Dunia, Antara Hasanah dan Tipu Daya
Oleh: Syamsi Ali, MA

Dalam kenyataan hidupnya, manusia seolah berada dalam sebuah perahu di tengah samudra nan luas. Manusia tidak jarang terombang ambing oleh derasnya hempasan ombak, namun manusia kerap kali pula menikmati hembusan angin spoi-spoi yang menerpa, desingan gelombang nan indah yang dihiasi oleh aneka pemandangan indah alam sekitar. Sementara itu, samudra nan luas seolah menjanjikan tiada ujung, dihiasi oleh untaian deretan bintang dan keindahan purnama. 

Dunia, indah dan menyenangkan. Dunia itu baik dan membawa kebaikan, bahkan dunia itu nikmat dan memberikan kenikmatan. Sementara kita, manusia, adalah makhluk yang tercipta dari alam keduniaan (materi/tanah liat). Sehingga adalah sangat wajar jika manusia dan dunia menjadi ibarat ikan dan air atau juga manusia dan oksigen itu sendiri. Keduanya tidak mungkin terpisahkan. Memisahkan keduanya adalah pemisahan antara manusia dan wujudnya. 

Untuk itulah, Al Qur'an sendiri memberikan julukan-julukan kepada dunia, dan seolah memberikan justifikasi sekaligus bahwa kenikmatan, keindahan, kebaikan duniawi adalah sesuatu yang alami bagi manusia. Menikmati keindahan dan kebaikan dunia adalah bagian dari kemanusiaan itu sendiri. Mengingkarinya adalah juga pengingkaran terhadap hakikat manusia itu sendiri. Laa Rahbaniyyata fid Dien, yang artinya tiada rahbanisme dalam agama, tegas Rasulullah SAW. Makan, minum, tidur dan istirahat, dan kawin, semuanya adalah tuntutan alami manusia. Dan mengingkarinya juga merupakan pengingkaran terhadap bagian penting dari eksistensi manusia itu sendiri. 

Tiga sahabat mendatangi isteri Rasulullah SAW dan menanyakan perihal ibadah beliau. Isteri rasulullah menjealskan bahwa baginda Rasulullah adalah sosok insan yang sangat ahli ibadah. Malamnya dipergunakan untuk tahajjud, siangnya untuk berpuasa, dan juga beliau adalah manusia yang mampu mengontro hawa nafsunya. Para sahabat pun terperanjat. Betapa tidak, Rasul itu tidak berdosa, sudah pasti insan teragung, dan yang lebih penting, beliau sudah dijamin masuk syurga. Namun toh, beliau melakukan ibadah yang seperti itu. Lalu akan kemanakah kita? Kita yang masih bergelimang dosa, seringkali lalai dengan kewjaiban-kewajiban, dan lebih penting, tiada jaminan syurga untuk kita, namun ibadah yang dipersembahkan tidak bermakna apa-apa. 

Selesai merenungi keadaan itu, ketiga sahabat merasa naif untuk melakukan ketiga amalan ibadah Rasul tadi. Maka sepakatlah mereka untuk membagi tugas. Yang pertama, tidak akan tidur malam, dan hanya akan mempergunakan waktu malamnya untuk tahajud. Yang kedua, tidak ingin makan siang selamanya, dan hanya akan puasa sepanjang tahun. Dan yang ketiga, tak ingin lagi menyalurkan nafsu syahwatnya, dan ingin menjauhi wanita selama-lamanya. Isteri Rasulullah mendengar percakapan mereka. 
Setiba di rumah, sang isteri memberitahu Rasulullah tentang mereka. Dengan serta merta Rasulullah memanngil mereka dan mengatakan "Apakah kamu yang mengatakan ini dan itu? Demi Allah, saya lebih bertakwa di antara kalian. Namun saya shalat malam dan juga tidur, puasa sunnah dan juga makan, serta menikahi perempuan. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, bukanlah dari pengikutku". 

Itulah "keseimbangan" hidup. Dunia ini tidak harus dilihat sebagai "hambatan" menuju akhirat. Justeru opini demikian hanya penentangan terhadap ajaran Rasulullah yang menilai bahwa dunia justeru merupakan jembatan menuju akhirat, dan sekali lagi, bukan hambatan (jembatan, bukan hambatan). Bahkan dengan merujuk kepada berbagai ayat dalam al Quran serta berbagai hadits lainnya, mencari dunia, selain merupakan human nature, adalah juga menjadi kewajiban yang harus ditunaikan. "Wahai orang yang beriman, jika shalat jumat telah dikumandangkan maka datanglah kepada "dzkirullah", dan tinggalkan segala yang menjadikan kamu sibuk. Itu lebih baik jika kamu sadar. Namun jika shalat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di atas bumi ini dan carilah rezki Allah. Namun ingatlah kepada Allah banyak-banyak, niscaya kamu beruntung". 

Perhatikan dua kewajiban di atas. Wajib menuju tempat ibadah dan meninggalkan dunia, namun perintah kedua juga merupakan kewajiabn untuk meninggalkan tempat ibadah (ritual) dan menuju kepada tempat ibadah lain (mencari rezki), tanpa harus meninggalkan "dzikr" kepada Allah SWT. Keduanya adalah kewajiban yang sebanding tanpa harus didiksriminasi. Bukankah di kalangan sahabat ada businessmen? Bukankah pula bahwa di dalam Al Quran kita diperintahkan (hanya) memberi, dan tidak pernah diperintahkan untuk meminta? Semua ini merupakan indikasi akan kewajiban mencari "sesuatu" yang bisa kita berikan. Kalau ada perintah "nafaqah" atau "sadaqah" atau "zakaat" dalam Al Quran itu sudah merupakan juga perintah untuk menjajagi langkah-langkah praktis untuk melaksanakan perintah itu. Langkah-langkah yang dimaksud adalah mencari sesuatu yang akan diberikan. Jika tidak, maka pepetah arab pengatakan "faaqidussyae laa yu'thii" (yang tidak punya tidak bisa memberi). 

Tapi, adakah jaminan bahwa mencari dunia akan memberikan kebaikan, keni'matan dan keselamatan? Belum tentu. Dunia yang disebut sebagai "mataa" (kesenangan), "khaer" (kebaikan) dan "hasanah" (kebajikan) ini, juga digelari dengan dua gelar lainnya, yaitu "Lahwun" (Al Jumu'ah) dan juga dalam beberapa ayat Al Qur'an digelari "Ghuruur". Keduanya merupakan gelar ancaman, lobang-lobang kecelakaan bagi manusia dalam berinteraksi dengan kehidupan masa kininya. 

”...bahwa kenikmatan, keindahan, kebaikan duniawi adalah sesuatu yang alami bagi manusia. Menikmati keindahan dan kebaikan dunia adalah bagian dari kemanusiaan itu sendiri. Mengingkarinya adalah juga pengingkaran terhadap hakikat manusia itu sendiri” 

Deceiving Power

Disebutkanlah dalam sejarah bahwa suatu ketika di musim paceklik, Rasulullah SAW sedang berdiri di hadapan umatnya memberikan khutbah. Di tengah-tengah khutbah Rasulullah itu, tiba-tiba perhatian umat menjadi terpecah dengan kehadiran kafilah dagang dari negeri Syria membawa barang-barang perdagangan ke negeri Madinah. Para sahabat yang sedang mendengarkan khutbah itu segera berdiri meninggalkan Rasulullah yang berdiri memberikan khutbah untuk mendapatkan bagian dari barang dagangan yang datang dari Syria itu. Di saat itulah Allah menurunkan ayatNya "Dan jika mereka melihat melihat perdagangan atau LAHW (materi/dunia), mereka meninggalkan kamu dalam keadaan berdiri (khutbah). Katakanlah, sungguh apa yang ada di sisi Allah lebih dari LAHW dan dari perdagangan, dan adalah Allah sebaik-baik Pemberi Rezeki" (Al Jumu'ah). 

Ayat ini secara gamblang menyebutkan bahwa selain nama-nama indah dunia (mataa' atau kesenangan, hasanah dan khaer atau kebaikan), dunia juga digelari dengan gelar LAHW. Kata "Lahwun" berasal dari kata "lahaa-yalhuu-lahwuun" yang berari kelupaan. Sehingga dunia yang dikategorikan sebagai "lupa" mengindikasikan betapa kehidupan duniawi atau materi ini sering menjadikan mereka yang terlibat di dalamnya terlupa atau dijadikan lupa olehnya. Inilah juga barangkali yang diingatkan oleh Allah pada Surah At Takaatsur: "Kamu dijadikan lupa (alhaa-kum, yang juga dari kata LAHW) oleh berbanyak-banyak (dunia). Sehingga kamu (baru sadar) ketika masuk ke dalam kubur (mati)"

Realita di lapangan membuktikan ayat ini. Dunia telah menjadikan mayoritas manusia dijadikan lupa (alhaa). Lupa dalam banyak makna. Lupa dirinya, yang menjadikannya lupa akan Tuhan Penciptanya. Terlupakannya Allah menjadikannya melupakan misi dan tujuan hidupnya. Hidup yang tidak tersadari misi dan tujuannya akan menjadi kehidupan yang amburadul, tidak punya visi dan planning yang jelas. Oleh sebab itu, manusia boleh jadi berjalan jauh ke manapun di atas bumi yang sempit ini. Namun perjalanan itu tidak akan ke mana-mana karena toh tujuannya sesempit dunia yang selebar daun kelor (jika diukur dengan keluasan alam Akhirat). 

Selain itu, yang paling berbahaya dari lupa ini adalah lupa akan segera berakhirnya hidup seseorang. Semakin banyak posesi (milik) yang ada di tangan, akan semakin tenggelamlah seseorang dalam lamunan panjang yang mempesona. Seolah dunia yang dini'mati itu akan mampu menahan langkah malakul maut yang dari masa ke masa semakin mendekat. Allah mengingatkan: "Dan yang mengumpulkan harta dan senantiasa menghitung-hitungnya. Dia menyangka bahwa harta itu akan menjadikannya hidup untuk selamanya". 

Dengan harta dan kepemilikannya, sesorang akan selalu dengan bahasa perbuatannya (lisanul haal) seolah melarikan diri dari kematian. Di dunia barat, dan mereka yang punya akses ke dunia yang lebih luas, asuransi kesehatan menjadi begitu dirasakan sebagai pembatas antara seseorang dengan kematiannya. Berlomba mencari asuransi yang paling mahal dan coverage yang paling baik. Sehingga seseorang yang mungkin hanya masuk angin karena pergantian udara, segera menelpon ambulans karena disangka indikasi stroke atau kanker otak. Kepanikan, ketidak tenangan, bahkan terkadang sampai kepada tidak percaya diri. Setiap ada indikasi penyakit segera melarikan diri ke dokter dan disangkanya dokter akan menyelamatkannya dari deteksi malakul maut. Suatu kekeliruan yang sangat luar biasa. Allah mengingatkan: "Katakan, sungguh kematian yang kamu melarikan diri darinya, akan menemui kamu kemudian kamu dikembalikan kepada Dia yang mengetahui kegaiban dan alam kasat, dan Dia akan memberitahu apa-apa yang kamu telah perbuat" (Al Jumu'ah). 

Bukankah juga Allah mengingatkan: "Sungguh jika ajal mereka telah tiba, maka mereka tak akan bisa melambatkannya sesaat pun dan juga tidak bisa dimajukan". Sungguh punctuality yang sangat luar biasa, tepat waktu dan ruang. Ayat ini juga mengingatkan sebuah realita, kenyatannya ayat ini mendahulukan kata "melambatkan" (yasta'khiruun) karena realitanya semua manusia ingin dilambatkan kematiannya. 

Inilah bahaya lupa duniawi (LAHW DUNYAWY) yang diderita oleh mayoritas manusia. Dan ini pulalah yang disinyalir oleh Rasulullah: "Sungguh bukan kefakiran yang saya khawatirkan atas kamu, tapi saya khawatir jika dunia dibuka di hadapan matamu, maka ia membinasakan kamu sebagaimana ia telah membinasakan mereka yang sebelummu". Binasa dalam visi kehidupan, binasa dalam orientasi dan tujuan hidup, dan yang paling celaka akan berakhir dengan kebinasaan di akhirat kelak. 

Maka dunia ghuruury ini seharusnya disadari oleh setiap Muslim. Jangan hendaknya kesenangan dan kebaikan dunia ini justeru menjadi tipuan belaka yang membawa kepada kehancuran dunia-akhirat. Allah pun dalam banyak ayat-ayat Quran mengingatkan: "Jangan kamu tertipu oleh kehidupan dunia". Kehidupan dunia yang serba meterialistik saat ini, yang penuh dengan kegemerlapan yang menipu pandangan mata, menjadikan banyak manusia yang tenggelam dan tak sadarkan diri (unconscious). Menjadilah mereka tidak sadar akan siapa, bagaimana, dan akan kemana mereka dalam hidup ini.

Agar manusia bisa selamat dari jeratan dunia LAHWY dan GHURUURY ini, dibutuhkan perbekalan mental yang tidak seadanya. Melibatkan diri dengan kehidupan dunia adalah sebuah keniscyaan dan bahkan telah menjadi bagian dari tabiat (fitrah) manusia. Namun keterlibatan jasadi (jismani) dengan dunia material ini, seharusnya tidak mengorbankan alam ruhiyah (hati) untuk menemukan jalannya menuju Tuhannya. Keduanya adalah bagian terpadu dalam kehidupan manusia, dan memisahkannya adalah pemisahan antara jasad dan ruh (kematian). Untuk itu, manusia yang memisahkan kedua dasar/fitrah kehidupan ini adalah manusia yang secara "hakikat" telah mati (amwaat). Sedangkan manusia yang tampil secara jasadi namun tetap memelihara tuntutan ruhiyahnya, merekalah yang hidup secara hakiki. Itulah sebabnya, Nabi mengingatkan: "Perumpamaan yang ingat kepada Tuhannya dan yang tidak, seperti seseorang hidup dan yang mati". 

Maka sahabat Rasulullah adalah "fursanu an Nahaar" (pejuang dan pekerja keras lagi perkasa di siang hari), namun mereka juga adalah "ruhbaan al Lael" (rahib-rahib di malam hari). Mereka bekerja keras mencari fadhilah, Tuhan mereka, dalam berbagai macam formatnya di siang hari, tapi juga melakukan ibadah yang tak tertandingi di malam hari. Di antara mereka adalah yang menjadi business people yang sangat sukses. Namun Allah memberikan pujian: "Mereka adalah orang-orang yang tidak dijadikan oleh dagang dan jual beli lupa dari mengingat Allah". 

Kemampuan untuk meletakkan kaki di atas permukaan bumi persada sekaligus menggantungkan jiwa dan hati di ketinggian 'arasy, menghadirkan "ma'iyyatullah" dalam setiap derap langkah yang dilakukan menjadikan manusia mencapai tingkat kesuksesan yang sejati. Itulah yang diingatkan oleh Allah: "Wahai orang yang beriman, jika shalat Jum'at telah dikumandangkan maka bersungguhlah mendatangi "dzikrullah" (masjid) dan tinggalkan semua yang menyibukkan. Yang demikian itu adalah lebih baik jika kamu menyadari. Dan jika shalat telah ditunaikan maka berebaranlah kamu di atas bumi ini, dan carilah rezki (keutamaan) Allah, serta ingatlah kepada Allah banyak-banyak, niscaya kamu beruntung" (Al Jumu'ah). Kesungguhan untuk mendatangi masjid (dzikrullah), yang disusul dengan kesungguhan bertebaran mencari fadhilah Allah dengan bekal "dzikrullah" (wadzkurullah katsiran) tadi, itulah yang menghasilkan "falaah" (la'allakum tuflihuun) atau keberuntungan. 

Keberuntungan sejati ini yang tersimpul dalam doa jagad semua Mu'min: "Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah wa fil aakhirah hasanah, wa qinaa adzaban Naar". 
Semoga hirup pikuk dunia kita menjadikan kita tetap sadar secara batin. Dan semoga kita tetap imbang dalam mengarungi samudra kehidupan ini, sehingga pada akhirnya membawa kita kepada keberuntungan sejati, dunia-akhirah (fiddunya hasanah wa fil akhirah hasanah). (DS)