Ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi memungkinkan orang mendapatkan cara mengganti fungsi ginjal. Sehingga, hidup tanpa ginjal pun bisa.
Setiap organ tubuh memiliki tugas penting dan mulia bagi tubuh. Layaknya mesin pada sebuah pabrik, masing-masing saling terkait, menghasilkan karya yang menentukan kehidupan manusia. Bila ada satu saja yang tidak berjalan semestinya, karena terganggu oleh penyakit, akan berakibat pada perubahan mekanisme tubuh. Kesehatan badan pun terganggu.
Ginjal, misalnya. Kedokteran biasa menyebutnya 'ren.' (renal/kidney) Ukurannya kira-kira 11x6x3 cm. Beratnya antara 120-170 gram. Rata-rata beratnya 150 gram. Walaupun ringan, fungsinya amat vital dan kompleks. Setiap menit sebanyak 1.300 cc darah mengalir ke ginjal. Ia berfungsi menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh. Zat-zat sisa itu biasa disebut zat-zat toksik (racun). Karena tidak lagi berguna, racun tersebut dikeluarkan dari tubuh lewat air seni (urin). ''Fungsi menyaring ini dikenal sebagai fungsi filtrasi,'' kata Dr Tunggul D Situmorang, Dipl/M Med Si, SpPD-KGH, direktur medik RS PGI Cikini, Jakarta.
Untuk mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme tersebut diperlukan urin ideal kira-kira 1,5 liter per hari. Setiap satu kilogram berat badan harus menghasilkan satu cc urin per menit. Menurut Tunggul, jumlah urin minimal yang dianggap cukup untuk melarutkan zat-zat toksik adalah sebanyak 600 cc/24 jam. Bila kurang dari 200 cc/24 jam, lanjutnya, maka itu pertanda bahaya.
Fungsi ginjal
Masih ada fungsi-fungsi lainnya. Fungsi reasorbsi (penyerapan kembali)
elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian ginjal yang bernama tubulus. Juga
ada fungsi mengeluarkan elektrolit dan menjaga keseimbangan asam basa.
Keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa perlu dipertahankan guna menghadapi situasi berbeda dari dalam maupun luar tubuh. Misalnya, kekurangan atau kelebihan air, perubahan suhu udara, olahraga fisik, diare, dan sebagainya. Fungsi lain ginjal yang juga penting adalah fungsi hormomal. Di sini ginjal menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel darah merah (SDM) di sumsum tulang.
Life style
Sayang, mekanisme ginjal yang demikian kompleks diganggu, dan bahkan dirusak
dengan sengaja oleh pemiliknya. Life style menjadi salah satu penyebabnya.
Makanan berlemak, kolesterol tinggi, kurang olahraga, merokok, minum minuman
keras. Dan, akhirnya diabetes.
Diabetes menyebabkan sekitar 40 persen gagal ginjal. Di Indonesia penyakit gagal ginjal mencapai 20 persen. Menurut Direktur Pemasaran PT Kalbe farma, Ira Setyawati, life style menyebabkan tingkat gagal ginjal meningkat 1-2 persen dari penduduk Indonesia.
Disebut gagal ginjal kronik adalah bila ginjal mengalami kerusakan yang sudah menahun sehingga kedua ginjal tidak dapat menjalankan fungsinya seperti biasa. Karena gagal ginjal merupakan penyakit yang gejalanya tidak jelas dan perlu waktu bertahun-tahun untuk diketahui keparahannya, maka biasanya penderita baru merasakannya bila fungsi ginjalnya menurun sebanyak 25 persen. Tak heran bila pasien datang ke dokter setelah pada tahap kronik.
Gejala gagal ginjal kronik:
1. Kurang napsu makan, mual, dan muntah.
2. Pembengkakan tangan, kaki, wajah, dan sekitar mata.
3. Pusat, letih, lemas, dan lesu.
4. Pada awal penyakit penderita sering kencing. Namun, semakin penyakit
bertambah parah (stadium akhir) kecing justru berkurang.
5. Kulit gatal-gatal.
6. Sesak napas.
7. Pingsan.
Harapan
Tunggul, yang juga dosen Ilmu Penyakit Dalam FK UI, mengungkapkan, ada lima
tahap fungsi ginjal. Fungsi lebih dari 90 persen, fungsi 60-89 persen, 30-59
persen, 15-29 persen, dan kurang dari 15 persen.
Bila seseorang memiliki fungsi ginjal kurang dari 15 persen, ia harus disiapkan untuk penggantian fungsi ginjal. Artinya, ia telah mengalami gagal ginjal kronik. ''Ada yang menganggap gagal ginjal akhir dari segalanya,'' ungkat Tunggul, yang juga menjabat koordinator Penyakit Dalam Ginjal Hipertensi (PDGH) RS PGI Cikini.
Kemajuan ilmu pengetahuan, lanjutnya, memungkinkan fungsi ginjal digantikan. Tunggul menyebut penggantian fungsi tersebut sebagai Renal Replacement Therapy (RRT) atau Terapi Pengganti Ginjal (TPG). Ada dua cara TPG, yakni dialisis dan transplantasi. Dialisis sendiri ada dua, berupa hemodialisis (HD) dan peritoneal dialisis (PD). Perbedaan keduanya sebagai berikut:
Istilah 'Gagal Ginjal' dan 'Cuci Darah' Tak Tepat
Orang biasa menyebut orang yang ginjalnya tak lagi berfungsi penuh sebagai gagal ginjal. Istilah 'gagal ginjal,' kata Dr Tunggul D Situmorang, Dipl./M.Med Si, SpPG-KGH, memberi kesan mengerikan. Ia menyarankan istilah 'gagal ginjal' diganti dengan penyakit ginjal kronik sehingga memberi kesan bukan suatu kegagalan.
Menyebut 'gagal ginjal' terkait dengan 'cuci darah.' Tunggul pun tidak setuju istilah 'cuci darah' dipakai untuk mengartikan dialisis. Sebab, lanjutnya, darah tidak pernah bisa dicuci, melainkan dibersihkan dari zat-zat toksik. ''Di lain pihak istilah ini (cuci darah-Red) memberikan konotasi yang buruk, tidak mendidik,'' katanya pada acara yang diadakan PT Kalbe Farma, beberapa waktu lalu di Jakarta.