Rubrik Kesehatan
Resolusi Tahun Baru “Menjaga Kesehatan” 
Oleh: Dokter Nurul I Hariadi

Tahun 2005 telah tiba, diawali dengan situasi pasca bencana alam sekaligus bencana kemanusiaan yang sangat besar di mana Indonesia merupakan negara dengan kerusakan dan jumlah korban terbesar. Dari setiap cobaan, selalu ada banyak hikmah yang dapat diambil, yang semestinya mengingatkan kita untuk selalu mensyukuri segala karunia Allah SWT. Alhamdulillah, hingga saat ini kita masih dititipkan begitu banyak karunia sehingga insya Allah dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa bencana tersebut.
Salah satu karunia yang sering kita abaikan adalah kesehatan. Banyak sekali contoh yang menunjukkan betapa lalainya kita mensyukuri kesehatan dengan menjaganya dan baru menyadarinya saat karunia tersebut dikurangi. Padahal, menjaga kesehatan bukanlah hal yang berat. Dengan menjaga asupan nutrisi, aktivitas fisik, dan tentunya memelihara jiwa kita, insya Allah, kesehatan jasmani dan rohani akan terjaga. Karena itu, agaknya tepat jika untuk tahun baru ini kita menetapkan satu resolusi : menjaga kesehatan. Setidaknya tema besar itulah yang akan dibawa dalam media ini dalam terbitan ini dan beberapa terbitan ke depan.

Yang pertama akan diuraikan adalah mengenai makanan, karena untuk tetap hidup, semua manusia harus makan. Berbicara mengenai makanan, tidak akan lepas dari diet. Diet dalam arti luas sebenarnya adalah pengaturan makan, namun dalam masyarakat sering diartikan secara sempit sebagai upaya menurunkan berat badan. Padahal untuk menjadi sehat, berat badan bukanlah satu-satunya parameter. Kecukupan nutrisi yang dibutuhkan justru harus memegang peranan yang lebih penting, dan inilah yang sering terabaikan dalam beberapa mitos mengenai makan dan makanan. Berikut ini akan dipaparkan beberapa mitos yang ada dan fakta di balik mitos tersebut.

• Mitos : Jalani diet super ketat 
Banyak di antara kita, dalam tekad menurunkan berat badan, terjebak dalam diet sangat ketat yang hanya membolehkan kita mengkonsumsi -misalnya- hanya air, sayuran, dan buah. Dan sebagian dari kita menganggap bahwa cara ini sehat karena kita hanya mengkonsumsi serat dan vitamin. Dengan diet seketat ini, penurunan berat badan memang akan segera dicapai. Namun pengaturan yang sangat ketat umumnya sulit dipatuhi dalam jangka waktu yang panjang, dan berat badan yang telah berhasil dikurangi akan dengan cepat pula bertambah lagi.
Selain itu, diet ini umumnya membatasi pilihan sumber makanan yang boleh dikonsumsi. Akibatnya, seringkali nutrisi yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi. Sebagai contoh, walaupun vitamin sangat dibutuhkan oleh tubuh kita, mereka tak akan dapat bekerja tanpa karbohidrat, protein, atau lemak. 
Dan yang terakhir, laju penurunan berat badan yang terlalu cepat (lebih dari 3 pounds atau sekitar 1,5 kg per minggu) dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu. Selain itu, diet yang total kalorinya kurang dari 800 Kalori (“K huruf besar” dalam Kalori atau “C huruf besar” dalam Calories berarti kilo kalori) per hari dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang berisiko fatal. Penurunan berat badan dalam batas aman adalah antara 0,5 – 2 pounds (sekitar 0,25 – 1 kg) per minggu yang dicapai dengan konsumsi nutrisi yang beragam dalam jumlah sedang, dan olahraga teratur. Sebagai patokan, rata-rata asupan nutrisi laki-laki dewasa adalah 2200-2800 Kalori per hari, perempuan dan anak-anak (di atas 2 tahun) 1600-2200, lansia 1600.

• Mitos : Jalani diet tinggi protein/rendah karbohidrat
Diet lain yang sempat menjadi tren adalah diet tinggi protein/rendah karbohidrat (low carb diet) atau juga populer dengan nama Atkins diet. Diet ini dianggap lebih sehat oleh sebagian orang karena protein diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan sel-sel tubuh, termasuk otak, sehingga makanan tinggi protein dikaitkan dengan kepandaian. Sekali lagi, seperti yang telah diuraian sebelumnya, protein tak akan dapat bekerja sendiri. Dengan kata lain, fungsi tubuh yang ideal selalu memerlukan berbagai nutrisi dalam kadar yang cukup, bukan kurang atau berlebih.
Asupan karbohidrat kurang dari 130 gram per hari dapat menyebabkan tubuh menggunakan sumber energi lain yang menghasilkan zat keton (ketone). Penumpukan zat keton ini akan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit asam urat (gout) atau batu ginjal. Selain itu, penumpukan keton sangat berbahaya bagi penderita diabetes atau ibu hamil. Sebagai patokan, asupan karbohidrat yang dibutuhkan per hari adalah 300 gram atau 6-11 servings per hari (lihat bab selanjutnya).
Pola diet yang lebih tepat untuk digunakan adalah calorie-reduced eating plan, yaitu tetap mengkonsumsi berbagai variasi sumber nutrisi, dalam jumlah yang tepat untuk tiap individu sesuai usia, jenis kelamin, dan aktivitas. Dengan cara ini penurunan berat badan dapat dicapai dan dipertahankan, karena diet dengan variasi makanan lebih mudah untuk dipatuhi.

• Mitos : Karbohidrat itu menggemukkan
Mitos lain yang banyak dipercaya adalah bahwa makanan sumber karbohidrat membuat gemuk. Faktanya, sumber karbohidrat seperti nasi, roti, pasta, sereal, atau kentang hanya mengandung sedikit kalori dan lemak. Makanan tersebut menjadi menggemukkan jika dimakan dalam porsi besar atau dikonsumsi bersama dengan topping seperti mentega, krim, atau mayonnaise. Sebagai patokan, porsi yang dianjurkan dalam Dietary Guidelines for Americans untuk karbohidrat adalah 6 – 11 servings per hari, tergantung usia dan jenis kelamin. Lalu berapa banyak patokan untuk 1 serving? 1 serving karbohidrat adalah 1 potong roti, 1 ons sereal, atau ½ cup pasta atau nasi (lihat tabel di akhir artikel) 

• Mitos : Jangan mengkonsumsi produk susu, kacang, dan daging
Di satu sisi ada diet tinggi protein, di sisi lain ada juga yang menghindari sumber protein dalam diet mereka. Sebagian besar karena menganggap sumber-sumber tertentu akan menyebabkan kenaikan berat badan, misalnya produk-produk susu, kacang-kacangan, dan daging merah (daging selain unggas atau makanan laut). Padahal, keduanya adalah sumber penting nutrisi, terutama protein dan mineral. 

• Mitos : Konsumsi hanya produk berlabel non fat/low fat
Hal lain yang sering menjebak kita adalah label non fat atau low fat yang sebagian orang artikan sebagai rendah kalori. Yang harus dicermati dari produk-produk tersebut adalah Nutrition Fact Label, karena bisa jadi produk tersebut rendah lemak, namun mengandung banyak gula. Atau serving size (ukuran penyajian) yang digunakan untuk mengklaim produk tersebut non fat atau low fat ternyata lebih kecil dari ukuran penyajian yang umum digunakan. Lebih jauh mengenai Nutrition Fact Label dan cara menerjemahkannya akan lebih baik dibahas terpisah. 

• Mitos : Ada makanan pembakar kalori
Tidak ada makanan yang dapat membakar kalori. Yang membakar kalori adalah aktivitas tubuh. Beberapa zat seperti kafein dapat mempercepat metabolisme tubuh (pembakaran kalori), namun bukan zat itu sendiri yang membakar kalori. Beberapa makanan lain juga dapat menstimulasi enzim-enzim tertentu yang dibutuhkan dalam metabolisme, bukan membakar kalori itu sendiri.

• Mitos : Dilarang makan fast food
Jadi apakah menjalani pola makan sehat berarti harus “menderita” (menderita dalam artian sama sekali tidak boleh mengkonsumsi fast food)? Tidak perlu, karena pola makan sehat disusun justru untuk mencegah kita menderita. Fast food tetap dapat dikonsumsi, dengan frekuensi dan jumlah yang kecil. Cara seperti berbagi satu porsi dengan orang lain dapat digunakan. Lagipula, kadang alasan seseorang mengkonsumsi fast food hanyalah keinginan, bukan karena benar-benar lapar, terutama pada anak-anak. Karena itu, jangan biasakan anak-anak untuk makan fast food. Lebih sedikit frekuensi dan jumlah konsumsi fast food, lebih baik.

• Mitos : Jangan makan setelah pukul 8 malam
Ada pula kepercayaan yang melarang makan setelah pukul 7 atau 8 malam karena hal itu dianggap menggemukkan. Padahal sekali lagi, bukan waktu makan yang menentukan gemuk atau tidaknya seseorang, melainkan keseimbangan antara apa yang dimakan dengan aktivitas yang dilakukan. Yang mungkin mendasari larangan tersebut adalah kecenderungan orang untuk makan camilan (yang seringkali tinggi kalori) sambil menonton televisi pada malam hari sehingga jumlah yang dikonsumsi tidak terkontrol. Jadi selama asupan dan aktivitas kita berimbang, bukan jam yang menentukan apakah kita akan jadi gemuk atau tidak.

• Mitos : Vegetarian lebih sehat
Sebagian orang memilih untuk menjadi vegetarian untuk menjaga kesehatan mereka. Pilihan ini, seperti juga pilihan untuk menjadi non vegetarian, memiliki kelebihan dan kekurangan. Selama orang yang menjadi vegetarian tahu dan mampu mencukupi kebutuhan nutrisinya dari sumber-sumber alternatif, keseimbangan nutrisi mereka akan terjaga. Namun jika ada zat yang berlebih dikonsumsi, mereka juga dapat mengalami kenaikan berat badan atau masalah kesehatan seperti non vegetarian. 
Dengan mengetahui fakta di belakang beberapa mitos mengenai makanan dan kesehatan, semoga resolusi tahun baru kita untuk memulai pola makan yang lebih sehat dapat tercapai. Uraian berikutnya akan membicarakan mengenai Nutrition Fact Label, camilan, dan beberapa hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Selamat tahun baru !