangan pemimpin dan para pengikutnya.

Perlu segera ditambahkan, jika Islam hendak memainkan peran lebih luas dan efektif, maka ia harus memiliki sumber-sumber spiritual, intelektual, dan etik untuk memberikan jawaban, solusi, dan respons yang cocok dengan isu-isu sekarang. Manakala agama gagal menyediakan bimbingan moral yang tepat terhadap berbagai persoalan yang kian menantang ke depan, dikhawatirkan akan menyebabkan kevakuman spiritual dan moral yang akan diisi oleh determinisme keagamaan fundamentalistik.

Kita perlu meneguhkan semangat Idul Fitri untuk menyegarkan kembali kontribusi agama dalam mengatasi krisis kemanusiaan, sebagaimana telah diperankan pada periode awal kehadirannya dalam sejarah. Sebab, setiap agama diturunkan untuk merespons dan memberikan arah baru bagi perjalanan sejarah manusia. Dalam bahasa al-Quran, “membawa manusia dari kegelapan menuju kehidupan terang benderang.”

Kontribusi praktis seperti itu seharusnya menjadi misi baru Islam untuk disumbangkan kepada dunia. Bukan masanya lagi umat beragama berdebat dogma-dogma keagamaan yang kering dari prakarsa nyata mengatasi problem riil di tengah masyarakat. Semangat Idul Fitri diharapkan dapat membuka mata dunia bahwa Islam bukan hanya perlu diperhatikan (seperti ucapan selamat dari para pemimpin dunia), tapi juga diberi kesempatan untuk mewarnai jagad peradaban manusia masa depan.

Untuk tujuan agung itu, Islam hendaknya berpihak dan menjadi milik rakyat (civil religion), sehingga dapat memberikan solusi atas berbagai problem keduniaan, tempat kita berpijak dan hidup. Semoga Idul Fitri dapat membuka mata dunia akan makna kesucian martabat manusia.***