Konsep Filsafat Hidup Sunan
Drajad
Oleh:
Zainuril Muflih
Penasehat Redaksi Mentar Timur,
Ketua Pengajian Los Angeles
1. Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain)
2. Jroning suko kudu eling Ian waspodo (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
3. Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita-cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
4. Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
5. Heneng – Hening – Henung (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur)
6. Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan shalat lima waktu)
7. Menehono teken marang wong wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (berilah ilmu agar orang menjadi pandai, sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta berilah perlindungan terhadap orang yang menderita)
Sejarah Singkat
Sunan Drajat yang bernama kecil Syarifudin atau Raden Qasim, putra Sunan Ampel, terkenal karena kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran agama Islam, beliau mengambil tempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad 15 dan 16 masehi. Beliau memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai daerah otonom kerajaan Demak selama 36 tahun.
Beliau sebagi wali penyebar agama Islam yang terkenal sosiawan sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Ia dikenal lebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial sebelum memberikan pengajaran. Motivasi lebih ditekankan kepada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentaskan kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.
Sebagai penghargaan atas keberhasilannya itu, beliau akhirnya dianugerahi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah, raja Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 masehi.