KEGEMARAN MEMBACA UNTUK MEMBANGUN BANGSA DAN AGAMA
Oleh : W. Boediono

Menurut pendapat penulis, masa kanak-kanak merupakan masa yang paling penting, di mana si anak mulai membangun fondasi, baik berupa pengetahuan maupun moral untuk bekal dirinya menghadapi ganasnya tantangan kehidupan di masa yang akan datang. Sehingga kebiasaan suka membaca baik buku-buku ataupun berita tentang ilmu pengetahuan, agama, cerita-cerita yang mengandung pesan moral, dan puisi hendaknya ditanamkan sedini mungkin, seperti kebiasaan yang telah banyak dilakukan di negara-negara Barat, khususnya di Amerika Serikat ini.

Untuk membiasakan anak untuk membaca, sebenarnya ada alternatif yang lebih murah dari membeli buku, yaitu orang tua atau anak bisa meminjam ataupun menumpang baca buku di perpustakaan. Penulis sendiri menganggap perpustakaan sebagai rumah kedua di mana kita bisa asyik membaca tanpa mengeluarkan biaya. Karena itu tidaklah berlebihan jika perpustakaan dianggap sebagai salah satu wahana pendidikan masyarakat umum. 

Ironisnya, menurut Kepala Perpustakaan Nasional Dr Dady P Rachmanata, pepustakaan di Indonesia dalam realitasnya masih dianggap sebagai proyek pemborosan. Ia mengemukakan hal itu di hadapan peserta seminar nasional "Jaringan Dokumentasi dan Informasi di Era Informasi dan Masyarakat Berpengetahuan" di Universitas Surabaya (Ubaya) yang didukung Ristek, UNESCO, PDII-LIPI, dan Badan Diklat Pemprop Jatim. Padahal salah satu kunci kemajuan suatu bangsa, terletak pada minat baca bangsa tersebut. Sehingga aneh rasanya kalau proyek “menghias” bundaran HI Jakarta menelan biaya milyaran rupiah dan dibangun dengan kurang transparan dipandang perlu, sementara mendirikan suatu perpustakaan yang merupakan salah satu usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dipandang sebagai suatu pemborosan. 

Patut diketahui, hanya lima persen dari 200 ribu lebih Sekolah Dasar (SD) di Indonesia yang memiliki perpustakaan, dan dua persen di antaranya memiliki ahli pustaka. Terlalu jauh jika kita bandingkan dengan fasilitas yang didapat dari anak yang mengenyam pendidikan sekolah dasar apalagi menengah di Amerika Serikat ini.

Dalam seminar tersebut, Deputi Program Ristek Kantor Ristek (KRT) Prof Dr Bambang Sutjiatmo menjelaskan bahwa kantornya (KRT) sudah menyusun program lima tahunan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat di bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), dan untuk menanggulangi masalah tersebut.Dr Eko Indrajit dari STIKOM/Perbanas Surabaya juga menambahkan bahwa perpustakaan digital dapat menjadi alternatif bagi pengembangan iptek bagi sekolah yang tidak memiliki perpustakaan. Beliau berpendapat bahwa perpustakaan digital lebih murah, cepat, dan fleksibel. Dalam hal ini perpustakaan digital mengacu kepada fasilitas internet di mana anak dapat membaca dalam layer monitor. Kalau tidak ada jaringan telepon, siswa dapat diajak ke warnet (warung internet) untuk menelusuri perpustakaan digital. Kalau ada jaringan, maka cukup dengan satu komputer Walaupun komputer masih belum populer di banyak daerah di Indonesia, namun hal ini bisa dipandang sebagai awal dari perkembangan perpustakaan di daerah. 

Eko Indrajit dalam seminar itu mengajari para peserta yang terdiri dari pengelola perpustakaan se-Jatim untuk mencari hibah komputer lewat internet melalui situs www.google.com, yaitu dengan cara menulis : grant+computer+library+indonesia+2005+new. Beliau sudah mencoba sendiri dan berhasil. Menurut hemat penulis, ide ini masih bisa dikembangkan untuk kota-kota besar, namun masih perlu dicari solusi untuk daerah terpencil. Biaya koneksi internet,sambungan telepon, dan sebagainya juga masih harus dipikirkan lebih lanjut. Namun sebagai titik awal, usaha ini patut diacungi jempol. Tidak tertutup kemungkinan untuk menemukan cara-cara lain yang bisa digunakan untuk membangun fasilitas bacaan, baik untuk konsumsi pelajar maupun umum. Antara lain, bisa dibentuk organisasi untuk mengatur sumbangan buku-buku dari masyarakat yang mampu. Sudah saatnya masyarakat ikut terjun bahu-membahu dalam usaha mencari solusi dan membangun fasilitas bacaan untuk anak-anak Indonesia. Masih banyak adik-adik kita, khususnya di daerah-daerah terpencil yang belum bisa menikmati asyiknya membaca buku di perpustakaan. 

Untuk kita yang tinggal di Amerika Serikat ini, dimana segala fasilitas serba terpenuhi, termasuk perpustakaan beserta segala jenis buku, maka ada satu hal yang harus segera kita benahi yaitu menyediakan buku-buku agama Islam yang memadai dan membiasakan anak atau adik kecil kita untuk membacanya. Dengan demikian diharapkan nantinya mereka akan mempunyai keseimbangan antara ilmu pengetahuan umum dan pengetahuan agama.