Agamamu Agamamu, Agamaku Agamamu Juga
Oleh: Hamdi Badar
Sangatlah sulit mendefinisikan agama di dunia ini. Kita mengetahui bahwa agama amatlah beragam, dimana kepercayaan seseorang terhadap agama ditentukan oleh pemahamannya kepada ajaran agama itu sendiri. Namun walau bagaimanapun sebagai manusia ia tidak akan mudah melepaskan agama bawaannya. Kepercayaan kepada agama sudah terpatri di
sanubari.
Ketika gereja menguasai Eropa dan menindas para ilmuwan akibat penerimaan mereka yang dianggap bertentangan dengan kitab suci, maka para ilmuwan meninggalkan agamanya. Akan tetapi tidak lama kemudian mereka sadar akan kebutuhan yang pasti sehingga mereka menjadikan hati nurani sebagai alternatif pengganti agama. Namun tidak lama kemudian karena menyadari alternatif itu sangat labil, di mana yang namanya nurani terbentuk oleh lingkungan, latar belakang dan pendidikan, sehingga si A dapat berebeda dengan si B sehingga tidak ada tolak ukur yang pasti.
Setelah itu lahirlah Filsafat Existantialisme yang mempersilahkan manusia melakukan apa saja yang dianggap paling baik atau menyenangkan tanpa memperdulikan
nilai-nilai.
Namun hal ini juga tidak dapat menjadikan agama tergusur di dalam diri manusia, Al Quran 30:30 Fitrah Allah yang menciptakan manusia atas fitrah itu. Ini yang dinamakan kebutuhan akan agama memang fitrah. Boleh jadi manusia menangguhkan kebutuhan itu sekian lama sampai menjelang kematian, tetapi sebelum ruh meninggalkan jasad ia akan merasakan kebutuhan itu. Memang desakan kebutuhan manusia bertinggkat-tingkat, misalnya kebutuhan manusia akan air dapat ditangguhkan lebih lama dibandingkan kebutuhannya akan
udara.
Manusia terdiri dari akal, jiwa dan jasmani. akal atau rasio ada diwilayah-Nya, dimana tidak semua persoalan dapat diselesaikan dan dihadapi hanya dengan akal saja. Suatu karya seni tidak dapat dinilai semata-mata oleh akal, karena yg berperan disini adalah kalbu. Dalam hubungan ini maka IPTEK dan Teknologi Agama sesungguhnya berperan, terutama jika manusia tetap ingin menjadi manusia yang sesuai dengan fitrahnya, sebagai contoh bidang bioteknologi, manusia sudah dapat menciptakan rekayasa genetik dan “cloning,” apakah keberhasilan ini akan dilanjutkan sehingga menghasilkan mahluk-makhluk hidup yang dapat menjadi tuan bagi penciptannya sendiri, apakah ini baik atau buruk? Yang menjawab semua itu adalah agama bukan seni atau filsafat. Kalau begitu maka tidak ada alternatif lain yg dapat menggantikan agama. Mereka yang mengabdikan agama terpaksa mencari penciptakan agama baru demi memuaskan jiwanya. Al Quran 3:83, Selain agama Allah jugalah yang mereka cari padahal kepadanya telah Islam segala sesuatu yang di langit dan di bumi. Dengan senang atau terpaksa kepada-Nya semua akan kembali guna memuaskan jiwa mereka mencari agama lain padahal fitrah seluruh apa-apa yang dilangit dan di bumi serta tubuh dan jasad manusia telah berserah diri (islam) pada kehendaknya dan kepadanya semua akan kembali, baik yang senang kepadanya atauyang terpaksa tanpa pilihannya, semua kembali kesisiNya. Hanya akal dan hatinya yang belum menerima dan
mengingkarinya..
Ada salah satu cerita, di mana dijelaskan ada seorang ekstrim yahudi yg sangat benci, jahat dan sebal pada orang islam. Tatkala menjelang mati dia bersiar di depan anak dan familinya dan Rabi-nya bahwa dia telah Islam. Bingung dan kaget pulalah seluruh familinya dan bertanya mengapa engkau katakan demikian, bukankah sewaktu gagahnya kamu dan kita sering menghabisi orang Islam. Maka dia menjawab biarlah hanya orang Islam saja yang mati sedang orang Yahudi tidak pernah mati. Namun suka atau terpaksa sang Yahudi kembali ke hadirat Ilahi, entahlah apa yang terjadi pada diri sang yahudi tersebut, hanya Allah yg berhak menghakimi di akhirat nanti. Kematian tidak dapat dipungkiri, bagaimanapun gagah dan kuatnya fisik dan akal manusia, toh akan kembali pula kepada-Nya.
Mr. Reagan yang dulu gagah bisa memporak- porakandakan negara manapun yang ia tidak sukai, suka atau terpaksa ia kembali ke liang lahat. Kebebasan yang sangat limited di dunia ini telah diberikan kepada manusia, menerima Islam dengan kesadaran dan seutuhnya tanpa paksaan. Dua jalan yang telah diberikan oleh Al Quran 91:8 Faal Hamahaa Fujuha Wataqwaha, yang artinya “Maka Allah menghambakan kepada jiwa itu jalan fasiq dan taqwa, dua jalan ia bebas memilih dan resiko akan ditanggung sendiri” Al Quran 2:256 Tidak ada paksaan dalam agama.
Islam di samping mempertahankan diri sebagai agama, maka Islam pun mengakui eksistensi agama lain dan memberinya hak untuk hidup berdampingan sambil menghormati pemeluk agama yang lain. Kita mengakui adanya pluralisme kepercayaan yang lain, walaupun keberadaan agama kita oleh segelintir manusia tidak diakui Al-Quran 6:108 ”Jangan mencerca yang tidak menyembah Allah (penganut lain)”. Al Quran 16:93, ”Seandainya Allah menghendaki niscaya dia menjadikan manusia menjadi satu akan tetapi Allah memberikan kebebasan terhadap manusia, dia tidak menjadikan manusia semua menjadi satu kepercayaan”. Bila seseorang beriman, silahkan, tidak berimanpun silahkan. Keterangan tersebut telah nyata, pertanyaannya adalah apakah kalau kita yang beragama dan juga menunaikan agama serta orang yang tidak percaya (atheis), keduanya mati dan ternyata kita tidak menemukan Tuhan atau tidak ada Tuhan, maka kita semuanya (yang beragama atau tidak) akan selamat. Tetapi kalau seandainya Tuhan itu ada, maka apa yang akan menjadi garansi bagi si atheis? Sedangkan untuk kita yang beragama dan menjalankannya, maka amal-amal kitalah yang akan di perhitungkan. Begitu juga seandainya kalau Yahudi atau Nasrani itu benar dan masuk surga, maka umat Islam pun ikut di dalamnya, karena kita percaya dengan Nabi Musa dan Nabi Isa (yang disebut sebagai Yesus oleh kaum Nasrani). Akan tetapi kalau umat Islam yang benar dan masuk surga, maka apa yang akan terjadi, karena mereka tidak mempercayai Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir. Al Quran 2:15 Katakan kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub dan yang diturunkan kepada Musa dan Isa dan kami taat apa yang dari Tuhan kami tak membedakan dari antara mereka dan itulah kami orang muslim.
Kendati kita mempercayai apa yang diturunkan dari Allah mulai dari Injil, Taurat, Zabur serta apa yg dinamakan suhuf Ibrahim Wa Musa. Kalau yang isinya mengajak kepada tauhid semata-mata, kepada yang kita imani. Seperti pada Injil markus 12/29 “Hukum yang utama, dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita Tuhan itu Esa, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati dan jiwa akal budimu dan kekuatan ini yang dideklarasikan Jesus untuk mengajak seluruh orang Bani Israel untuk bersahabat Allahu Ahad (Esa)”. Kebenaran hanya dari Allah, Markus 10-18 “Mengapa kita harus ragu hanya menerima saja Muhammad sebagai Last Messenger dan Allah yang Esa dan diikut sertakan pula dengan amal ibadah yg shaleh, timbullah kemantapan dan ketenangan dan inilah yang dinamakan Islam. Al Quran 3:101 Hai orang beriman takutlah kepada Allah yang sebenarnya dan jangan mati melainkan ada didalam Islam.