Gunakan EID Stamp (Prangko Eid)
Oleh: Sudarmadji

Tanggal 1 September 2001, persis sepuluh hari sebelum tragedi 9/11, United States Postal Services (USPS) meluncurkan prangko baru yang diperuntukan bagi umat Islam Amerika dalam merayakan Idul Fitri  dan Idul Adha. Upacara peluncuran prangko tersebut diadakan dengan sangat meriah di konverensi tahunan ISNA (Islamic Society of North America) di Des Plaines, Illinois, yang dihadiri oleh sekitar 6000 umat Islam. Prangko ini sebagai pengakuan keberadaan Islam di Amerika, seperti diungkapkan oleh Azeezaly S. Jaffer, Vice President, Public Affairs and Communications USPS sebagai berikut:

"This is a proud moment for the Postal Service, the Muslim community, and Americans in general as we issue a postage stamp to honor and commemorate two important Islamic celebrations".  "The Eid stamp will help us highlight the business, educational and social contributions of the estimated six to seven million Muslims in this country whose cultural heritage has become an integral part of the fabric of this great nation."

Pada waktu itu  nama Islam sedang "moncer" di Amerika. Walau demikian terbitnya prangko ini bukan  sekedar hadiah gratis dari USPS ke umat Islam Amerika, namun merupakan perjuangan panjang dan melelahkan. Perjuangan ini di mulai pada tahun 1996 oleh sebuah organisasi Islam  yang mengajukan surat pemintaan resmi ke USPS. Persaingannya sangat ketat, karena menurut pengakuan USPS setiap tahun ada 2000 permintaan penerbitan prangko seri baru. Dari 2000 permintaan tersebut hanya beberapa seri saja yang dikabulkan. Jadi peluang untuk diterbitkan sangat kecil, jauh dibawah satu persen.

Segenap umat Islam di Amerika waktu itu menyambut gembira kedatangan prangko edisi EID ini. Masjid, Islamic center,  grosir Islam, halal meat, internet-store dan institusi Islam lainya berlomba-lomba menjual prangko EID. Bahkan sebagian muslim bersumpah akan menggunakan prangko tersebut untuk segala keperluan di luar waktu Idul Adha dan Idul Fitri. Selain karena mereka bangga untuk menunjukkan identitas mereka sebagai muslim, penampilan prangko tersebut juga sangat indah. Prangko yang kelahiranya dibidani oleh kaligrafer klasik Mohamed Zakariya tampil elegan dengan latar belakang biru dengan kalimat EID Mubarak dalam huruf arab warna kemasan.

Namun sayang seribu yang tragedi  segera 9/11 datang, suasana berubah total, kebanggaan untuk menunjukan identitas Islam berubah menjadi ketakutan. Mereka takut disangka teroris. Ini juga berlaku dalam penggunaan prangko EID. Sebagian besar muslim enggan  (baca: takut) menggunakan prangko tersebut. Prangko tersebut terancam di "discontinued" sebab menurut kelaziman di USPS, jika sebuah seri  perangko yang dicetak tidak habis terjual dalam dua tahun maka prangko tersebut tidak akan dicetak ulang. Padahal untuk seri pertama prangko EID ini dicetak sejumlah 75 juta lembar. Dengan mengambil asumsi optimis, umat Islam di Amerika sebanyak 7,5 juta jiwa, berarti agar prangko tersebut habis terjual dalam 2 tahun maka setiap kepala muslim dari bayi sampai orang dewasa sedikitnya harus menggunakan prangko tersebut 5 lembar prangko per tahun. Jadi kalau keluarga dengan 3 anak minimal harus menggunakan 15 prangko pertahun. Namun karena tidak pernah sensus penduduk resmi dengan mengikutkan agama sebagai data yang ditanyakan, maka tidak ada jaminan bahwa umat Islam di Amerika sebanyak itu, bahkan estimasi pesismis jumlah umat Islam hanya berkisar 2-3 juta.

Ancaman di "discontinued"  menjadi lebih parah,  selain keengganan di atas  ternyata ada masalah tambahan yang ikut menurunkan penggunaan prangko EID, yaitu masalah distribusi. Ternyata tidak semua kantor pos menjual prangko EID, terutama kantor pos kecil di kota pinggiran. Selain itu  ada masalah lain lagi, yakni prangko EID kurang populer di kalangan pegawai pos, jika kita pergi ke kantor pos dan menyatakan akan  membeli prangko EID, sebagian besar mereka tidak tahu prangko yang mana yang kita maksud.

Sekarang tiga tahun sudah prangko EID diluncurkan dan 3 tahun pula 9/11 telah berlalu namun masih banyak muslim yang enggan menggunakan prangko tersebut. Rupanya gejala ini juga ditangkap oleh beberapa organisasi dan tokoh Islam di Amerika. Oleh karena itu pada bulan ini Ramadhan ini mereka mencoba mengingatkan kembali pentingnya penggunaan prangkoEID.

Marilah kita dukung ajakan tersebut agar usaha yang telah diperjuangkan dengan susah payah sekian lama tidak pergi begitu saja dan prangko EID tidak hanya tinggal cerita bagi anak cucu kita. Betul sekarang ini prangko EID masih beredar, hanya saja kita tidak tahu apakah prangko yang beredar sekarang ini adalah prangko cetakan baru atau stok lama dari cetakan pertama. Kalau itu adalah cetakan baru alhamdulillah berarti prangko EID akan langgeng. Akan tetapi kalau itu merupakan stok dari cetakan pertama maka kita akan segera mengucapkan "good bye", "sayonara", "wassalam" atau selamat tinggal EID STAMP".

Mumpung menjelang Hari Raya Idul Fitri rasanya sangat afdhal kalau kita kirim kartu lebaran dengan ditempeli prangko EID. Oleh karenanya, terlepas prangko yang beredar sekarang stok lama atau cetakan baru, marilah ramai-ramai kita membeli dan menggunakan prangko EID. Akan lebih baik lagi jika kita menggunakannya untuk kepentingan lain diluar EID, misal bayar bill dan sebagainya. Insha Allah partisipasi kita bisa melanggengkan keberadaan prangko EID, seperti prangko hari besar agama lainnya.

Jika anda tidak mendapatkannya di kantor pos setempat, anda bisa beli online dengan mengklik link berikut:

BUY EID STAMP
atau
http://shop.usps.com/cgi-bin/vsbv/postal_store_non_ssl/display_products/productDetail.jsp?OID=2689760