Gedung Putih dan Tsunami Neo-Konservatisme 
Oleh : Ahmad Syafii Maarif 


Sebelum disumpah sebagai saksi a de Charge (saksi yang diminta tim pembela Ba'asyir) pada 13 Januari 2005 di Departemen Pertanian, saya sempat berbincang-bincang dengan para pembela, Fred Burks, Ba'asyir sendiri, dan para pendukungnya. Saya katakan bahwa orang boleh benci terhadap imperialisme Amerika yang kini dipelopori oleh kaum neo-konservatif, tetapi jangan membuat generalisasi: membenci semua orang Amerika. 

Buktinya, ini Fred Burks, saksi pembela kasus Ba'asyir, adalah asli Amerika. Ungkapan ini sengaja dilontarkan sebab dari pengamatan selama ini, jika seorang Presiden Amerika bikin kacau dunia, lalu orang lalu membenci seluruh rakyat Amerika, yang ternyata intensitas kebencian sebagian mereka terhadap pemerintahnya sendiri mungkin melebihi kita. Agama mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap adil terhadap siapa pun.

Saya termasuk yang beruntung karena literatur tentang hegemoni imperialistik Amerika yang saya miliki umumnya ditulis oleh rakyat Amerika sendiri yang cemas melihat petualangan global yang dilakukan oleh pemerintahnya, terakhir oleh Presiden Bush yang tidak peduli dengan penderitaan umat manusia akibat politik luar negerinya yang berpola tunggal, sangat primitif, hitam-putih dalam formula: you are either "with us or against us". (Lihat misalnya Stefan Halper dan Jonathan Clarke, America Alone: the Neo-Conservatives and the Global Order. Cambridge: the Press Syndicate of the University of Cambridge, 2004, hlm. 15).

Kedua penulis ini adalah dari kubu konservatif, tetapi apa yang berlaku sekarang ini, menurut mereka, sudah terlalu jauh menyimpang dari filosofi mereka yang sebenarnya. Maka karya ini adalah kritik terbuka mereka terhadap neo-konservatisme yang telah semakin mengucilkan Amerika dalam pergaulan dunia. Gedung Putih sekarang sedang berada dalam genggaman gelombang tsunami (jika istilah ini boleh dipakai) neo-konservatisme itu.

Menurut penulis, kaum neo-konservatif bersatu dalam tiga tema: 
1. Sebuah kepercayaan yang berasal dari keyakinan agama bahwa kondisi umat manusia didefiniskan sebagai pilihan antara baik dan jahat dan bahwa ukuran yang benar dalam karakter politik harus ditemukan dalam kemaun yang pertama (mereka sendiri) untuk menghadapi yang kedua.
2.Sebuah penegasan bahwa penentu utama dalam hubungan antar-negara terletak pada kekuatan militer dan kesediaan untuk menggunakannya. 
3. Fokus pokok adalah atas Timur Tengah dan Islam global sebagai panggung utama bagi kepentingan seberang laut Amerika. (Halaman 11).

Simak baik-baik ketiga tema itu, betapa mengerikan dalam implementasinya yang sekarang sudah dimulai. Perang Afghanistan dan Irak adalah realisasi dari tema itu. Mungkin sebentar lagi Iran akan dihantam pula, melalui berbagai alasan yang sangat primitif. Sayang seribu kali sayang sebagian bangsa Muslim karena murakkab naqs (rasa rendah diri) dan kepentingan sesaat telah turut sebagai pemain pinggir dalam petualangan yang dapat menjurus kepada Perang Dunia IV, jika Perang Dingin kita kategorikan sebagai Perang Dunia III. Penyertaan beberapa negara Muslim dalam Perang Afghanistan dan Irak harus dibaca dalam konteks ini, terlepas dari kritik keras kita kepada rezim Taliban dan kediktatoran Saddam Hussein.

Menurut hemat saya, gelombang tsunami neo-konservatif ini hanyalah mungkin dihadapi manakala bangsa-bangsa Muslim menyadari akan bahaya dahsyat yang menghadang di depannya, kemudian mereka mau menjalin kerja sama dengan kekuatan-kekuatan lain yang juga sedang terancam oleh gelombang ini. Uni Eropa, rakyat Amerika yang siuman, Cina, India, Jepang haruslah diajak berunding untuk merumuskan langkah dan strategi yang tepat untuk menyelamatkan hari depan peradaban umat manusia yang sedang dikangkangi oleh formula: "either with us or against us" (ikut kami atau melawan kami). 

Visi parokial yang sering diperlihatkan oleh sementara pemimpin formal Muslim dari berbagai negara sangat merintangi kemungkinan kerja sama untuk menggalang kekuatan moral global itu. Dalam perspektif ini, saya juga cemas melihat bahwa kekuatan-kekuatan fundamentalis di negeri Muslim tidak mustahil dapat dijadikan alat (mungkin tanpa disadari) politik neo-konservatisme Amerika yang memakai kaca mata hitam-putih itu. Siapa pelatih veteran Afghanistan sebelum Uni Soviet hancur? Semua orang sudah tahu bahwa CIA dan personel Amerika adalah bagian dari pelatih dan penyandang dana untuk itu.

Akhirnya, dalam sebuah dunia yang jauh dari suasana damai dan rasa aman ini, ungkapan al-Quran dalam surat al-Hasyr: 2, yang berbunyi: "Fa'tabiru ya uli 'l-abshar" (Maka ambillah i'tibar wahai kamu yang dikurniai penglihatan yang menembus!) perlu kita cernakan berulang-ulang. Pertanyaan saya yang belum juga terjawab adalah: "Kapan umat Islam ini menjadi tuan yang cerdas di tanah airnya sendiri?"