Wajah Film Indonesia: Brownies

Kancah dunia film Indonesia, sepertinya tidak akan pernah kehabisan bintang dan tema perfileman. Setelah berduyun-duyun para bintang film (baca : artis) berganti profesi dari yang semula bintang film menjadi bintang politik (baca : anggota DPR), maka kini dunia film Indonesia banyak diwarnai dengan kehadiran para bintang baru dan tema-tema film baru yang penuh dengan terobosan-terobosan yang kadang kontroversial. 

Setelah sukses dengan Disini Ada Setan The Movie dan Mengejar Matahari yang menjadi The Best Indonesian Movie dalam Bali International Film Festival, rumah produksi Sinemart kembali meluncurkan film layar lebar ketiganya, Brownies. Yang cukup menarik dalam film ini adalah konsep idenya. Brownies, adalah sebuah penggambaran psikologi orang - orang muda zaman sekarang. Mereka yang secara penampilan sekilas kelihatan tangguh dan memiliki percaya diri tinggi, namun dalam realitasnya selalu diliputi rasa kesepian dan rapuh. 

Inilah sekelumit sketsa dari pribadi kawula muda yang sesungguhnya, terutama mereka yang hidup di kota metropolitan. Selama ini kawula muda kerap digambarkan sebagai pribadi dinamis, memiliki optimisme yang tinggi, pembaharu, serta anti kemapanan. Namun di balik semua persepsi itu, ternyata kawula muda juga memiliki sisi lain, sisi yang selalu haus akan perhatian orang-orang sekitarnya. 

Seperti kue Brownies, kue yang dibuat pertama kali di Boston, AS. Menurut sejarahnya, kue ini ternyata kue yang salah buat, tetapi ketika kue ini hendak dibuang, sempat dicicipi, ternyata kue ini memiliki rasa tersendiri. 

Masa muda adalah masa yang penuh dinamika, di mana seseorang mengalami masa transisi yang penuh dengan tantangan untuk pertama kalinya. Konflik batin kerap mewarnai perjalanan pribadi seseorang dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan, di mana tanggung jawab dan realitas dunia mulai menampakkan wujud aslinya. Tidak jarang remaja bertindak sesuai dengan kata hatinya tanpa diiringi dengan kedewasaan dalam berpikir. Dalam hal inilah kesalahan kerap terjadi. 

Dan layaknya seperti sepotong kue brownies, pahitnya kehidupan menjadi rasa tersendiri yang akan terpatri dalam sanubari pribadi tersebut.

(wisnu budi-dari berbagai sumber)