Betapa Pentingnya Mendengar
Oleh: Prof. H. Abdurrahman Mas`ud, Ph.D.
Alumni UCLA 1997 dan Mantan Penasehat
Pengajian Los Angeles
Sebuah kisah di zaman sahabat Sayyidina Umar bin Khattab, ada seorang istri yang bawel setengah mati. Cerewet dan ceriwis bukan main. Tiada hari tanpa "ceramah''. Di mana saja, kapan saja, tak pandang bulu, selalu "bernyanyi''. Tentu perilaku itu sangat mengganggu si suami. Umumnya lelaki ingin mendapatkan penghormatan dan diuwongke oleh makhluk bernama istri.
Suatu hari, sang suami ingin berkeluh kesah atau mengadukan persoalan "dalam negeri'' rumah tangganya kepada Khalifah Umar. Tetapi sebelum bertemu Umar, alangkah terkejut dia. Pemandangan di depan matanya membuat dia hampir-hampir tak percaya. Dia melihat istrinya yang bawel sedang menceramahi Umar. Khalifah tampak menunduk dan mendengarkan dengan tenang. Melihat hal itu, si suami ingin mengurungkan niat. Ketika dia bermaksud balik kanan, Umar keburu melihat. Dia disapa dan dipanggil. "Mengapa kamu tak jadi menemui aku? Ada persoalan apa?'' tanya Umar. Suami itu menjawab, "Saya sebenarnya ingin mengadukan istri saya yang sangat bawel, cerewet, dan ceriwis. Tetapi ternyata Sayyidina Umar menghadapi kasus serupa, malah diceramahi istri saya. Jadi saya putuskan pulang saja”. Sahabat Umar tersenyum mendengar jawaban lelaki itu. Dia bertanya, "Apa sih susahnya mendengar? Istrimu itu punya hak didengar. Dia yang membantu kamu, memasak, merawat anak, bertanggung jawab atas hampir semua urusan di dalam rumah dan lain-lain. Mengapa ketika dia ingin bicara kamu tak mau mendengar?''. Hikmah yang bisa diambil dari kisah itu, betapa penting persoalan mendengar. Dalam Al Quran, masalah "mendengar'' disebut 173 kali. Itu menunjukkan betapa penting mendengar.
Masalah rumah tangga, sosial, politik, dan hampir semua konflik dalam bidang apa pun terjadi akibat manusia tak mau mendengar. Dalam rumah tangga, ketika masa pacaran, si lelaki bicara ngalor-ngidul dan si wanita hanya mendengarkan. Ketika menjelang akad nikah, laki-laki masih bicara, wanita juga diberi kesempatan bicara. Sayang, ketika rumah tangga berjalan, ketika ada persoalan, suami bicara, wanita juga bicara. Siapa yang mendengarkan? Ketua RT dan para tetangga, sambil bertepuk tangan? Watak Keras.
Semua orang tahu, betapa keras watak Sahabat Umar sebelum masuk Islam. Dia sangat terkenal menakutkan dan ditakuti serta disegani orang. Tetapi betapa Islam mampu mengubah sikap kasar dan keras itu menjadi lemah lembut dan mau mendengar. Dalam Al Quran, mendengar merupakan alat mencapai kebenaran. Ada satu unsur lagi selain mendengar, yakni akal sehat (common sense). Untuk mencapai kebenaran perlu diolah alat untuk mendengar, yaitu telinga dan akal sehat.
Tampaknya masyarakat agak mengabaikan telinga dan akal sehat, bahkan tak mau mengembangkan. Ada kecenderungan akal sehat tidak jalan. Contohnya, orang lebih suka memukul duluan, baru berpikir kemudian.
Lihatlah, betapa disiplin orang Amerika memakai akal sehat. Di setiap perempatan, ada atau tidak ada lampu merah traffic light, pengendara kendaraan selalu berhenti. Mengapa? Mereka menggunakan akal sehat. Kalau tetap berjalan, mungkin dari arah lain muncul mobil atau kendaraan lain dan bisa terjadi tabrakan. Atau ada pejalan kaki akan menyeberang dan sebagainya.
Mereka memberikan penghormatan kepada orang lain. Bandingkan dengan di Indonesia, hampir-hampir akal sehat tidak jalan. Jangankan tidak ada lampu merah, lampu menyala tanda berhenti saja terkadang diserobot. Akibatnya, terjadi kecelakaan yang merugikan orang lain baik harta benda maupun nyawa.
Di Amerika, pendidikan akal sehat masuk dalam kurikulum. Di Indonesia tidak ada. Karena akal sehat tidak dipakai, masalah sosial, kerusuhan muncul sedemikian rupa. Mereka tak menghormati orang lain, mengabaikan masalah sosial, dan tak mau mendengar. Diperingatkan Kisah lain berkaitan yang sangat monumental tentang masalah mendengar termuat dalam Alquran Surah 'Abasa. Intinya, Nabi Muhammad diperingatkan oleh Allah berkaitan dengan masalah mendengar. Ceritanya berawal dari Sahabat Abdullah bin Ummi Maktum. Suatu hari Nabi berdakwah di kalangan konglomerat Quraisy Makkah. Mereka orang-orang besar, kaya, dan mempunyai status politik tinggi. Ketika Rasulullah berceramah, muncullah Abdullah bin Ummi Maktum, orang yang sudah tua renta dan buta.
Tiba-tiba orang tua itu menginterupsi pembicaraan Nabi. Kalau budaya kita, mungkin dianggap kurang
sopan. "Hai Muhammad, tolong ajari saya,'' teriak dia. Nabi rupanya kurang senang
diinterupsi. Mendadak mukanya masam. Maka turunlah Surah 'Abasa. Seketika itu Muhammad diingatkan Allah supaya tidak bersikap begitu. "Kamu jangan meladeni orang-orang kaya dan kuat saja. Kamu tidak akan berdosa jika mereka (orang kaya) tak mau menerima kebenaran. Tugasmu hanya menyampaikan. Orang yang tua renta itu justru ingin belajar dari kamu,'' kata Allah. Muhammad berlapang dada menerima teguran dari Allah dan langsung menemui Abdullah. "Selamat, wahai Sahabat. Luar biasa. Karena kamu, saya diingatkan Allah,'' sapa Nabi. Tafsirnya, rakyat kecil yang buta juga punya hak didengarkan, punya hak mendapatkan pendidikan, dan punya hak mendapatkan informasi. Mudah-mudahan dengan ibadah-ibadah kita, dua alat (organ tubuh) yang sering diabaikan orang, yaitu telinga dan akal sehat, bisa dipakai menjadi normal kembali. (DS)