Laron Politik
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Sumber: Republika


Laron (Bhs Jawa) dalam Bahasa Indonesia disebut anai-anai, atau rayap, atau semut putih yang bila sudah bersayap suka berkerumun mengelilingi cahaya lampu. Kita tidak tahu mengapa makhluk ini senang sekali dengan cahaya, sekalipun dapat berakibat fatal, sayapnya terbakar atau terlepas dan kemudian jatuh di lantai. Setelah di lantai, laron ini berkeliaran ke sana ke mari tanpa tujuan, kebingungan, tak tahu arah mana yang hendak dituju. Melihat kondisi ini, semut-semut yang bertubuh kecil mulai beraksi menggigiti laron-laron ini untuk disantap setelah dilarikan ke sarangnya. Menghadapi semut, laron yang fisiknya lebih besar, tidak berdaya, kecuali menyerahkan tubuhnya kepada semut yang sering datang bergerombol menyerbunya.

Tetapi, Anda jangan salah sangka bahwa makhluk ini tidak perkasa bila bermusuhan dengan kayu, kecuali kayu jati atau kayu besi. Anai-anai ini sebelum bersayap, biasa membuat lorong-lorong panjang sebagai sarang dan jalan rayanya di pohon-pohon atau pada dinding bangunan yang dapat menghancurkan kayu-kayu itu. Anai-anai dengan keampuhan air liurnya dapat merobohkan bangunan-bangunan besar. Maka terkenallah sebutan, ''Bak kayu dimakan rayap, di luar mulus, di dalam berlobang-lobong.''

Kemudian laron politik adalah laron dalam bentuk manusia yang suka berkerumun di sekeliling seorang tokoh yang sedang bercahaya. Salah seorang tim sukses Jusuf Kalla mengatakan kepada saya bahwa di sekitar SBY dan Kalla banyak sekali laron-laron ini, sehingga teman ini menjadi sungkan untuk selalu mendekat. Khawatir jika berubah jadi laron. Lumayan juga teman ini. Masih mau membuat jarak dengan tokoh yang didukungnya untuk menjadi orang kedua di Indonesia. Ia berucap, ''Saya tidak mau menjadi hamba kekuasaan.'' Petanyaannya adalah: berapa banyak di antara anggota tim sukses ini yang berpendirian seperti teman ini? Bukankah sebagian besar lebih senang menjadi laron dengan segala tingkahnya yang dibuat-buat?

Tentu kita harus jujur, sebab banyak pula anggota tim sukses itu yang sungguh serius untuk membela nasib bangsa dan negara, yang sebagian saya kenal secara dekat, baik sipil maupun pensiunan jenderal. Dengan memperjuangkan tokohnya untuk menjadi pimpinan nasional, kelompok ini benar-benar berharap agar terjadi perbaikan dan perubahan mendasar bagi negeri yang masih tertatih-tatih ini. Salah seorang di antara mereka bahkan mengatakan kepada saya, ''SBY harus dikawal agar tetap tampil sebagai seorang demokrat, jangan sampai menjadi pemimpin feodal karena pengaruh para laron yang pada akhirnya dapat meruntuhkan demokrasi yang telah dibangun dengan susah payah sejak beberapa tahun terakhir ini.''

Harapan semacam ini sebenarnya adalah harapan kita semua. Sekali kita memilih demokrasi sebagai sistem politik, kita harus terus-menerus membenahi dan memperbaiki cara-cara pelaksanaannya yang sering kacau di berbagai negara, karena elitenya bermental menerabas, sempit dada, dan tidak bertanggung jawab. Dalam perspektif Pemilu 2004, secara teknis dan prosedural, proses demokrasi di Indonesia sungguh mengagumkan.

Manusia yang bermental laron ini tidak saja dijumpai di Indonesia, tetapi ada di mana-mana, bahkan di negara maju sekalipun. Bedanya barangkali terletak pada fakta, jika di Indonesia jumlahnya terlalu banyak, sementara di negara maju rasa malu masih dapat mencegah tampilnya laron-laron itu dalam jumlah besar. Laron-laron di Indonesia juga beterbangan di sekitar kiai, dukun, tokoh tarekat, wali kota, bupati, gubernur, direktur, dirjen, dan menteri. Kerja utama mereka ialah memuji dan membesar-besarkan sang tokoh. Jika tidak awas, sang tokoh pada akhirnya menjadi lupa daratan dan lupa lautan. Kalau sudah berada dalam kondisi semacam ini, sudah hampir dapat dipastikan bahwa hari depan sang tokoh sudah berada di pinggir jurang, sementara negara yang dipimpinnya akan bangkrut. Dengan tidak perlu menyebut nama, Indonesia sangat berpengalaman menonton keterkaitan antara peran laron dan jatuhnya sang tokoh.

Akhirnya, kita berharap bahwa demokrasi Indonesia secara berangsur tetapi pasti akan membebaskan dirinya dari laron-laron politik ini. Dengan semakin cerdasnya rakyat kita, laron-laron itu pada akhirnya tidak akan laku lagi di pasaran politik. Oleh sebab itu, menjadi tugas para pemimpin, formal dan informal, untuk mempercepat proses pencerdasan dan pencerahan untuk kepentingan bangsa ini secara keseluruhan. Demokrasi akan menderita bila terpegang tangan manusia yang bermental laron atau manusia penjilat!