SANG PUTRI DAN JENDERAL
oleh : Mohamad Setiawan

Di saat akan berakhirnya tahun 2004 dan di awal masa pemerintahannya, Presiden terpilih Jenderal (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono kelihatannya harus menghadapi cobaan yang sangat berat. Hal ini disebabkan, karena sehari setelah Presiden SBY mencanangkan :
“Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi” di Istana Negara tanggal 9 Desember 2004, dan mengatakan bahwa : “Korupsi yang merupakan tindakan kejahatan harus diberantas dengan cara-cara luar biasa”, di belahan bumi lain yaitu di Inggris tengah di publikasikan secara luas oleh harian terkemuka di Negara tersebut, the Guardian, skandal pembelian tank Scorpion (pada tahun 1995) yang diduga melibatkan Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut), sang putri mantan orang kuat Indonesia Jenderal (Purn.) Suharto.

Sang putri ini disebutkan oleh the Guardian edisi 9 Desember 2004 telah menerima pembayaran dari BAE (perusahaan senjata terbesar di Inggris) sebesar 16.5 juta poundsterling (Rp.260 milyar-dengan kurs sekarang) untuk mempercepat kontrak dan pencairan dana kontrak pembelian 50 tank Scorpion senilai 160 juta poundsterling (sekitar Rp. 2.7 triliun), keterangan ini didasarkan atas dokumen kesaksian di pengadilan dari Eksekutif Alvis, produsen tank Scorpion, yang juga anak perusahaan BAE. 

Dalam tulisan yang dikeluarkan the Guardian tersebut, dikatakan bahwa jual beli puluhan tank itu harus dilakukan oleh anggota keluarga TNI dan eksekusi pembeliannya pun harus melibatkan perusahaan milik TNI. Adapun untuk mencairkan dana pembayaran maka pihak Alvis harus menyetorkan komisi sebesar 10 % dari nilai kontrak pembelian kepada sang putri, yang mereka sebut sebagai madam Tutut, dan ini diakui telah dilakukan pihak Alvis dengan menyetorkan ke rekening sang putri di luar negeri.

Untuk melancarkan transaksi jual beli tank ini, sang putri juga sempat mengajak 2 orang jenderal meninjau pabrik tank tersebut di Inggris. Ke dua jenderal itu adalah Letjen (purn) HBL Mantiri (waktu itu adalah Kasum ABRI) dan Jenderal (purn) Hartono (waktu itu Kassospol ABRI), yang disebut oleh the Guardian sebagai has been extremely close to Ms Tutut for years. Kepada Liputan 6 SCTV, mantan Kepala Staf Umum ABRI Letnan Jenderal (Purn) HBL Mantiri membenarkan kalau Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana terlibat. H.B.L. Mantiri mengatakan, saat itu pembelian dimasukkan dalam kebutuhan mendesak yang bisa dikeluarkan dananya dari nonbujeter. Sedang Jenderal (purn) Hartono mengakui bahwa pada Juli 1994 bersama Kepala Staf Umum (Kasum) ABRI HBL Mantiri, diajak oleh putri mantan Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana (Tutut) untuk melihat tank itu ke London, Inggris. Namun, kata Hartono, saat itu pembelian tank sudah ditandatangani. “Jadi, Alvis sudah berhubungan langsung dengan Mbak Tutut,” kata Hartono.

Dalam menghadapi berita dari Inggris ini, seperti dilansir oleh Liputan 6, kuasa hukum sang putri, Elsa Syarif S.H membantah keterlibatan kliennya dalam pembelian 50 tank Scorpion 10 tahun silam. Menurut Elsa, saat itu Tutut hanya bertindak sebagai konsultan. Untuk kasus ini, menurut Elsa, Tutut merasa hanya dikait-kaitkan dalam perseteruan the Guardian dan produsen tank Scorpion, PT Alvis. "Klien saya [Tutut] mengatakan tidak tahu menahu dan kasus itu tidak ada," kata Elsa. Di pihak lain, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menganggap berita the Guardian itu belum tentu kebenarannya. "Namun jika benar, siapapun itu, walau TNI sendiri pun harus ditindak," kata Panglima TNI. Sementara Indonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan bahwa kasus semacam ini (penggelembungan nilai ) hampir terjadi di setiap proyek di Indonesia. Kita tunggu saja reaksi Jenderal (purn) SBY atas kasus yang bukan hanya menjadi perhatian nasional tapi juga dunia ini, seperti disebutkan oleh the Guardian sebagai

The investigation on this case would be the anti corruption
Commission’s first ever into the Suharto inner circle.
(sumber : the Guardian , Liputan6 SCTV, Tempo dan Republika).