Aceh: Bantuan dan Do’a
Oleh : Mohamad Setiawan


Pada tanggal 26 Desember 2004, saudara-saudari kita di tanah air khususnya di Aceh dan Sumatra Utara telah mendapat cobaan dari Allah SWT, yaitu berupa bencana Gempa Bumi dan Gelombang Tsunami. Gempa Bumi dengan kekuatan 9.0 (versi USGS) ini yang kemudian disusul dengan gelombang dahsyat Tsunami, merupakan bencana alam yang terbesar selama 40 tahun terakhir, kedahsyatan bencana ini diungkapkan oleh Colin Powell (menteri luar negeri Amerika Serikat):''I have been in wars and I've been through a number of hurricanes, tornadoes and other relief operations, but I have never seen anything like this".

Bencana yang telah meluluh lantakkan propinsi Aceh ini, sampai tulisan ini dibuat, telah mengakibatkan meninggalnya lebih dari 110,000 manusia di Aceh dengan ribuan yang masih hilang, 35,000 anak menjadi yatim piatu, lebih dari 370,000 menjadi pengungsi, 380 sekolah hancur dan sekitar 60-80% bangunan lain yang ada di Aceh rusak. 

Begitu hebatnya bencana ini, maka hampir seluruh warga dunia baik kalangan pemerintah maupun swasta tergerak untuk berlomba-lomba memberikan bantuan, baik berupa uang maupun bahan-bahan kebutuhan hidup. Pengumpulan dan pemberian bantuan ini juga telah menembus batas-batas ras, agama dan usia. Semuanya terpanggil untuk terlibat. 

Indonesia Muslim Foundation (IMF) sebagai wadah resmi (terdaftar sebagai organisasi non profit di USA) dari warga muslim Indonesia di California juga aktif dalam pengumpulan bantuan ini. Mengingat terbatasnya waktu, maka IMF mengumpulkan dana tidak dengan fundraising tapi dengan membuat brosur yang kemudian dibagikan langsung oleh beberapa koordinator IMF kepada sekitar 15 Mesjid atau Islamic Center yang ada di wilayah Los Angeles dan sekitarnya. Hasil yang diperoleh sampai dengan tanggal 15 Januari 2005 adalah sebesar lebih dari $ 20,000.00, dan pengiriman pertama telah dilakukan pada tanggal 5 Desember 2005 sebesar $ 13,276.00 kepada Yayasan Indonesia Cerdas- Jakarta yang mempunyai base camp bencana di Aceh. Insya Allah IMF akan terus membuka dompet sumbangan ini sampai batas waktu yang belum ditentukan. Hal ini mengingat dampak yang sangat luar biasa yang harus ditanggung warga Aceh dan sekitarnya, dan tentunya kita sebagai umat Islam mempunyai kewajiban untuk membantu semaksimal mungkin terhadap saudara/saudari yang sedang mendapat cobaan ini. Sumbangan yang diterima, selain berbentuk uang juga ada dalam bentuk lainnya seperti pakaian dan lain-lain, dimana kemudian disalurkan melalui Tim Bantuan untuk Aceh yang telah dibentuk oleh KJRI-LA bersama-sama masyarakat Indonesia yang berada di wilayah akreditasi KJRI-LA. 

Selain melakukan pengumpulan dana secara langsung, IMF juga hadir pada malam fundraising untuk korban bencana Tsunami, yang diadakan oleh Islamic Relief-USA bekerjasama dengan Shura Council Southern California. Pada fundraising ini berhasil dikumpulkan sumbangan sebesar sekitar $ 1 juta, dimana keseluruhan hasil ini akan diberikan kepada korban bencana di beberapa negara.

Dalam membantu korban bencana alam ini, warga dunia selain mengumpulkan sumbangan juga melakukan do’a, baik sendiri-sendiri sesuai keyakinannya masing-masing (di rumah maupun di tempat peribadatannya), ataupun secara bersama-sama melakukan renungan dan do’a menurut keyakinannya, yang oleh kebiasaan dunia Barat biasa disebut Candlenight Vigil. Masyarakat Indonesia di Los Angeles dan sekitarnya melakukannya di KJRI-LA pada tanggal 6 Januari 2005 dan dihadiri sekitar 300 orang dari berbagai etnis dan agama. IMF sendiri akan hadir dan menjadi salah satu pembicara pada malam Interfaith yang diselenggarakan oleh Interfaith Council of Garden Grove, Stanton and Westminster pada tanggal 20 Januari 2005. 

Dari musibah yang menimpa Aceh ini, ada hikmah yang dapat diambil, yaitu : “Semakin kuat iman seseorang, akan semakin besar pula cobaan (dalam segala bentuk) yang diberikan Allah SWT, dan pada akhirnya, dari semua cobaan dan musibah itu insya Allah akan ada kebaikan dan hikmah yang jauh lebih baik dari sebelumnya”.
(disusun dari berbagai sumber)