Tsunami
Oleh: Iwan Kurniawan
Tsunami yang melanda sedikitnya delapan negara Asia kemarin merupakan gempa terkuat dalam 40 tahun terakhir. Selama bertahun-tahun, tsunami atau gelombang pasang-surut yang sering disebut gempa bawah laut telah menimbulkan banyak bencana besar di komunitas pantai. Kejadian itu dapat diruntut pada Yunani dan Romawi kuno, termasuk tsunami yang mengguncang Mediterania Timur pada 21 Juli 365 yang menewaskan ribuan penduduk Alexandria, Mesir.
Kata tsunami baru populer di Indonesia sejak terjadinya bencana tsunami di Flores, 12 Desember 1992 lalu. Dapat dimaklumi kalau tsunami belum dipahami secara benar. Tsunami seringkali disalah-artikan sebagai gelombang pasang. Padahal sangat berbeda artinya. Gelombang pasang terjadi karena adanya gaya tarik bulan terhadap bumi.
Sedangkan tsunami, berasal dari bahasa Jepang tsu dan nami yang artinya adalah gelombang di pelabuhan, terjadi karena adanya gangguan impulsif pada air laut akibat terjadinya perubahan bentuk laut secara tiba-tiba. Penyebabnya dapat berasal dari tiga sumber, yaitu: Gempa, letusan gunung berapi, dan longsoran yang terjadi di dasar laut.
Dari ketiga penyebab timbulnya tsunami, gempa merupakan penyebab utama. Besar kecilnya gelombang tsunami sangat ditentukan oleh karakteristik gempa yang menyebabkannya. Gempa-gempa yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah gempa yang terjadi di dasar laut, kedalaman pusat gempa kurang dari 60 Km dengan kekuatan lebih besar dari 6.0 skala richter (SR). Kecepatan penjalaran gelombang tsunami berkisar antara 50 km sampai 1000 km per jam. Pada saat mendekati pantai, kecepatannya berkurang karena adanya gesekan dasar laut. Sedangkan tinggi gelombang tsunami justru akan bertambah besar pada saat mendekati
pantai.
Riset tentang tsunami dapat dibagi menjadi tiga bidang utama. Pertama riset yang ditujukan untuk mengidentifikasi lokasi pusat gempa dan karakteristik gempa yang mempunyai potensi menimbulkan tsunami. Bidang ini merupakan kajian ilmu
seismologi.
Kedua, riset yang diarahkan untuk membuat model penjalaran tsunami dan prediksi tinggi gelombang tsunami pada saat mencapai pantai. Riset semacam ini merupakan bagian dari ilmu
oseanografi.
Ketiga, riset yang ditujukan untuk mencari cara-cara yang tepat dalam pemantauan tsunami dan perlindungan pantai terhadap bahaya tsunami. Riset semcam ini memerlukan keahlian dalam bidang seismologi, oseanografi, dan teknik
sipil.
Perkembangan riset tsunami di Indonesia masih dalam tahap pengembangan yang melibatkan berbagai instansi terkait seperti Badan Meteorologi dan Geo Fisika (BMG), BPPT, LIPI, dan ITB Hambatan utama dalam riset, seperti yang biasa dijumpai di Indonesia, adalah minimnya jumlah ilmuwan dan fasilitas yang tersedia. Kurang tertariknya ilmuwan melakukan riset tsunami mungkin dikarenakan kegiatan ini secara ekonomi tergolong “kering”, walaupun fenomena tsunami sendiri berkaitan dengan sesuatu yang basah yakni air laut. Fasilitas untuk pemantauan, baik untuk pemantauan gempa sebagai sumber dan penyebab tsunami juga masih dirasa kurang. Idealnya untuk tiap jarak 100 km di sepanjang pantai yang ada di kepulauan Indonesia diletakkan satu alat pemantau gempa dan gelombang. Hambatan lain yang tidak kalah pentingnya adalah masih kurangnya koordinasi dan komunikasi di antara pusat-pusat kegiatan riset tsunami yang ada di Indonesia.
Secara teoritis, tsunami lebih mudah diprediksi dibandingkan dengan gempa. Adanya tenggang waktu antara terjadinya gempa dan tibanya tsunami di pantai memungkinkan untuk dapat menganalisa karakteristik gempa. Informasi tersebut kemudian dapat segera disampaikan ke masyarakat sebelum gelombang tsunami menerjang
pantai.
Ide inilah yang mendasari didirikannya pusat system peringatan dini tsunami (Tsunami Warning System) dibeberapa Negara Pasifik. Yang menjadi persoalan di Indonesia adalah tenggang waktu tersebut hanya berkisar antara 10 – 50 menit saja karena jarak antara pusat gempa dan garis pantai tidak lebih dari 200 km. Ini berbeda dengan di Negara-negara pasifik yang tenggang waktunya dapat mencapai satu sampai tiga jam.
Akibat terbatasnya waktu untuk menyampaikan informasi dan fasilitas komunikasi yang belum memadai, sangat mungkin terjadi informasi belum sampai sementara gelombang tsunami telah menyapu
pantai.
Untuk mengatasi kesulitan tersebut di atas, kesiap siagaan merupakan jawaban paling tepat. Di antaranya yang dapat dilakukan adalah:
1. Identifikasi daerah yang rawan tsunami
2. Penyuluhan kepada penduduk dan aparat terkait di daerah rawan tsunami.
3. Proteksi pada pantai. Diantaranya membuat jalur hijau 200 m dari garis pantai yang dapat berfungsi sebgai penahan gelombang dan melestarikan keberadaan batu karang yang dapat berfungsi sebagai pemecah gelombang.
4. Menetapkan letak pemukiman berada di belakang jalur hijau sehingga terlindungi dari ancaman gelombang. Kalaupun terpaksa dibangun di dekat pantai, rumah yang baik adalah rumah panggung dengan bagian bawah kosong untuk memungkinkan gelombang lewat.
5. Membuat dasar hukum yang kuat bagi upaya pengaturan tata guna lahan di daerah
pantai.
Berikut ini daftar bencan tsunami yang pernah terjadi :
1. 17 Juli 1998, gempa lepas pantai gelombang yang melanda pantai utara Papua Nugini, menewaskan sekitar 2 ribu orang dan menyebabkan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.
2. 12 Desember 1992, tsunami melanda Flores.
3. 16 Agustus 1976, tsunami menewaskan lebih dari 5 ribu orang di wilayah Teluk Moro, Filipina.
4. 28 Maret 1964, gempa bumi Good Friday di Alaska menyebabkan gelombang yang menenggelamkan sebagian besar pantai Alaska dan menghancurkan tiga desa. Gelombang tersebut menewaskan 107 orang di Alaska, empat di Oregon, dan 11 lainnya di California ketika gelombang itu melanda Pantai Barat.
5. 22 Mei 1960, gelombang yang dilaporkan setinggi sampai 11 meter menewaskan seribu orang di Cile dan menimbulkan kerusakan di Hawaii dan merenggut 61 jiwa. Gelombang tersebut juga melanda Filipina, Okinawa, dan Jepang ketika melintasi Pasifik. 1 April 1946, gempa Alaska menimbulkan tsunami yang menghancurkan North Cape Lighthouse dan menewaskan lima orang. Beberapa jam kemudian, gelombang tersebut menyerang Hilo, Hawaii, menewaskan 159 orang dan menimbulkan kerugian jutaan dolar.
6. 31 Januari 1906, gempa lepas pantai muncul dari bawah wilayah Tumaco, Kolombia, dan menyapu bersih setiap rumah yang berada di antara Pantai Rioverde, Ekuador, dan Micay, Kolombia. Jumlah korban tewas diperkirakan 500-1.500.
7. 17 Desember 1896, tsunami menghancurkan tanggul dan jalan besar utama di Santa Barbara, California.
8. 15 Juni 1896, tsunami Sanriku menyerang Jepang. Gelombang yang tingginya lebih dari 23 meter menghantam massa yang tengah berkumpul untuk merayakan festival agama. Diperkirakan bencana itu menewaskan lebih dari 26 ribu jiwa.
9. 27 Agustus 1883, ledakan Gunung Krakatau menimbulkan gelombang besar yang bergerak melintasi
pantai-pantai dekat Jawa dan Sumatera. Bencana itu menewaskan 36 ribu orang..
10. 1 November 1775, gempa dahsyat di Lisbon menimbulkan gelombang setinggi hampir 6 meter
(dikutip dari berbagai sumber)