Isu ’Moral Values’ Menangkan George W. Bush
Oleh: Ari Firmandi
Presiden George W. Bush pada akhirnya dapat memperpanjang masa jabatannya hingga empat tahun mendatang, setelah sekali lagi memenangkan pemilihan kursi kepresidenan dengan selisih kemenangan yang sangat tipis. Seperti empat tahun lalu, pemilu presiden AS kali ini juga hanya ditentukan oleh perbedaan satu negara bagian saja. Kali ini kemenagan partai Republik ditentukan melalui hasil perhitungan suara di negara bagian Ohio hingga saat-saat terakhir dengan hasil akhir 51 vs 49 persen
suara.
Banyak pengamat menilai bahwa kemenangan Bush kali ini banyak dibantu oleh isu moral yang justru mengalahkan isu-isu seperti ekonomi, unemployment dan Irak. Kerry yang lebih liberal yang diantaranya mendukung gay marriage, aborsi, penelitan embryonic stem cells dan isu-isu
Yang menyangkut dengan masalah agama lainnya, seperti menganut paham church and state separation, sedikit banyak mempengaruhi hasil akhir dari pendapatan suara dari partai Demokrat. Isu moral ini sangat berpengaruh terhadap masyarakat moderat yang cenderung konservatif Amerika. Kalau kita melihat peta hasil pemilu di halaman pertama, masyarakat Amerika yang di daerah Midwest dan Southwest yang memang juga lebih moderat hampir seragam memilih pilihannya kepada Bush.
Isu kedua yang banyak mendongkrak angka pemilihan untuk Bush adalah isu terorisme. Masalah ini menjadi topik primadona yang selalu dihembuskan partai Republik dalam jargon atau seruan politik dalam berbagai kampanye. Ternyata banyak masyarakat Amerika yang menilai bahwa mereka lebih mempercayai Bush dalam kepemimpinan di kursi kepresidenan dibanding Kerry.
Yang menarik juga adalah hanya empat hari menjelang pemilu tanggal November 2 yang lalu telah ditemukan video rekaman Osama bin Laden yang dikirim ke kantor berita Al-Jazeera. Entah karena kebetulan atau tidak, bisa jadi kejadian ini memicu kembali sebagian besar undecided voters (pemilih yang masih ragu) untuk menunjukkan pilihannya kepada Bush. Kejadian ini seolah memberikan rasa kengerian kembali kepada mereka, pada khususnya undecided voters, atau kepada masyarakat Amerika pada umumnnya akan bahaya laten teroris masih sangat nyata di depan mata. Yang mereka lihat adalah bukan ke belakang, dalam hal ini efek dari perang Irak atau ekonomi, melainkan isu yang paling esensi ke depan, yaitu rasa
aman.
| Hasil Akhir Pemilu AS, November 2, 2004 | ||||
| Candidates | Electoral | States Won | Votes % | Votes |
| Bush | 286 | 31 | 51% | 59.7 Juta |
| Kerry | 252 | 20 | 48% | 56.2 Juta |
| Bila Kerry memenangkan Ohio (20 EV), maka hasilnya menjadi | ||||
| Candidates | Electoral | States Won | Votes % | Votes |
| Bush | 266 | 30 | 51% | 59.7 Juta |
| Kerry | 272 | 21 | 48% | 56.2 Juta |

Pemenang Negara Bagian: ■ Partai Republik ■ Partai Demokrat
Dari peta kemanangan sebelah bisa dilihat bahwa Partai Demokrat memenangkan negara-negara bagian yang berkecenderungan memiliki tingkat perekonomian dan pendidikan yang lebih tinggiIsu Perbaikan Ekonomi dan Perubahan
Partai Demokrat di lain pihak berhasil memenangkan hati pemilih yang banyak tinggal di daerah-daerah perkotaan atau di negara-negara bagian yang mempunyai kecenderungan tingkat perekonomian yang lebih
tinggi. Di California, Washington (Seattle), New York, Michigan (Detroit) dan Illinois (Chicago) yang merupakan negara-negara bagian yang memiliki kota-kota dengan tingkat perekonomian yang cukup tinggi serta memiliki jumlah imigran yang relatif
banyak, isu ekonomi adalah merupakan hal yang paling utama diantara pemilih Kerry.
Partai demokrat ini memang menjanjikan perubahan ekonomi terhadap apa yang terjadi sekarang. Yang paling menjadi sasaran kampanye terhadap masa empat tahun ke belakang di era Bush adalah mengenai isu ketenaga-kerjaan. Berkali-kali Kerry dalam pernyataanya dalam debat mengindikasi bahwa faktor ketenaga-kerjaan ini adalah yang terburuk sejak era modern di tahun 1920-an. Masyarakat Amerika di perkotaan seakan mendambakan kembali masa keemasan dan bulan madu perekonomian Amerika di era Clinton dari 1991-1999.
Agenda Bush Empat Tahun Ke Depan
Ada beberapa hal yang akan diperjuangkan oleh Presiden Bush dalam masa bakti empat tahun ke depan. Diantarnya adalah rencana permanen pemotongan pajak, penyederhanaan skema perhitungan pajak, mencoba untuk memberikan alternatif bagi kalangan muda usia untuk dapat mengalokasikan dana pensiun, dalam hal ini social security funds, ke dalam tabungan pribadi.
Sehigga dengan adanya perubahan pada sistem penggunaan dana social security ini akan membuat masyarakat Amerika memiliki banyak kebebasan untuk bisa melipat-gandakan dana pensiunnya sesuai kebutuhan masing-masing. Rencana ini sebenarnya memberikan angin segar bagi kita yang imigran. Dengan adanya kebebasan bagi kita yang tidak kesampaian untuk menjadi warga negara Amerika, akan mampu menggunakan dana tersebut bagi keperluan mendesak di tanah air atau penggunaan metode investasi yang lain, dan tidak perlu harus menunggu dana tersebut dikeluarkan sebelum kita menginjak usia 65 tahun.
Lalu, dengan adanya vonis diagnosis kanker Ketua Hakim Agung William Rehnquist, tidak pelak lagi akan membuat Bush berjuang keras untuk mendudukkan seorang hakim agung yang konservatif. Melalui hakim agung yang konservatif ini akan semakin melapangkan jalan Bush untuk memenangkan isu-isu penting di kemudian hari, seperti ‘same-sex marriage’, kebebasan beragama, dan topik yang berhubungan dengan isu hakikat hidup manusia seperti aborsi atau cloning. Dengan kapasitasnya sebagai presiden, ia berhak untuk mencalonkan paling tidak tiga orang calon ketua hakim agung.
Terakhir, hasil pemilu presiden yang lalu diyakini tidak akan merubah sama sekali kebijakan Bush terhadap Irak. Masa tambahan empat tahun akan memberikan ruang gerak baginya untuk menyelesaikan perang yang telah dimulainya. Kita tunggu saja sepak terjangnya.