JAGALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI API NERAKA
Oleh : Mokhammad Taufik
Tulisan berikut ini merupakan uraian yang sebagian besar berdasarkan pengamatan pribadi penulis, kenyataan-kenyataan yang ada dan dirangkum dengan pendapat beberapa ulama. Boleh dikatakan urainan ini bersifat subyektif. Terlepas dari subyektif atau obyektif, tujuan penulis adalah ingin mengingatkan khususnya diri sendiri dan para pembaca untuk merenungkan dan mengambil sikap yang tepat, sehingga kita dapat menempatkan diri dan keluarga kita sesuai dengan judul tersebut di atas.

66:6 "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Menurut Prof. Jeffrey Lang (Professor
Matematika dari USA yang masuk Islam) dalam karyanya “Bahkan Malaikatpun
Bertanya”, di dalam buku tersebut beliau menulis bahwa bedasarkan hasil riset
terhadap mahasiswa-mahsiswa di universitas di Amerika, diperoleh kesimpulan
bahwa pada setiap 10 mahasiswa Islam, sewaktu ditanya tentang shalat dan
Islam, 9 diantaranya menjawab sudah tidak peduli lagi. Hal ini juga diperkuat oleh ceramah Ustadz Syamsi Ali, MA pada waktu cermah Pesantren Kilat di Mesjid Umar bin Khatab beberapa bulan yang lalu. Menurut pendapat penulis, apa yang disimpulkan oleh Jeffrey Lang, serta yang dikemukakan oleh Ustadz Syamsi Ali, adalah ukuran angka-angka jumlah penduduk Islam secara umum di USA,
di mana mereka katakan penyebabnya bukan faktor ekonomi (faktor ekonomi tidak punya
andil).
Kita sebagai bagian dari penduduk Islam di USA, dan kalau boleh saya perkecil lagi sebagai komunitas muslim Indonesia, bagaimana dengan kita? Apa benar faktor eknomi tidak punya andil ?. Pendapat penulis, suka atau tidak suka kenyataannya
sebagian besar orang Indonesia yang berimigrasi ke USA tidak terlepas dari faktor ekonomi. Harapan kita adalah agar kita bisa hidup cukup (tanpa
korupsi dan perbuatan tercela lainnya), serta ingin keturunan kita kelak menjadi orang yang kuat ekonominya,dan
sekaligus tetap kuat agama Islamnya. Lalu bagaimana caranya ?
Ustadz Syamsi Ali, juga Ustadz Mohammad Joban, mereka sama-sama menggambarkan kehidupan di USA sangat berat, dan kalau kita tidak waspada maka akan dapat menjerumuskan keturunan kita. Apalagi kalau kita ingin bicara soal kualitas, faktor ekonomi sangat besar peranannya. Contoh yang mudah, untuk biaya 1 anak ke sekolah Islam lebih kurang $400/bulan, bayangkan kalau kita punya anak 2 atau 3, kita berfikir bayar uang sewa tempat tinggal saja kadang-kadang berat dan sering
terlambat.
Kita tumbuh dan besar di Indonesia dan ketika kita datang ke USA kita telah dewasa oleh karenanya wajar kalau kita masih ingat melakukan shalat. Karena dibesarkan dilingkungan negara yang tidak sekuler, dimana faktor lingkungan hidup banyak diintervensi oleh negara, seperti di sekolah-sekolah umum
ada pelajaran agama, informasi baik TV/radio banyak menayangkan suasana islami,
di setiap kampung selalu ada mesjid satu, dua atau bahkan lebih, baik di terminal bis/kereta api, kantor-kantor baik swasta maupun milik pemerintah ada
mushola, bahkan kita punya menteri urusan agama. Bagaimana dengan USA, negara
sekuler, dan ada undang-undang yang menyatakan orang berhak untuk tidak percaya sama agama/Tuhan, juga masih ada pro dan kontra boleh tidak berdo’a di sekolah umum (public school).
Tentunya ini adalah tantangan buat kita, bagaimana cara mendidik anak-anak kita yang sangat jauh berbeda dengan sewaktu kita masih anak-anak hingga dewasa di Indonesia. Penulis telah meninggalkan Indonesia lebih kurang 20 tahun, tinggal di Eropa/Swedia lebih kurang 4 tahun sebelum datang ke USA. Baik di Eropa maupun di USA tidak sedikit penulis melihat saudara-saudara kita yang dulunya keturunan Islam yang kuat menjadi tidak lagi
menjalankan shalat, anak-anak mereka terbias dengan budaya Barat; pergaulan sangat bebas termasuk MBA (married by accident), mabuk-mabukan dan sebagainya, dan nampaknya mereka malah bangga dengan
budaya Barat
tersebut.
Tahun 2001, penulis pernah bertemu dengan seorang pilot Indonesia. Sekitar 25 tahun yang lalu ia datang ke USA untuk belajar, entah karena apa
akhirnya dia menetap di USA sampai kini, walau secara ekonomi beliau cukup berhasil, namun ia sangat menyesal akan dirinya. Karena
anak-anaknya jauh dari Islam. Tentunya kita tidak ingin seperti ini, kasus tersebut masih saya katakan masih agak lumayan… yang lebih parah adalah apabila ada orang tua yang tidak menyadari dan tidak menyesal kalau pada keluarganya telah terjadi kesalahan…? Kita perlu
mawas diri pada diri kita, keluarga kita, kawan/kelompok kita, kalau ada sesuatu yang tidak benar dan kita tahu… kita wajib dan harus berani meyatakannya, ini termasuk ibadah (amar ma’ruf nahi mungkar), katakanlah kalau itu memang tidak benar….. kalau tidak… apa perlunya ada perkumpulan-perkumpulan
?
Malah yang lebih ekstrim lagi ada ditulis oleh Prof. Jeffrey Lang, ia pernah bertemu dengan salah seorang Imam mesjid. Imam mesjid tersebut sangat sedih karena salah satu anaknya telah gagal. Imam saja gagal, lalu bagaimana dengan kita yang
jauh kwalits keislamannya dibanding imam ?. Untuk itu marilah kita jadi imam untuk keluarga kita, yang utama adalah peranan kita sebagai orang tua/guru/contoh terhadap anak-anak
kita.
Seperti kita sering dengar, anak kita ibaratnya seperti kertas putih, bisa kita tulis dengan warna macam-macam terserah kita, untuk itu sebelum anak kita beranjak dewasa dan mempunyai wawasan dan pemikiran sendiri, harus kita arahkan sesuai dengan ajaran Islam sedini mungkin.
Penulis berpendapat, ada beberapa solusi dan usaha agar anak-anak kita yang di USA menjadi anak yang
bisa kita banggakan, sebagai
berikut:
1. Karena anak-anak kita sebagian besar masuk sekolah umum (public school), usahakan untuk hari sabtu dan minggu ikut sekolah pada Islamic Center terdekat. Juga usahakan minimal satu kali dalam sehari kita melaksanakan shalat berjamaah dan kita yang menjadi imamnya (misal shalat maghrib atau
isya).
2. Biasakan atau kenalkan anak-anak kita melihat/membaca film/video dan buku-buku perihal Islam, agar mereka terbiasa dengan budaya
Islam dan bangga prestasi yang pernah dicapai Islam.
3. Salah satu yang sangat penting adalah dalam mengajari anak tentang Islam bukan hanya mengajari membaca Quran, namun yang
lebih penting lagi adalah menumbuhkan kebanggaan terhadap Islam dan kesadaran Islam adalah pilihan terbaik. Waktu kita di Indonesia, ini bisa ditumbuhkan dengan melihat contoh di lapangan (lingkungan), namun untuk di amerika kita hanya bisa peroleh dari buku, majalah, video Islam. Dari situ mereka bisa peroleh bahwa Islam pernah jaya di berbagai bidang dari
budaya, ekonomi sampai teknologi, kisah sukses tokoh Islam dan
sebagainya.
4. Sering-seringlah ajak anak-anak kita ke Islamic Center terdekat, baik untuk acara ceramah umum, maupun pengumpulan dana, piknik,
konferensi, aktifitas sosial dan sebagainya Hal ini agar mereka punya wawasan yang luas perihal
Islam dan merasa bahwa banyak orang dan bangsa lain yang beragama Islam. Dan
usahakan anak kita bisa terlibat aktif dalam kegiatan tersebut misal jadi
volunteer.
5. Usahakan untuk bisa minta ijin dari sekolah untuk shalat Jumat bersama kita terutama jika anak kita menginjak remaja
(baligh).
6. Kita harus waspada kepada anak remaja kita apabila bepergian tanpa pamit, tanpa memberi tahu kemana dan dengan siapa perginya. Kita sebagai orang tua harus tahu semuanya…… sebelum terlambat. Kita juga harus waspada dengan slumber party (pesta menginap
di rumah teman), walau dikatakan pesta itu diawasi oleh orang tua tuan rumah, namun ukuran baik dan tidak baik dengan orang Amerika pada umumnya relatif berbeda dengan kita. Juga kemampuan orang tua mengawasi pesta tersebut
sebatas sebelum mereka tertidur, dan umumnya anak-anak di slumber party tidur lebih larut dibanding orang tua tuan
rumah. Kalau mau slumber party lebih baik kita sebagai tuan rumahnya.
Kalau kita punya anak masuk public school: 5 hari X 6 jam dalam seminggu, dan kita sebagai orang tua tidak ada usaha untuk mengarahkan anak kita ke 6 point tersebut di atas, maka kemungkinan besar anak kita bila dewasa menjadi orang yang tidak tahu
Islam dan termasuk katagori 9 mahasiswa yang tidak beruntung seperti disebut
terdahulu.
Tentunya masih banyak lagi cara untuk menjadikan anak kita mejadi anak yang sholeh, lebih terarah dan efektif, antara lain
mengirim anak kita ke pesantren sewaktu summer vacation.
Tantangan sangat berat dan jangan meelupakan masalah pendidikan anak; penulis pernah mendengar salah satu khotah jumat di Mesjid Inglewood, Imam mesjid tersebut menyatakan bahwa “sekali salah satu anak kita gagal, maka bisa hancur seluruh keturunan anak tersebut. Sebagai gambaran sederhana kalau kita katakan Islam kita 100% dan kita hanya mampu mewariskannya kepada anak kita 50% maka
dengan analogi yang sama cucu kita akan hanya 25% dan seterusnya dan pada akhirnya pada keturunan kesekian mereka hanya bisa berkata “dulu nenek moyang saya Islam”. Untuk itu berjuang dan berkorbanlah demi keturunan kita untuk kebaikan dunia dan akhirat sebelum
terlambat. Waktu kita sangat terbatas, hanya sampai anak umur 17-18 tahun kita
bisa punya "full control" setelah itu selain secara hukum mereka sudah
boleh menentukan jalan hidupnya sendiri, juga kemampuan mereka
beragumentasi juga sudah sangat bagus, ditambah lagi bahasa inggris kita
kedodoran.
Sekali lagi tumbuh dan berkembangnya
anak-anak kita serta akan sangat terpengaruh lingkungan setempat, oleh karena linkungan di USA ini kurang kondusif maka kita harus bisa meminimalkan pengaruh lingkungan tersebut.
Untuk mengukur tingkat iman seseorang sangatlah sulit dan tidak ada metode yang tepat, karena urusan iman yang paling tahu adalah dirinya dan Allah, namun untuk memudahkan, dapat kita ambil
ukuran dalam menjalankan shalat (ingat bahwa shalat adalah kunci akan diterima
atau tidak amalan-amalan kita); kalau kita sudah shalat 5 x sehari secara rutin - katakanlah sudah 100 % kalau masih belang-belang katakanlah 75% tingkat iman kita. Dan kalau tingkat iman kita baru 75% yang
tumbuh dan besar di Indonesia, bagaimana pula dengan anak-anak kita yang lahir dan besar di sini di negara
sekuler ini.
Oleh karena itu marilah kita targetkan agar anak kita lebih kuat imannya daripada kita
karena tantangan mereka lebih besar daripada kita, agar mereka bisa tetap Islam
walau telah menjadi mahasiswa dan bisa termasuk dalam katagori yang 1 di antara
10 mahasiswa.
Wallahu a'lam bisawab, kalau ada salah dalam tulisan in datangnya dari penulis, dan apabila ada yang bermanfaat dan benar hanya Allah lah yang Maha Benar. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Riwayat hidup penulis:
Alumni Ilmu Sosial & Politik, Universitas di Jakarta 1985.
Lokal staf KBRI Stockholm, Swedia, bidang Politk , 1986-1989
Lokal staf Perwakilan Pertamina USA, Los Angeles/Houston, 1990-1997
SDV-USA, International freight forwarder 1988-sekarang.