Empat Kunci Sukses
MENGHILANGKAN KEBOSANAN
Oleh: Mohammad Joban
Ada sebuah Hadith Qudsi yang berbunyi: “Hai Hamba-Ku! Ambilah tanggung jawab itu (amal) sesuai dengan kemampuanmu, Sebab sesungguhnya Allah tidak pernah bosan, sampai kamu sendiri yang bosan. Pekerjaan yang paling disukai oleh Allah SWT adalah pekerjaan (amal) yang dikerjakan dengan rutin dan konsisten meskipun sedikit” (Bukhari Muslim).
Penyakit bosan adalah suatu penyakit yang berbahaya kalau tidak segera diatasi. Karena kalau penyakit itu terus berjangkit maka ia akan menghambat kesuksesan di dunia dan di akherat.
Orang yang bosanan akan tidak bergairah untuk bekerja dan beramal; akan malas untuk beribadah atau berjuang. Senangnya hanya santai-santaian, ngobrol ngaler-ngidul, dan tidur-tiduran. Sehingg waktu banyak dihabiskan pada sesuatu yang tidak ada manfaatnya di dunia dan di
akhirat.
Oleh karena itu dalam tulisan ini kita ketengahkan empat kunci sukses menghilangkan penyakit bosan.
KUNCI PERTAMA: NIAT/TUJUAN
KUNCI KEDUA: MENCARI ILMU
KUNCI KETIGA: BERTAFAKUR
KUNCI KEEMPAT: SABAR DAN BERSYUKUR
KUNCI PERTAMA : NIAT/TUJUAN
Dr. Umar Shakar menulis sekrepsinya untuk Ph.D di Universitas Al-Azhar dengan Judul “Niat”. Tulisan itu sampai mencapai 583 halaman. Dimana disitu selain diuraikan tentang tingkatan niat, seperti Al-Qasdu (Motive) Al-Azmu (Tekad yang bulat) dsb, juga diuraikan tentang urhensinya niat dalam ibadah dan dalam kehidupan
sehari-hari.
Tapi sayang pengertian kita tentang niat sangat simple sekali. Kita hanya memahami niat setingkat apa yang dikatakan oleh Hadith: “Sesungguhnya amal itu bagaimana niatnya”. Padahal kalau kita pahami niat secara lebih dalam lagi maka hidup dan kehidupan kita akan lain. Hidup kita akan penuh energi, semangat, dan antusias untuk beramal dan berkarya.
PENGALAMAN SEORANG NAPI
Sebagai contoh di lapangan –dimana saya kerja sebagai Imam dipenjara Washington – saya sering menjumpai napi yang dihukum seumur hidup, tapi setiap saya ketemua mereka tampak wajahnya bersinar dan bersri-seri. Padahal saya sering lihat orang diluara penjara yang wajahnya tampak tidak ceria; wajah setress dan dipress.
Diantara mereka adalah napi yang bernama Luqman. Dia dihukum seumur hidup. Sebelum masuk Islam –20 tahun yang lalu - dia sering setress dan dipress, malah dia pernah mau bunuh diri. Tapi setelah dia masuk Islam, maka keadaan batinnya berubah. Kenapa? “Karena saya tahu akan apa tujuan (niat) hidup ini” Kata Luqman. “Untuk itu saya isi hidup ini dengan memperbanyak ibadah, manghafal Al-Qur’an dan memperdalam artinya; berdawah diantar napi; membantu mereka yang mau belajar Islam, dsb.”
Jadi karena Luqman mempunyai niat atau tujuan hidup yang jelas, yaitu untuk mencapai keridhaan Allah, maka dia tidak merasa lagi bahwa dia dipenjara, dan dia malah lupa bahwa selamanya dia tidak akan keluar penjara sampai mati. Dia anggap bahwa dia telah ditugaskan oleh Allah untuk menyebarkan dawah didalam penjara, kalau dia sukses maka imbalannya Jannah (Surga). Dengan niat atau motive itulah maka dia tidak merasa bosan atau jenuh meskipun hidup dipenjara.
IBNU TAYMIAH
Contoh yang lain adalah sorang tokoh ulama dan penjuang besar “Ibnu Taymia” yang sering masuk keluar penjara, dan meninggal dipenjara. Dia pernah berkata setelah disiksa dipenjara: “Surgaku selalu berada didadaku. Kemanapun aku pergi, aku selalu membawanya. Apa sih yang bisa dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Jika mereka memenjarakanku, aku senang karena aku bisa bermunajat kapada Rabku denang tenang, jauh dari gangguan keluarga dan dunia. Kalau mereka mengusirku kenegeri nan jauh, akupun senang, karena dengan demikian aku dapat merantau dibumi Allah yang luas ini. Jika mereka membunuhku, akupun beruntung mendapatkan mati syahid dijalan Allah
SWT.
Allahu Akbar! Apa yang membuat Ibnu Taymiah begitu bahagia meskipun didalam penjara? Itulah kekuatan Iman yang dibarengi dengan niat dan motive yang kuat untuk mendapatkan ampunan dari Allah dan mencapai
Syurga-Nya.
Oleh karena itu beliau tidak pernah merasakan bosan selama dipenjara. Beliau isi waktu-waktunya selama disana dengan menulis. bukunya yang terkenal dan berjilid-jilid itu “Al-Fatawal Kubra”. Malah banyak sekali orang-orang Yahudi yang masuk Islam, dan orang-orang muslim yang sadar dan menjadi muslim yang sejati selama dia dipenjara. Oleh karena itu akhirnya beliau dipisahkan dari napi-napi yang lain. Beliau terus menulis, sampai akhirnya juga penanya diambil, karena buku-bukunya mempunyai dampak yang besar dalam masyarakat luas.
KETABAHAN
Apa yang membuat Imam Ahmad bin hambal tabah dan tetap dengan pendiriannya ketika beliau dicambuk 100X didalam penjara? Atau juga apa yang membuat Sumayah –perempuan pertama yang mati syahid- tetap dengan pendiriannya ketika diancam oleh Abu Jahal untuk dibunuh? Atau apa yang membuat Bilal tetap mengatakan “Ahad, Ahad, Ahad” ketika disiksa ditengah padanga pasir yang panas? Atau Ashabul Ukhdud yang dibakar dalam lubang hidup-hidup (Surat Alburuj), dimana tidak ada satupun yang lari ketika api sudah menyala-nyala? Demikian juga dengan Asiah –istri Fir’aun- yang disiksa dengan diletakkan api dibawah kakinya, kedua tangannya diikat, dan punggungnya dicambuk. Apa yang membuat dia tidak berubah pendiriannya, malah dia senyum yang membuat Firaun geram
(marah)?
Jawabannya karena mereka mempunyai niat atau tujuan yang jelas dan tidak pernah sirna dari benak mereka, yaitu untuk mendapatkan ampunan Allah dan Syurga-Nya.
CHAMPIONSHIP
Dalam kehidupan olahraga sering kita lihat para atlet dengan tekun latihan, dan menjaga makanan, berat badan dsb. Meskipun selama itu kehidupannya serba diatur, dan harus betul-betul disiplin, tapi mereka tidak merasa bosan, malah mereka umumnya merasa senang dan penuh gairah. Kenapa? Karena mereka mempunyai niat atau tujuan yang jelas yaitu kesuksesan atau mendapatkan medali emas, atau championship.
GHOFLAH (LALAI)
Imam Ghadi Iyad berkata: “Penyebab (pokok) semua dosa adalah ghaflah (lalai) bahasa Ingrisnya Heedless atau careless. Maka Dr. Umar Shakar mengatakan “Niat dan tujuan adalah merupakan obat. Dia merupakan pasukan dan kekuatan yang dapat mendorong seseorang untuk bergairah dalam hidup. Yang membuat orang selalu sadar, siaga, dan waspada (alert, vigilant).
MUTIARA DI DASAR LAUT
Dahulu ada seorang raja mengumumkan bahwa barangsiapa yang bisa mebawa mutiara asli dari dasar laut, maka dia akan dikawinkan dengan putrinya yang cantik. Pada zaman itu sangat sulit untuk menyelam kedasar
laut.
Maka seorang anak muda, hamba Allah yang miskin tiap hari, pagi dan petang pergi kepantai untuk menghabiskan air laut dengan menyiduknya dengan ember. Dia tidak pernah bosan, atau merasa cape. Setelah sebulan lamanya dia berjuang untuk menghabiskan air laut. Rupanya ada sebuah ikan besar yang memperhatikan perjuangan anak muda itu. Maka dia muncul kepermukaan laut. Dengan izin Allah ikan itu ngomong. “Wahai anak muda! Mengapa engkau tiap hari menghamburkan air laut kepantai dengan ember itu? Karena aku ingin menghabiskan airnya agar bisa mengambil mutiara dari dasar laut.” Jawabnya. Maka ikan itupun langsung menyelam kedasar laut,mengambil mutiara dan dihantarkannya ke anak muda itu. Bukan main gembiranya anak muda itu, dan langsung dibawanya mutiara itu ke hadapan raja dan akhirnya kawin dengan putri raja.
Apa yang membuat anak muda itu sukses? Karena dia tidak pernah ghaflah (lalai) dari tujuannya meskipun sebetulnya mustahil untuk bisa dicapainya kalau tidak karena pertolongan Allah melalui ikan tsb. Allah memberikan ma’unahNya (pertolongan-Nya) karena kegigihannya dan ketetapannya serta tekadnya untuk mencapai tujuannya.