Pulang menjenguk sahabat yang baru datang dari
Tanah Suci, saya dan seorang teman terlibat diskusi yang hangat. Awalnya dari
pengalaman kami di rumah sahabat itu. Di sana di antara para tamu, ada seorang
lelaki yang sering mengusap air mata. Kami tahu laki-laki itu sudah naik haji
beberapa tahun yang lalu.
Dan selalu berurai air mata bila menjenguk orang
yang baru pulang atau mau berangkat ke Tanah Suci.Yang kami dengar, orang itu
konon selalu teringat kembali pengalaman menunaikan ibadah haji. Terharu, dan
air matanya akan berjatuhan.''Ghirah Pak Haji, atau emosi keberagamannya
sangat tinggi. Dan dia dikaruniai hati serta mata yang bisa menangis. Orang
seperti itu mampu merasakan nikmatnya beribadah,'' begitu kata saya pada awalnya.
''Nah, kamu sendiri sudah haji. Kok, tidak seperti
dia; selalu terkenang
kembali Masjidil Haram, Arafah, Mina, Masjid Nabawi dan menangis?''
''Saya juga sering terkenang semuanya. Tapi tak pernah sampai menangis.''
''Kenapa bisa begitu?''
''Mungkin dalam menunaikan ibadah haji, saya hanya mendapat
pengalaman spiritual sedikit saja. Yang banyak adalah pengalaman dalam kesadaran
empirik. Jelasnya, dalam beribadah haji saya terlalu rasional. Atau hati saya
memang keras. Nah, itu jelek, kan?''
''Saya kira tak ada jeleknya mengembangkan rasionalitas, bukan rasionalisme,
dalam melakukan ibadah haji. Maksud saya begini. Dimensi ritual yang menyangkut
syarat-rukun serta wajib-sunahnya haji jelas harus dilaksanakan sebaik-baiknya.
Itu urusan fikih. Dimensi ini akan menjadikan kita bisa memiliki kesalehan
ritual.''
''Ya, terusnya?'' tanya saya.
''Rasionalitas ibadah haji berangkat dari falsafah kehajian. Karena, seperti
rukun Islam lainnya, ibadah haji pada sisi ritualnya adalah simbol yang hanya
bermatra vertikal. Sedangkan matra sosial ada maknanya.''
''Pikiranmu rumit. Coba disahajakan,'' pinta saya.
''Begini. Kalau ibadah shalat sesungguhnya(!) dapat mencegah kita dari perbuatan
keji dan mungkar, dan puasa akan menghasilkan ketakwaan, analoginya dapat juga
ditarik dari ibadah haji. Ibadah ini akan menghasilkan sifat yang bagaimana?''
''Ya bagaimana?'' kejar saya. ''Mari kita kembali ke simbol. Ibadah haji
ditradisikan sejak Nabi Ibrahim yang kita percaya sebagai bapak tauhid. Dalam
kaitannya dengan ibadah haji, kita tahu beliau diminta berkurban. Yang diminta
dikurbankan untuk Allah adalah sesuatu yang paling beliau sayangi dalam hidup;
anak kesayangan beliau sendiri, Nabi Ismail. Dan kalau tidak dihentikan oleh
Allah sendiri beliau akan melaksanakannya.''
''Ah, semua orang tahu kisah itu. Ceritamu nggak ada yang baru.''
''Memang. Tapi saya ingin mengatakan, mari kita ikuti amal Nabi Ibrahim kalau
ingin jadi haji yang benar.''
''Nah, kita sudah memotong sapi atau kambing untuk kurban. Bukankah itu meniru
amal Nabi Ibrahim?''
''Betul. Namun itu kan baru simbol.''
''Simbol bagaimana? Potong hewan kurban kan sesuatu yang nyata, dampaknya juga
jelas terasa.''
''Iya. Tapi dengar dulu. Simbol ekstrem yang dipercontohkan Nabi Ibrahim,
intinya adalah jangan mencintai dunia lebih dari mencintai Allah dan Rasulnya.
Selain Allah dan rasulnya jangan disayang-sayang, dan berikan bila ada yang
lebih membutuhkannya. Seperti dalam kisah simbolik itu; anakpun diberikan bila
diminta oleh Allah.''
''Ya, saya setuju. Terus?''
''Jadi menurut saya sih, makna horisontal ibadah haji adalah proklamasi diri.
Bahwa dengan ibadah ke Tanah Suci seseorang telah menyatakan diri sebagai
manusia yang merasa nikmat ketika memberi atau berkurban kapan saja dan dimana
saja. Logika kebalikannya adalah, dia akan malu menerima, apalagi mengambil
sesuatu yang tidak halal baginya. Nah, kamu sudah haji. Bagaimana kalau motormu
yang butut dijual dan uangnya dikirim untuk anak yatim di Aceh. Boleh? Juga
jangan pernah korupsi karena itu melanggar falsafah kehajian. Mau?''
Saya malu. Ternyata kehajian saya tidak membuat saya punya kesalehan spiritual,
juga tidak secara sosial.Astaghfirullah.