MENCARI DUNIA ADALAH BAGIAN INTEGRAL DARI IBADAH
Oleh : M. Syamsi Ali

Islam adalah agama kehidupan. Islam, tidak seperti agama ataupun ideologi lain, memiliki pengertian yang unik yang hanya dapat dipahami dengan merujuk sepenuhnya kepada pengertian yang tertuang dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya. Berbagai difinisi yang telah diajukan berbagai kalangan, khususnya yang biasa menyebut “kaum intelektual”, selalu menggambarkan Islam secara partial. Islam seolah-olah hanyalah panduan manusia dalam membina hubungan vertikalnya terhadap Ilahi. Islam seolah-olah tidak memiliki otoritas sama sekali dalam pengaturan kebisingan hidup duniawi.

Difinisi ini tentunya tidak aneh, sebab kebanyakan mereka yang memberikan difinisi demikian adalah orang-orang yang terjatuh dalam perangkap konsep agama lain dalam memandang arti suatu agama. Islam adalah agama Fitrah. Islam adalah agama yang sejalan dengan kebutuhan alami setiap insan. Dengan kata lain, Islam datang untuk mengayomi kebutuhan alami manusia, bukan justru menghambat dan menjadi penghalang bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan alamiahya. Contoh terdekat untuk ini adalah nikah. Nikah adalah kebutuhan alami setiap insan, bahkan setiap makhluk hidup. Islam tidak pernah dan bahkan melarang manusia untuk menghambat penyaluran kebutuhan ini. Islam bahkan memberikan jalan (hukum yang jelas) tentang bagaimana menyalurkannya dengan baik dan selamat serta mendatangkan manfaat bagi pelakunya. 

Al Qur’an menggambarkan bahwa kehidupan manusia itu terletak pada Islam itu sendiri. Dengan kata lain, tanpa Islam kehidupan akan tiada bermakna dan hampa. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah ajakan Allah dan RasulNya jika Dia mengajak kamu kepada kehidupanmu” (Al Anfaal: 24) 

Islam memandang bahwa setiap perbuatan yang dilakukan manusia adalah ibadah. Asal saja bahwa perbuatan tersebut bermuara dari jiwa yang betul (iman serta ikhlas) serta dalam melakukannya sesuai atau tidak bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Islam tidak pernah menyempitkan makna ibadah hanya terbatas pada hal-hal ukhrawi saja. Beribadah tidak saja dapat dilakukan di dalam mesjid melainkan dimana saja. Hal ini telah digambarkan oleh Rasulullah SAW: “Telah dijadikan seluruh bumi ini sebagai masjidku” (Hadits)

Kebanyakan ulama terikat dengan arti mesjid sebagai gedung tertentu yang biasa dipakai untuk salat lima waktu. Padahal, kata masjid di atas dapat pula berarti sebagai tempat pengabdian, tempat beramal, tempat tunduk sujud dan patuh pada Ilahi. Jika pengertian luas ini kita ambil, maka disaat seorang muslim berada di pasar, sesungguhnya dia juga seolah-olah berada di dalam mesjid. Sehingga kelakuannya harus mencerminkan ketaatan sebagaimana seorang hamba sedang melakukan ketaatannya di dalam sebuah mesjid.

Jika pengertian ibadah difahami secara luas seperti ini maka hal ini akan sejalan dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri. Di mana manusia diciptakan dengan tanpa tujuan lain kecuali untuk beribadah kepada Penciptanya. Sebab kalau hanya shalat yang ibadah, sesungguhnya kita melakukan tujuan hidup hanya sekitar 50 menit sehari (sekali shalat 10 menit). Jika ibadah itu hanya puasa, maka berarti kita melakukan tujuan hidup kita hanya sebulan sekali. Jika hanya haji itu ibadah, tentu kita melakukan melakukan tujuan hidup kita hanya sekali dalam seumur, demikian seterusnya.

Allah menggambarkan kepada kita bahwa seorang muslim, dalam rangka menunjukkan kemurniaan Islamnya, harus bertekad untuk menjadikan seluruh aspek kehidupan bernilai ibadah. Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Allah Tuhan seluruh alam”. (Qur’an).

Demikian kira-kira landasan filosofisnya sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan apa saja yang kita lakukan, termasuk mencari dunia atau bisnis, adalah bagian integral dari kehidupan beragama seseorang. Bisnis sendiri dalam Al Qur’an beberapa kali disebutkan. Terkadang diartikan “bai” (jual-beli), terkadang pula diartikan “tijarah” (dagangan).

Rasulullah SAW sendiri adalah seorang profesional businessman. Beliaulah yang telah berhasil menjadi menejer dagang Khadijah dan meraup keuntungan yang luar biasa. Bahkan jauh sebelum menjadi seorang nabi, beliau telah ikut berdagang bersama pamannya ke berbagai negeri lain, Syria misalnya. Bahkan secara khusus beliau memberikan kedudukan yang tinggi bagi seorang pedagang yang jujur. Sabda beliau: “Pedagang yang jujur akan bersama para nabi, para siddiq, para orang-orang yang saleh serta para syuhada di hari kiamat nanti” (Hadist).

Sahabat-sahabat terkenal Rasulullah SAW adalah juga para saudagar yang sangat disegani pada zamannya. Utsman bin Affan adalah “Bill Gates-nya” kaum Arab saat itu. Abu bakar adalah seorang saudagar kaya serta memiliki jaringan dagang yang luas hingga ke Syria dan Yaman. Bahkan dapat dikatakan bahwa penghidupan kaum Qurays ketika itu hanya bersandar pada dua hal; dagang dan ternak.

Dengan demikian jelas, bahwa Islam memberikan jalan bahkan mewajibkan ummatnya mencari kehidupan dunia ini, termasuk melakukan transaksi bisnis. Seolah-olah Islam ingin mengatakan: “ Carilah dunia sepenuhnya dalam naungan hukum dan ridha Ilahi. Jadilah orang yang kaya harta namun kaya hati pula. Jadilah orang yang sukses dalam kehidupan dunia. Tapi jadikan kesuksessan duniamu sebagai jembatan menuju kepada kesuksessan abadi di akhiratmu. Jadilah Bill Gates dalam duniamu namun jadilah Abu Bakar dalam jiwamu”. Dengan kata lain, mencari dunia bukanlah alasan untuk lupa diri dari Pencipta. Sebagaimana Al-Qur’an mengambarkan para sahabat nabi yang saudagar itu: “Mereka adalah orang-orang yang terlupakan oleh dagangan dan tidak pula jual beli dari mengingat Allah” (Qur’an)

Manusia seperti ini adalah Muslim sejati yang akan mendapatkan kebahagiaan dunia Akhiratnya seperti yang digambarkan oleh Allah dalam do’a sapu jagad kita: “Dan di antara manusia ada yang berkata: Ya Allah, berikan kami kebahagiaan di dunia dan kebahagian di akhirat. Dan jagalah kami dari api neraka” (Qur’an). Wallahu A’lam!