Cerita di Balik Penangkapan PSK Asing
Oleh : Iwan Santosa

Akhir pekan di sebuah spa "S" di Kelapa Gading, Jakarta Utara, puluhan pria Indonesia terlihat berbaur bersama lebih dari seratus perempuan asing. Sebagian besar—lebih dari 40 orang—adalah perempuan Tionghoa asal China, sisanya perempuan kulit putih asal Rusia, Uzbekistan, Tajik, dan sejumlah perempuan Thailand yang menjadi "kembang" di spa "S" yang memiliki jaringan di sejumlah lokasi di Jakarta.

Para wanita tersebut kebanyakan berbusana dengan model "terbuka". Mereka berbaris di hadapan tamu yang baru datang seraya menebar senyum.

Sejumlah pria dan wanita yang menjadi perantara menghampiri para tamu seraya menawarkan layanan pijat refleksi di hall ataupun pijat seluruh badan. "Masih muda-muda bos. Kalau refleksi tiga ratus ribu rupiah. Kalau pijat plus satu setengah juta rupiah...," ujar seorang petugas klub.

Akhirnya seorang perempuan Tionghoa pun datang dan mengenalkan diri sebagai Ying-Ying. "Ni hao," jawabnya saat disapa dalam bahasa Mandarin.

Perempuan berusia 22 tahun itu semula bercakap, bergurau dengan santai sambil memijit refleksi. Namun, suasana berubah ketika ditanya asal-muasal kedatangan dan apakah dia bisa pergi menemani keluar.

"Wo jie lao ban san qian mei jin (saya pinjam uang bos tiga ribu dollar AS)," ujar Ying-Ying asal Guanghzou sambil memijat kaki. Uang tersebut menjadi panjar kedatangan Ying-Ying untuk "bekerja" selama tiga bulan di Jakarta.

Dari mulut Ying-Ying terkuaklah cerita panjang tentang perdagangan perempuan antarnegara. Menurut dia, kalau mau menebusnya sebesar 3.000 dollar AS, pelanggan dapat membawa lalu memelihara dirinya.

Kalau tidak, tentu saja dia harus tetap tinggal di Spa "S" sampai habis masa kontrak. Setelah kontrak usai, dia mendapat bagi hasil dari pendapatan selama bekerja di Spa "S". Tentu saja sebagian besar uang masuk ke dalam jaringan yang mempekerjakan Ying-Ying dan ratusan wanita lain sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Lokasi PSK asing tersebar luas di seantero Jakarta. Sejumlah spa malah memiliki kebiasaan, pada jam tertentu para wanita asing itu ikut menceburkan diri ke kolam air hangat bersama para pelanggan.

Sayang, mereka yang merupakan korban trafficking ini berulang kali dirazia dan menjadi "obyek" oleh sejumlah penegak hukum negeri ini.

Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin terbilang getol merazia para PSK asing. Sejak awal menduduki jabatan, ia sudah berulang kali memimpin langsung penangkapan.

Ditangkap menjelang pulang

Bulan ini, 44 PSK asal China ditangkap aparat dari sejumlah tempat di Jakarta. Terakhir, sepanjang Selasa-Rabu (5-6/12), sejumlah gigolo asal India dan Afrika juga ditangkap.

Yang menarik, dalam sejumlah operasi sebelumnya, sebagian PSK yang ditangkap mengaku mereka sudah memasuki akhir masa kontrak ataupun bersiap-siap pulang ke negeri asal. Saat polisi menggelar Operasi Kencana Pura tahun lalu, misalnya, sebagian dari mereka mengaku sedang bersiap-siap pulang ke Guangzhou.

Kala itu, sejumlah perempuan yang hanya bisa berbahasa Mandarin itu mengaku sudah akan pulang ke negeri mereka Rabu ini. Entah mengapa mereka mendadak ditahan petugas karena selama berbulan-bulan berada di Jakarta tidak pernah ada masalah.

Di dekat ruang pemeriksaan, seorang pria yang memegang tiket pesawat Batavia Air mengaku akan mengantar para wanita itu ke bandar udara. Namun, karena diamankan petugas, kepulangan mereka terpaksa dibatalkan.

Operasi tersebut diduga bocor karena di sebagian besar tempat yang menjadi sasaran operasi biasanya terdapat ratusan perempuan warga negara asing dari China, Rusia, Uzbekistan, Thailand, Filipina, dan Amerika Latin.

Menanggapi dugaan adanya modus kerja sama jaringan pemasok PSK asing dengan aparat, Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Departemen Hukum dan HAM Cecep Supriyatna Anwar menegaskan, pihaknya menjalankan operasi penindakan pelanggaran keimigrasian dengan serius.

"Ini merupakan hasil operasi intelijen yang ditindaklanjuti oleh Direktorat Penyidikan dan Penindakan. Kami juga bekerja sama dengan kepolisian," ujar Cecep.

Pihak imigrasi juga mempersiapkan sistem online di 126 pos pemeriksaan di seluruh Indonesia untuk menangkal masuknya PSK asing.

Namun, kondisi lapangan berbicara lain. PSK yang tertangkap dan dipulangkan selalu hanya sebagian kecil dari seluruh pendatang haram yang ada di sebuah lokasi hiburan. Ini masih menjadi misteri di balik "penangkapan" PSK asing di Jakarta. (Iwan Santosa)