Kabinet Baru Bush
Oleh: Sudarmadji
|
|
![]() Alberto Gonzales |
Sembilan dari 17 anggota kabinet Bush sudah mengajukan pengunduran diri, mereka adalah:Menteri Luar negeri Colin Powell yang akan digantikan oleh Condoleeza Rice. Jaksa Agung John Ascroft akan digantikan Alberto Gonzales. Menteri Pendidikan Rod Paige diganti oleh Margaret Spellings. Menteri Perdagangan Don Evans digantikan oleh Carlos Gutierrez. Menteri Energi Spencer Abraham akan digantikan oleh Samuel Bodman. Menteri Pertanian Ann Veneman diganti oleh Mike Johanns. Menteri urusan Veteran Anthony Principi diganti oleh Jim Nicholson. Menteri Kesehatan Tommy Thompson belum ditunjuk penggantinya. Direktor Homeland Security Tom Ridge juga belum ditunjuk calon
penggantingya.
Khusus untuk Homeland Security sebenarnya Bush telah menominasikan Bernard Kerik, namun akhirnya Kerik mengundurkan diri karena Kerik datanya kurang bersih untuk menduduki jabatan yang berkatian dengan masalah imigrasi. Kerik ditengarai mempunyai nanny (pengasuh anak) yang status kemigrasiannya tidak jelas.
Para pengamat mengatakan walaupun persentasenya besar yakni lebih dari 50% namun tidak akan perubahan besar ke arah perbaikan. Bahkan beberapa diantara mereka mengatakan bahwa pergantian anggota kabinet Bush justru akan memperparah keadaan.
Karena ternyata kandidat yang dinominasikan menggantikan mereka mempunyai catatan yang cukup memprihatinkan. Mereka mempunyai pandangan setali tiga uang dengan Bush. Selain itu dilihat dari sisi senioritas rata-rata mereka di bawah Bush, yang menyebabkan mereka akan menjadi "Yes Man Person" kepada Bush.
Pada tulisan ini hanya akan disinggung Calon Jaksa Agung Alberto Gonzales dan Menteri Luar Negeri Condoleeza Rice, karena mereka inilah yang akan berpengaruh kepada kepentingan kita sebagai imigran dari Indonesia khususnya dan komunitas muslim Amerika pada umumnya. Sebenarnya Direktur Homeland Security juga berpengaruh namun ketika tulisan ini disusun Presiden Bush belum menominasikan pengganti Tom Ridge.
Condoleeza Rice
Condoleeza Rice, lahir November 14, 1954 di Birmingham, Alabama, lulus S1 Ilmu Politik dari University of Denver Colorado, tahun 1974, S2 dari the University of Notre Dame Indiana tahun 1975, Ph.D Hubungan International dari University of Denver Colorado, 1981.
Sejak tahun 1981 Rice mengajar di Stanford University. Sebagai profesor dia dikenal sebagai ahli Soviet. Dia dikenal pula sebagai neo realist, karena dia mengaku pemikiranya sangat dipengaruhi oleh buku tulisan Hans Morgenthau ”Politics Among Nations” yang merupakan pilar dari aliran realistic yang menyatakan bahwa hubungan antar negara lebih didasarkan pada kepentingan daripada masalah ideologi.
Dia adalah bekas murid dari Josef Korbel ayah dari mantan menlu Madelenie Albright. Selama pemerintahan Bush Senior, Rice bekerja sebagai staf ahli hubungan internasional. Selain itu dalam era perang dingin dia pernah bekerja dengan Pentagon yang memanfatkanya sebagai ahli Soviet.
Dalam era pemerintahan Bill Clinton Rice kembali ke Stanford University dan menjadi Kepala Bagian Administrasi (1993-1999). Sejak Bush yunior naik hingga sebelum dinominasikan menjadi menlu Rice menjadi penasehat keamanan presiden. Sebagai penasehat keamanan Rice 100% orangnya Bush, kebijakan -kebijakan Bush dalam menangani tragedi 9/11 sebagian besar merupakan implementasi dari bisikan-bisikan Rice. The Nations menulis bahwa Condoleeza Rice adalah "Bush's work wife" (istri bush dalam pekerjaan). Sebutan ini lebih diperkuat lagi ketika dalam sebuah wawancara, secara tidak sengaja Rice menyebut Bush sebagai ”my husband” seperti ditulis The Capital Times.
Rice bukan Diplomat tapi Politisi
Rice punya andil besar terhadap kemengan Bush. Karena pada musim kampanye Rice banyak mengadakan kunjungan dinas terselubung ke "batlle ground states". Menurut laporan Washington Post sepanjang musim gugur 2004, Rice mengadakan prjalanan dinas ke Oregon, Washington, North Carolina, Michigan, West Virginia, Pennsylvania dan Wisconsin, minimal 1 kali. Dalam kesempatan tersebut Rice banyak menyerang John Kerry dan membela kebijakan dan pernyataan-pernyataan Bush terutama untuk melepaskan dari keterpojokan Bush dari serangan Kery terhadap kegagalan Bush menangkap Osama Bin Laden. Padahal sebelum musim kampanye Rice sangat jarang muncul di publik di luar Washington.
Dari ”move-move”-nya The Capital Times mengatakan bahwa Rice lebih cocok menjadi politisi dibanding diplomat. sebagai contoh lain ketika Rice dipanggil beberapa kali untuk memberikan kesaksian dihadapan komisi investigasi 9/11 dia menolak untuk hadir dengan alasan dia sangat sibuk untuk menganalisa potensi ancaman terhadap Amerika akan tetapi Rice selalu bisa menyisihkan waktu untuk urusan politik bagi kepentingan tim kampanye Busch-Chiney. Misalnya pada Maret 2003, dia bisa menyisihkan waktu untuk memberikan pidato cukup lama dihadapan pejabat teras TV majalah, koran dan berbagai media lainnya yang dimiliki oleh konglomerat Rupert Murdoch's News Corp, termasuk di dalamnya dari TV FOX, New york Post dan Mingguan Standar. Pertemuan ini berhasil mendekatkan kubu Bush-Chiney dan Murdoch's media empire.
Beberapa pengamat menyatakan selain demi kesuksean Bush-Chiney, dalam ”move-move”nya Rice sebenarnya punya ambisi terselubung coba tengok www.rice2008.com
Rice & Powel
Dibanding dengan Powell, Rice akan jauh lebih loyal kepada Bush. Seroang pengamat menyatakan bahwa sebenarnya sudah cukup lama terjadi ketidak cocokan antara Bush dan Powell. Namun Bush tidak mau mengganti Powell ditengah jalan karena akan mengganggu reputasinya dan akan sangat berpengaruh terhadap peluangya untuk dipilih kembali. Selain itu Bush juga merasa sungkan kepada ayahnya (Bush Senior) karena Powell adalah teman dekat ayahnya.
Ketidak serasian Powell dengan Presiden Bush diawali ketika rencana penyerangan ke Irak, sejak awal memang Powell sebenarnya tidak setuju dengan rencana tersebut. Sikap Powell ini sebenarnya juga ditunjukan kepada Bush Senior ketika perang teluk pertama, dia tidak setuju untuk meneruskan penyerangan ke Irak ketika Irak sudah keluar dari Kuwait. Dia berpendapat bahwa perubahan rezim akan mebuat goncangan di Irak dan mengganggu kestabilan timur tengah dan itu akan merugikan kepentingan Amerika, Bush Sr pada waktu itu setuju dengan pendapat Powell sehingga perangpun dihentikan setelah Irak keluar dari Kuwait.
Kalau dilihat secara ideologi Rice dan Powell sama sama penganut paham realsitik yang sama sama menginginkan kestabilan dan status quo di timur tengah agar kepentingan Amerika tidak terganggu. Hanya bedanya dalam kasus Irak Rice lebih melihat bahwa dengan tergulingnya Sadam kepentingan Amerika akan suplai minyak akan lebih terjamin dan Israel yang merupakan sekutu terpenting Amerika lebih.
Oleh karena ketidak serasian ini, maka begitu pemilu usai Powell memutuskan untuk segera mengajukan pengunduran diri. Keputusan ini adalah baik bagi Powell maupun Bush. Bagi Powell sebagai menteri luar negeri adalah sangat tidak nyaman untuk menjelaskan kepada pihak asing yang dia sendiri tidak sependapat. Bagi Bush, mundurnya Powell seperti hilangnya sandungan dalam menjalankan petualangannya.
Alberto Gonzales
Alberto Gonzales lahir di San Antonio, Texas dan dibesarkan di Houston. Gonzales menyelesaik studinya di Rice Unversity dan Harvard Law School. Gonzales bergabung dengan angkat udara tahun 1973-1975. Tahun 1982-1997 dia bekerja di konsultan hukum Vinson & Elkins L.L.P, Houston Texas. Dalam periode waktu tersebut dia juga mengajar di University of Houston Law Center.
Tahun 1997sampai 1999 diangkat sebagai Secretary of State yang diantara tugasnya adalah sebagai penasehat senior gubernur Bush, ketua Komisi Pemilu Texas dan ketua kerjasama dan penyelesaian masalah perbatsan dengan Meksiko.
Tahun 1999-hingga sebelum jadi presiden (2001) Gonzales menjadi kepala kejaksaan
tinggi Texas (Texas Supreme Court). Tahun 2001 sampai sekarang menjadi penasehat presiden.
Apakah Gonzales lebih baik dari Ascroft?
”Dalam banyak hal Gonzales jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan John Aschosft” kata Michael Ratner dari the Center for Constitutional Rights. Sebagai penasehat gedung putih, Gonzales yang merancang draft Patrio Act, perancang tahanan rahasia di Guantanio dan melegalisasi penyiksaan tawanan peran di Guantanamo dan sebagainya.
Berikut beberapa Catatan Alberto Gonzales:
- Patriot Act
Gonzales adalah perancang utama dari Patriot Act, yang meberikan kebebasan kepada FBI untuk melakukan hal hala yang banyak melanggar privacy termasuk penyadapan telephone, profiling,
penahanan tanpa bukti dan sebagainya.
- Memo Melegalisasi Penyiksaan (Agustus 2002)
Memo tersebut menyebut bahwa undang-undang pelarangan penyiksaan tidak berlaku bagi tahanan presiden (president's detention) dan interograsi ”enemy combatan”. Lebih lanjut memo tersebut menyatakan bahwa penyiksaan dalam interograsi termasuk kematian, gagal organ, cacat fisik serius adalah legal.
- Pengingkaran Konvensi Genev (January 2002)
Perang terhadap terorisme adalah perang jenis baru. Paradigma ini menghilangkan pembatasan cara interograsi terhadap tawanan perang yang dianggap sebagai teroris. Memo ini menyebakan tawanan di Guantanamo Bay, tidak termasuk katagori yang dilindungi oleh konvensi Geneva. Dengan memo ini Gonzales telah dituduh menjadi penyebab kerancuan pada sistem undang-undang militer US, yang salah satu akibatnya adalah terjadinya skandal Abu Gharib.
- Memblokir Informasi Senator :(Mei 2003)
Berdasarkan kebisaan anggota senat diijinkan untuk mereview ”memoranda judicial nominees”. Namun dalam suratnya (untuk calon Miguel Estarada) Gonzales mengatakan bahwa
pemerintah tidak akan membuat memo tersebut dengan alasan bisa menyebabkan berkurangnya kebebasan expresi pejabat hukum negara dan ini melanggar hak-hak eksekutif.
- Memo Hukuman Mati
Sebagai penasehat hukum Gubernur Bush, Gonzales bertanggung jawab menulis memo untuk gubernur yang menentukan disetujui atau ditolaknya ”grasi” para terhukum mati. Semasa jabatan Gonzales ini (tahun 1999 s/d 2001), tingkat penolakan permintaan grasi ini meningkat tajam dari sebelumnya. Yang disayangkan adalah Gonzales berkesan menganggap remeh masalah ini, hal ini bisa ditunjukan dengan jumlah halaman dari memo buatan Gonzales biasanya hanya beberapa lembar dan selesai dibaca dalam waktu beberapa menit. Padahal pada era sebelum Gonzales biasanya memo tersebut puluhan halaman dan dibutuhkan waktu beberapa jam untuk membacanya. Total terhukum mati yang telah dieksekusi di Texas adalah tertinggi di Amerika yakni total 313 (1982 s/d 2003) dan rekor tertinggi adalah tahun 2000 sebanyak 40 eksekusi. Tahun 1999 juga tinggi 35 eksekusi . Bandingkan dengan California yang mengadopsi hukuman mati tahun 1978 dan total terpidana mati sampai saat ini adalah 636 akan tetapi baru dieksekusi 10, dan yang terakhir adalah tahun 2002. Bandingkan juga dengan nomor dua terbanyak Virginia hanya 60 eksekusi. Dan yang paling kontoversial adalah memo Gonzales yang menolak grasi dan siap mengeksekusi Johnny Paul Penry seorang terpidana yang terbukti secara kuat cacat mental (mentally retarded, salah satu yang masuk katagori ini adalah orngang dengan IQ dibawah 70) yang menurut undang-undang federal dan amnesti internasional tidak boleh dihukum mati (karena menghukum orang cacat mental masuk kagori hukuman biadab"cruel and unusual punishment"). Untungya 2 menit sebelum dieksekusi Mahkamah Agung Amerika
menganulir hukuman tersebut.
Banyak pengamat dan aktifis HAM menyimpulkan bahwa pemilihan Alberto Gonzales sebagai jaksa agung adalah kesalahan besar, bahkan Los Angeles Time menulisnya sebagai bencana besar (disastrous choice)