Kontroversi di Balik Bantuan Amerika terhadap Aceh
Oleh: Herbayu Adi

Pemerintah Amerika Serikat telah menjanjikan hampir 15 juta dolar AS kepada Indonesia di samping dukungan militer untuk menanggulangi bencana alam yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara. Dalam siaran pers awal januari yang lalu, Pemerintah AS telah memberikan bantuan kemanusiaan itu segera setelah terjadinya bencana. Indonesia juga akan mendapat prioritas bantuan dari total bantuan Amerika yang berjumlah 350 juta dolar Amerika untuk negara-negara yang tertimpa bencana gempa dan Tsunami seperti yang dijanjikan sebelumnya. 

Bantuan yang diberikan oleh Amerika itu antara lain berupa alat transportasi dan logistik termasuk perlengkapan militer AS, bahan makanan, air minum, tenda dan pelayanan kesehatan. Untuk bantuan kemanusiaan, Amerika memberikan kepada Palang Merah Indonesia (PMI) sebesar 2,1 juta dolar Amerika untuk menjalankan pelayanan darurat kepada korban, termasuk penyediaan tenda, air bersih, bahan makanan dan pelayanan kesehatan. Tim Medis Angkatan Laut AS sudah berada di Meulaboh untuk mulai memberikan pelayan kesehatan yang diperlukan. Komando Militer Pasifik AS bekerja atas permintaan TNI untuk mendirikan rumah sakit darurat di Meulaboh.

Bantuan Amerika ini memicu kontroversi si di kalangan masyarakat Indonesia. Sebagian orang berpendapat betapa “generous”-nya Amerika yang tengah sibuknya mengurus negara Irak, menyempatkan diri untuk turut berpartisipasi dalam pemulihan wilayah Aceh. Sementara di satu sisi masyarakat beranggapan bahwa Amerika mempunyai maksud lain di balik paket-paket bantuannya ini. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, timbul spekulasi-spekulasi di kalangan masyarakat tentang adanya pihak yang dengan sengaja menciptakan bencana yang maha dashyat dengan menggunakan kekuatan militer yang ditunjang dengan bantuan tekhnologi tingkat tinggi, sedemikian rupa sehingga terlihat seperti bencana alam tsunami.

Seperti kita ketahui, Amerika Serikat terus konsisten dengan upayanya dalam memerangi terorisme beberapa tahun belakangan ini semenjak kasus robohnya menara kembar WTC di New York. Sementara itu Indonesia, sama halnya dengan Malaysia sering kali disebut-sebut termasuk negara tempat bersembunyinya jaringan Al-Qaeda yang diduga bertanggung jawab atas terjadinya insiden tersebut. Dengan begitu sudah sewajarnya jika Amerika yang memiliki banyak asset di wilayah ini terutama di Singapura, merasa terancam dengan adanya isu tersebut. Maka dengan alasan menjaga keamanan di wilayah Asia Tenggara, Amerika berencana untuk menempatkan pasukan khususnya di wilayah sekitar Indonesia dan atau Malaysia. Yang pada akhirnya Amerika menjatuhkan pilihannya pada 

Selat Malaka. Padatnya arus keluar masuk kapal di Selat Malaka, menyebabkan alur itu juga berpotensi timbul masalah, di antaranya munculnya aksi pembajakan, penyelundupan. Maka pada akhirnya wilayah ini dianggap sebagai medan krusial dalam perang melawan terorisme. Namun pemerintah Indonesia telah menolak untuk bekerjasama dengan Amerika mengenai rencana penempatan pangkalan militer tersebut, karena daerah itu notabene adalah wilayah teritorial Indonesia, dan TNI-lah yang bertanggung jawab atas keamanannya.

Saat ini negeri Paman Sam telah mengerahkan 13.000 personil, 57 helikopter, dua kapal induk serta 80 pesawatnya ke Aceh. Namun, bantuan ini dituding sejumlah pihak sebagai upaya Amerika mendongkrak citranya, setelah menyerang Irak. Bantuan untuk para korban di Aceh tentunya bukan saja dari negara Amerika, tetapi juga negara-negara sahabat lainnya, atau bahkan negara yang tidak terhitung sebagai negara sahabat sekalipun. Memang sulit untuk menentukan, apakah bantuan yang berdatangan di Aceh, dari berbagai tersebut adalah murni demi kemanusiaan atau ada maksud-maksud politis dibaliknya jika kita memang ingin memperdebatkannya. Memang kita di anugerahi kemampuan untuk berpikir dan berimajinasi tinggi. Akan tetapi untuk kondisi seperti sekarang ini, di mana rakyat Aceh sedang berada dalam kesulitan dan sangat membutuhkan bantuan, ada baiknya jika kita untuk mulai berpikir positif walau tetap waspada.

Sebagai umat manusia, khususnya sebagai umat Muslim tentunya kita percaya pada Sunatullah. Seperti halnya dengan tsunami, tsunami itu adalah sunnah Allah. Sunatullah itu adalah hukum alam. Ada siang ada malam, ada kemarau dan ada musim hujan. Adanya susunan langit dan bumi yang terdiri dari bebatuan, struktur tanah, retakan, atau lahar di dalam perut bumi yang jika muncul ke permukaan terjadilah gunung meletus. Adanya metabolisme alam, seperti halnya jasad manusia dapat mengalami kedutan, bumi juga dapat mengalami kedutan. Kedutan di bagian bumi mengakibatkan bergesernya cairan dan padatan. Dan karena manusia itu sangatlah kecil maka ketika ia ditimpa pergeseran itu dirasakannya sebagai bencana besar.

Kalangan geolog Indonesia tertentu tahun lalu sudah memperingatkan bahwa kemungkinan akan ada perilaku tsunami yang tidak kecil. Sekarang mereka mencucurkan airmata menyesali kenapa peringatan itu tak digubris oleh mereka yang berkewajiban atas keselamatan rakyat Indonesia. Bahkan beberapa saat sebelum terjadinya tsunami, sekelompok hewan sebagai bagian dari ekosistem alam di wilayah terjadinya tsunami, telah berperilaku “unusual” menunjukkan akan terjadinya sesuatu. Alam bukanlah sesuatu yang misterius. Bagi mereka yang akrab dan bersahabat dengan alam, justru alam itu adalah sahabat sejati. Ia selalu memberi pertanda mengenai apa yang sebenarnya akan terjadi. Seperti halnya sebelum terjadi tsunami terlihat arak-arakan burung putih yang terbang 

menuju kota menjauhi laut. Ikan-ikan menggelepar terdampar di pantai. Lain halnya dengan masyarakat Aceh yang masih asing dengan tsunami, masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sudah terbiasa dengan gelombang tsunami akan dapat mengenali pertanda buruk ini. Biasanya sebelum terjadi tsunami, laut akan surut sehingga ikan-ikan akan terdampar. Jika hal ini terjadi masyarakat yang sudah terbiasa akan lansung menjauhi laut, yang tidak terbiasa akan mendekati laut dengan antusias untuk menangkap ikan-ikan

Maka sudah sewajarnya jika kita menyadari bahwa peristiwa Tsunami beberapa waktu yang lalu itu adalah murni bencana alam. Jika memang itu adalah buatan manusia, tidak akan ada arak-arakan burung putih ataupun ikan-ikan yang menggelepar. Maka tidaklah tepat sikap kita jika memiliki prasangka buruk terhadap pihak-pihak yang berupaya menolong rakyat Aceh saat ini. 

Sementara itu, kebijakan pemerintah untuk membatasi keberadaan militer asing di wilayah Aceh, ada baiknya untuk dipertimbangkan lebih lanjut. Mengingat dengan berjalannya waktu, alangkah baiknya apabila keputusan untuk membatasi pertolongan diserahkan kepada para koban. Tak heran apabila sejumlah negara asing yang tergabung dalam PBB, bereaksi keras terhadap keputusan pemerintah yang akan membatasi bantuan yang datang. Hal serupa juga dikemukakan duta besar Amerika, B Lynn Pascoe, yang menyatakan, tentara Amerika dijamin akan segera angkat kaki dari aceh, jika bangsa Indonesia tidak membutuhkannya lagi. Itu sebabnya, Pascoe membantah keras seluruh berita miring tentang aksi Amerika di Aceh. 

"Percayalah pada saya. Tentara Amerika sedang membantu aceh. jangan habiskan waktu anda untuk bertanya tentang motivasi mereka datang ke Aceh serta apakah mereka akan tetap tinggal atau tidak. Rakyat Aceh kini butuh bantuan dan kami membantu mereka"
Keputusan pemerintah bukan tanpa resiko. Mengingat medan yang berat, perbaikan jalan-jalan dan juga infrastruktur lainnya menuju ke daerah terisolasi, bisa jadi bakal makin tertunda. Jika ini terjadi, kondisi rakyat Aceh bakal jadi semakin terpuruk. Selain itu, akibat keputusan ini juga, Indonesia jangan sampai dicap sebagai bangsa yang tidak tahu terima kasih, karena dikesankan telah mengusir tentara dan relawan asing dari Aceh.
(Dikutip dari berbagai sumber)