Kisah Semut, Laba-laba dan Lebah

Kisah Semut, Laba-laba dan Lebah
Oleh: M. Quraish Shihab

Tiga binatang kecil menjadi nama dari tiga surat di dalam Al-Quran, yaitu Al-Naml (semut), Al-Ankabut (laba-laba), dan Al-Nahl (lebah)
Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Kelobaannya sedemikian besar sehingga ia berusaha dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.
Dalam surat Al-Naml antara lain diuraikan sikap Fir’aun , juga nabi Sulaiman yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusiapun sebelum dan sesudahnya. Ada juga kisah seorang raja wanita yang berusaha menyogok Nabi Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan yang dimiliki.

Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba: Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh (QS 29: 41), ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung disana atau disergapnya akan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya pun setelah selesai berhubungan seks disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan.. Demikianlah kata sebagian ahli,. Sebuah gambaran yang sangat mengerikan dari sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki insting yang dalam bahasa Al-Quran – Atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal – (QS 16: 68) dan sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah kembang-kembang dan tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya , lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya adalah madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Lebah sangat disipli, mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali gangguan datang lebih dulu padanya.

Sikap hidup manusia sering kali diibaratkan dengan berbagai jenis binatang. Jelas ada manusia yang “berbudaya semut”, yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu (tanpa mengolahnya) dan materi (tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya). Budaya semut adalah “budaya menumpuk” yang disuburkan oleh “budaya mumpung”. Tidak sedikit problem masyarakat bersumber dari budaya tersebut. Pemborosan adalah anak kandung budaya ini yang mengundang hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukup indah untuk dipandang dan bermanfaat untuk digunakan. Dapat dipastikan bahwa dalam masyarakat kita, banyak sekali “semut” yang berkeliaran.

Entah berapa banyak jumlah “laba-laba” yang ada disekitar kita, yaitu mereka yang tidak lagi butuh berpikir apa, di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan adalah “siapa yang akan mereka jadikan mangsa”.

Nabi Muhammad S.A.W mengibaratkan seorang mukmin sebagai lebah, sesuatu yang tidak merusak dan tidak pula menyakitkan: Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memcahkannya.
Dapatkah kita menjadi ibarat lebah, bukan semut apalagi laba-laba ? (Dikutip dari Lentera Hati)