Kisah Nasrudin
Konon, Nasrudin adalah seorang sufi yang hidup di Anatolia, Turkey pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol. Beliau terkenal sebagai orang berilmu tinggi, cerdas, arif dan kecerdikannya tak tertandingi. Penampilan Nasrudin sangat sederhana dan bahkan cenderung "nyleneh". karena ketinggian ilmunya Nasrudin dipanggil Mullah (sepadan dengan Kyai). Nasrudin turut mengalami pendudukan Bangsa Mongol di bawah panglima Timur Lenk yang kejam. Timur Lenk banyak sekali melakukan penghancuran kebudayaan, tetapi dengan berbagai kecerdikan, Nasrudin dapat melewati masa ini. Konon, antara lain berkat pengaruh Nasrudin pula lah akhirnya Timur Lenk meninggalkan tanah air Nasrudin, meneruskan pengembaraan barbarnya.
Dalam kisah Nasrudin ini banyak diajarakan kearifan. Kisah Nasrudin ini diwariskan turun temurun sehingga tidak jelas siapa pengarangya. Dalam buletin ini akan dimuat kisah Nasrudin secara berseri.
Selamat menikmati. (SUD)
====
”KELEDAI MEMBACA”
Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,"Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya”.
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya. Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.
"Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca”. Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?".
Nasrudin berkisah, "Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."
"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?". Nasrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan?".
Note: Timur Lenk adlah panglima perang Mongol waktu Otoman dikalahkan mongol.