Camkanlah Ayat-ayat Allah
Oleh : Abu Tajuddin
Bagian 1

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Peristiwa yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) bukanlah kejadian yang pertama dan satu-satunya yang terjadi di muka bumi. Secara ilmu pengetahuan dapat dikatakan memiliki siklus yang memungkinkan dapat diprediksi atau dihitung kapan akan terjadi, meskipun tidak akurat hingga satuan detik.

Yang sekarang menjadi salah satu pertanyaan di dalam pikiran kita adalah, “Mengapa ini terjadi di Indonesia yang notabene merupakan The Biggest Moslem Country in The World?” Selanjutnya, “Kenapa harus Aceh yang merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang menjadikan Syariat Islam sebagai aturan resmi kemasyarakatan?” 

Ketika kita menyaksikan sungai Gangga di India meluap hingga menelan korban ribuan orang, kita menganggap bahwa itu karena mereka masih percaya dengan kekeramatan sungai tersebut. Siapa yang berendam atau mandi di sungai itu pada hari-hari tertentu, maka akan membawa perubahan dalam hidup atau keberuntungan, dlsb. Jadi karena syirik, mereka mendapat balasan demikian.

Kemudian, yang terjadi di Alor dan Nabire, kita bilang itu karena mereka tidak bertauhid pada Allah, dengan kata lain mereka non-muslim. Jadi tidak patuh kepada Allah.

Gempa juga terjadi di Jepang beberapa tahun yang lalu dengan kekuatan lebih dari 7,5 Skala Richter (SR) hingga meruntuhkan banyak bangunan, serta menelan korban yang tidak sedikit jumlahnya. Dan kita berasumsi bahwa mereka sudah takabur karena dengan bangganya mempublikasikan bahwa mereka sudah membangun bangunan-bangunan yang tahan gempa hingga 7,3 SR.

Bagaimana dengan Turki? Beberapa kota di negara itu luluh lantak oleh gempa juga, dan merenggut korban lebih dari 70.000 jiwa. Dengan mudah kita bilang bahwa karena mereka sudah banyak meninggalkan aqidah dan syariah Islam, berpaling dari kehidupan Islami ke sekuler (jahiliy)
Nah…bagaimana dengan Aceh?

Tampaknya kita terlalu mudah untuk menyimpulkan meskipun kita ‘merasa’ memiliki data penunjang yang menguatkan pendapat kita tersebut.
Murka Allah…., azab….., dan kiamat kecil menjadi istilah dalam menilai gempa yang diikuti oleh gelombang tsunami di Aceh, sering terlontar dari mulut salah seorang yang sedang berkumpul dan membicarakan masalah Aceh.

Coba kita balik sekarang pertanyaannya dari sudut pandang yang lain.

“Sudah separah itukah Aceh sehingga pantas mendapat ‘azab’ dari Allah?” Atau pertanyaan seperti ini, “Apakah Aceh merupakan kota yang paling besar kemaksiatannya di antara kota-kota lain di Indonesia dan bahkan dengan tempat kita sekarang ini?” Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dapat menjadikan kita lebih arif dalam memandang dan berpikir, sehingga tidak dengan mudah memberikan vonis pada sebuah peristiwa yang sudah barang tentu tidak lepas dari rencana Allah.

Allah berfirman, “…dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (Q.S. Al Infithaar [82] : 3-5)

Menyimak firman di atas, bisa jadi Allah hanya ingin menunjukkan pada kita wahai ‘muslim Indonesia’ – sengaja kami gunakan istilah ‘muslim Indonesia’ karena sudah begitu tak pedulinya kita bila musibah itu menimpa negara lain ataupun umat beragama lain – bahwa ayat Allah itu meskipun hanya 3 ayat, adalah BENAR.

Laut yang tenang, indah dipandang dengan pantai yang sejuk, segar dan tempat berekreasi, tiba-tiba meluap, menghempas semua yang menghadangnya, melumat seluruh benda yang telah direnggutnya hingga berkilometer jauhnya dari tempat asalnya (pantai). 

Suasana penuh keceriaan, senda gurau, ramah, dan banyak orang yang berinteraksi di sekitarnya, tiba-tiba berubah menjadi suasana yang mencekam, histeris, kacau balau dan akhirnya bak kuburan tanpa liang lahat karena disetiap kaki melangkah dapat ditemui mayat-mayat yang bergelimpangan tak beraturan. Ada yang terlentang dengan tangan timpa batang pohon. Ada yang compang-camping pakaiannya bahkan lebih dari itu, tanpa sehelai benang tersisa di tubuhnya tidak hanya laki-laki saja, namun wanita juga. Ada yang tersayat-sayat tubuhnya, ada pula yang tampak tulang belulangnya. Ada yang tergeletak begitu saja di antara balok-balok kayu dan ada pula yang hanya kelihatan bagian kakinya karena separuh tubuh bagian atas mengarah ke bawah dan tertimbun puing-puing reruntuhan. Ada yang bersih kulitnya bak tak tersentuh oleh lumpur maupun gesekan lembaran seng dan ada pula yang hitam kelam bagai terpanggang api.

Yang meninggal tidak dapat kita katakan naas dan yang hidup setelah terhindar dari musibah itu tidak kita sebut sebagai orang yang beruntung, karena Allah-lah yang Maha Mengetahui atas segala peristiwa.

Wallahua’lam. 
Lake Forest, 8 Muharam 1426 

“Setiap kenikmatan yang tidak mendekatkan diri kepada Allah adalah bencana”