Mewujudkan Keinginan Yang Masih Terpendam
Oleh: Ari Firmandi
Masyarakat muslim di Los Angelesberada dalam posisi dilematis menghadapi urgensi sudah perlu atau tidaknya pembangunan fasilitas pusat kegiatan Islami, baik itu perumahan ibadat permanen (mesjid) maupun sejenis lokasi islamic center. Di satu sisi, kita sebagai masyarakat muslim menyadari betapa pentingnya suatu tempat yang bisa dijadikan sebagai pusat pertemuan umat atau kegiatan keislaman. Namun, di lain pihak kita juga menyadari begitu banyak kendala yang menghadang di depan. Ada beberapa masalah yang perlu kita telaah dan pecahkan bersama. Diantaranya yang paling utama adalah masalah klasik yang menghinggapi tipikal pembangunan suatu fasilitas, yaitu dana. Selain dana awal perwujudan mesjid teresebut, masalah juga menghinggapi kita semua untuk bagaimana menjalani kegiatan operasional di kemudian hari ketika fasilitas tersebut telah berdiri.
Indonesia Muslim Foundation (IMF) yang didirikan di tahun 1996 sebagai wadah koordinasi kegiatan keislaman di Los Angeles, juga mempunyai tujuan utama yaitu mencari dan mewujudkan tempat permanen yang akan digunakan sebagai pusat kegiatan umat Islam di Los Angeles. Dari proposal awal yang telah dibuat di tahun 1996, untuk membangun suatu tempat ibadah dengan luas lahan kurang lebih 10,000 sf dengan lokasi Los Angeles dibutuhkan paling tidak biaya $350,000. Dengan semakin melonjaknya harga tanah atau properti plus biaya konstruksi di Los Angeles, diperkirakan harga beli sekarang ini bisa mencapai nilai dua hingga tiga kali lipatnya dibandingkan dengan biaya perkiraan di tahun 1996 dengan spesifikasi yang sama.
Bila memang terealisasi, berdasarkan proposal yang terbuat di tahun 1997, fasilitas ini dirancang untuk mampu menyalurkan berbagai aktivitas seperti kegiatan ibadah (shalat jumat, pengajian), sekolah Islam, perpustakaan, Islamic business center, pusat pengumpulan zakat mal/fitrah, pengurusan atau bimbingan haji, tempat pertemuan untuk perkawinan maupun perhelatan akbar lainnya.
Strategi kepemilikan
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa mewujudkan niat ini. Mulai dari pemikiran opsi sewa, opsi pembelian tanah dengan menunda pelaksanaan konstruksi maupun opsi langsung pembelian tanah plus gedung dalam satu paket. Namun, dari apa yang kita sebagai umat Islam miliki sekarang ini, seperti jumlah dana yang telah terkumpul melalui sumbangan ($105,000 hingga saat ini) maupun sumber daya manusia yang tersedia, penulis memperkirakan opsi kepemilikan langsung paket tanah dan gedung akan mustahil dilakukan pada saat ini. Dengan pertambahan pemasukan gradual per tahunnya yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu $13,000/tahun, akan sangat sulit untuk bisa menyaingi lonjakan harga yang tajam di pasaran.
Di lain pihak, dengan memilih opsi sewa misalnya, belum berarti misteri kepemilikan fasilitas ini akan terpecahkan begitu saja. Karena opsi sewa pun mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya tempat tidak bersifat tetap, harga sewa yang tidak tetap, nilai kepemilikan yang kurang dan kurangnya kebebasan pemakaian. Kepemilikan secara sewa ini hanya akan efektif untuk kepemilikan yang bersifat jangka pendek hingga menengah (1-5 tahun).
Solusi tengah yang penulis tawarkan adalah untuk memulangkan kembali
keputusan kepemilikan tersebut kembali kepada umat, sang calon pengguna
fasilitas tersebut. Umat perlu dilibatkan kembali dalam pemecahan masalah ini.
Tapi tentunya mereka tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa arahan yang jelas
dari IMF.
IMF dalam kepengurusan beberapa tahun terakhir ini tengah berupaya melakukan pembenahan internal organisasi melalui konsolidasi anggota kepengurusan. Dengan konsilidasi kepegurusan ini Insya Allah akan dapat diwujudkan suatu organisasi yang solid yang diharapkan akan mampu menghasilkan berbagai aktivitas keislaman maupun kemasyarakatan positif yang bisa bermanfaat bagi umat Islam di Los Angeles khususnya, maupun di Amerika pada umumnya.
Studi Kelayakan Pembangunan Mesjid
Dengan adanya berbagai aktivitas yang terselenggara tersebut diharapkan akan dapat ”menarik” minat masyarakat muslim dengan sendirinya untuk ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan keislaman. Sehingga pada nantinya suasana keterikatan sosial (social bond) sesama umat dan rasa kepemilikan akan Islam itu sendiri akan semakin menguat dengan sendirinya. Dengan keterikatan tersebut diharapkan semakin membuat manusia-manusia terlibat di dalamnya merasa terpacu bahwa suatu tempat permanen pusat keislaman ini memang benar-benar diperlukan (harap lihat skema di halaman pertama).
Orang tidak akan lagi bertanya-tanya lagi untuk apa dana yang sudah atau akan terkumpul tersebut akan digunakan. Orang tidak perlu menyangsikan lagi bahwa dengan adanya mesjid nanti, Insya Allah, tidak akan menyia-nyiakan usaha yang telah disisihkan selama ini baik itu dalam bentuk uang maupun tenaga. Karena para umat dapat melihat kedepan bahwa efek dari adanya pusat kegiatan Islam tersebut akan berdampak positif bagi masing-masing individu maupun bagi perkembangan Islam di masa depan.
Penulis pernah terlibat dalam suatu pembicaraan dengan salah seorang muslimin di LA. Di awal pembicaraan tersebut, ia mengatakan,”Orang kita (Indonesia) itu aneh ya, Ri. Kalau untuk menyumbang makanan untuk acara pengajian atau kenduri lainnya, umat kita biasanya sangat ’ringan tangan’ dalam membantu. Makanan akan dengan cepat sekali tersedia. Tapi kalau untuk disuruh untuk menyumbang, terutama untuk sumbangan untuk mesjid, paling susah diminta. Kenapa ya?”.
Pikir punya pikir, akhirnya penulis menimpali bahwa sesungguhnya umat itu bukannya tidak mau menyumbang. Akan tetapi umat itu pada dasarnya akan lebih berat hati untuk menyumbang mana kala hasil yang akan dituai tersebut tidak kasat mata. Lain halnya dalam menyumbang makanan, hasilnya jelas. Bila seorang ibu membuat masakan untuk acara pengajian contohnya, dia akan sangat berpuas hati bila masakannya itu disukai oleh orang-orang dan paling cepat habisnya. Ada suatu kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan imbalan material.
Begitu pun dengan analoginya dalam hal pembangunan mesjid. Orang akan sulit untuk menyisihkan sepeser uang hasil jerih payahnya bila realisasi pembangunan mesjid masih jauh dari kenyataan. Mereka lebih senang untuk menyisihkan ke keperluan lainnya yang lebih mendesak atau terlihat dalam jangka waktu yang relatif pendek.
Berkaca ke belakang
Delapan tahun telah berjalan. Seraya dengan waktu berjalan, kita pun tengah jalan merangkak perlahan di tengah kegelapan. Kiranya sudah saatnya bagi kita untuk berani mengkaji ulang terhadap usaha yang telah kita tempuh selama ini apakah telah berada dalam jalur yang benar atau telah melenceng dari sasaran. Bila memang meleceng dari sasaran, sudah saatnya kita meluruskannya kembali. Bila memang kita berada berjalan di jalan yang benar, mengapa hingga sedemikian lama kita belum mampu mewujudkan keinginan tersebut dan hingga kapan kita harus menunggunya. Kita harus berani mengatakan sesuatu yang salah, walaupun memang sangat berat untuk mengutarakannya. Tapi kalau memang itu untuk kebaikan bersama, harus kita berani ungkapkan kesalahan tersebut untuk diperbaiki di kemudian hari.
|
SWOT Analysis – Pembangunan Mesjid |
|
Strengths: - IMF dengan ditopang dengan anggota pengajiian yang tersebar di pelosok LA mempunyai hubungan antar sesama masyarakat yang sangat solid - Keberadaan IMF yang telah lama berdiri, belum lagi dengan perkumpulan-perkumpulan pengajian lainnya yang telah lama terbentuk. Diakui sebagai badan resmi non-profit organization di California. - Dukungan yang sangat kuat dari pemerintah RI yang terwakilkan melalui KJRI |
|
Weaknesses: - Biaya mahal. - Kekurangan sumber daya manusia. - Belum siapnya kerangka lunak, seperti pembukuan, administrasi. |
|
Opportunities: - Sarana pemersatu umat Islam di LA khususnya, dan Amerika Serikat pada umumnya. - Memperluas syiar (penyebaran) Islam. - Pusat pendidikan dan pengajaran Islam dalam bentuk sekolah Islam dan perpustakaan serta Islamic Center. - Mempertebal identitas umat muslim Indonesia di U.S., dan bisa memperkenalkan bangsa Indonesia secara keseluruhan kepada masyarakat Amerika setempat. - Membuka lapangan pekerjaan dan sumber pendapat ekonomi, bila dimanfaatkan fungsi ruang yang lain, seperti penyewaan tempat, usaha-usaha lainnya. |
|
Threats: - Kebanyakan orang akan ber-status sementara di LA, membuat concern mereka terhadap perlu atau tidaknya mesjid menjadi berkurang - Biaya operations dan maintenance yang belum jelas, ditkhawatirkan pendanaan untuk menutupi biaya ini akan putus di tengah jalan bila kita tidak berhati-hati. - Semakin turunnya jumlah warga muslim Indonesia di Amerika Serikat seiring dengan semakin ketatnya kebijakan pemerintah AS terhadap warga pendatang. |
Pertanyaan seperti inilah yang harus kita jawab bersama-sama. Ada baiknya untuk kita sesama umat duduk bersama dalam kerangka diskusi. Segenap masyarakat muslim perlu kita dengar pendapatnya, tidak peduli dari background apa mereka itu. Baik itu pegawai konsulat, student, ibu rumah tangga ataupun dari kalangan muda seperti rekan Dhanta (anggota muda pengajian Los Angeles) sekalipun. Asal mereka ini semua mempunyai komitmen yang kuat untuk bersama-sama memecahkan masalah ini demi kebaikan kita semua.
Kita juga harus berani menelan pil pahit bila ternyata dalam diskusi tersebut diambil kesimpulan bahwa pembangunan mesjid ini ternyata tidak dibutuhkan. Kita harus mencari exit strategy yang tepat dalam menyikapi solusi ini. Apakah perlu untuk dikembalikan uang yang terkumpul tersebut kepada para donatur yang telah menyumbang, atau dimanfaatkan untuk kepentingan lain yang bermanfaat, seperti disumbangkan penggunaan dana tersebut ke Tanah Air.
Namun, kalau kita mengkaji ulang mengenai penting atau tidaknya keberadaan mesjid melalui metode SWOT analysis (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat) seperti di atas, terlihat jelas potensi yang ditawarkan dengan keberadaan mesjid ini akan memberikan keuntungan yang besar bagi masyarakat muslim Indonesia di Los Angeles
Metode Penggalangan Dana
Dari bagian penulisan yang telah diutarakan sebelumnya, dapat diketahui bahwa dengan pemasukan dana sumbangan rata-rata $13,000 per tahunnya akan sangat sulit bagi kita untuk mencapai target pembangunan mesjid dalam waktu dekat. Untuk itu perlu dipikirkan suatu cara efektif yang bisa menggalang dana yang cukup signifikan dalam waktu yang relatif pendek.
Memang sejauh ini IMF telah berhasil menghimpun dana pembangunan selain dari jalur sumbangan atau donatur, yaitu melalui pemasukan dari pelaksanaan kegiatan IMF, seperti bazaar maupun sekolah Islam Sabtu. Namun tetap jumlah pemasukan dari kegiatan di atas tidak akan terlalu memadai. Sumber pemasukan yang dihasilkan dari kegiatan IMF selama ini akan sangat bermanfaat untuk membiayai pengeluaran operasional di kemudian hari, belum bisa diharapkan untuk bisa menopang biaya akuisisi fasilitas.
Namun, kita tidak perlu berkecil hati. Pepatah yang mengatakan, “di situ ada kemauan, di situ ada jalan” memang bukan dibuat mengada-ada. Instensitas kegiatan yang akan terjalin dengan erat selama ini Insya Allah tidak akan hanya menarik perhatian dari kalangan masyrakat muslim Indoneisa semata, melainkan diharapkan akan pula menyedot perhatian kalangan masyarakat muslim dari negara Islam yang lain. Maraknya kegiatan yang akhir-akhir ini terlaksana maupun program-progam kegiatan di masa yang akan datang akan baik sekali sebagai alat marketing ke lingkaran luar kalangan muslim Indonesia, yang bila berhasil akan mampu menunjukkan bahwa ”eksistensi” keislaman masyarakat Islam Indonesia yang kokoh di Los Angeles.
Dengan begitu, barangkali kita perlu sekali-kali mengadakan fundraising event yang mengundang tokoh-tokoh pemuka masyarakat Islam baik itu dari Indonesia maupun dari bangsa lain. Perlu dipromosikan kembali achievements apa yang telah digapai IMF, visi dan misi ke depan IMF demi tercapainya kesejahteraan umat. Dari mereka inilah diharapkan akan mampu memberikan ”suntikan” bantuan yang cukup signifikan. Malah kalau perlu dapat pula dilakukan hal yang sejenis di Indonesia dengan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan tokoh penting Indonesia. Sudah saatnya kita memulai menjemput bola barangkali, daripada hanya sekedar menunggu bola.
Ada beberapa metode lain yang bisa dikembangkan lebih lanjut seperti barangkali melalui pinjaman dari bank dengan interest rate pengembalian yang sangat lunak. Namun kiranya tidak cukup dibahas seluruhnya dalam tulisan aritkel ini. Perlu banyak analisa dan pembahasan yang lebih mendalam.
Sebagai penutup penulis juga sedang mereka-reka struktur dana yang dibutuhkan maupun yang akan mampu dihasilkan bila realisasi mesjid ini menjadi kenyataan (lihat tabel). Namun ini juga masih bisa dalam perdebatan dan diskusi yang panjang. Tapi paling tidak, dari sini kita menarik benang merah, kira-kira apa yang mesti kita hadapi nanti. Pembangunan mesjid itu cuma langkah awal, dan bukan langkah akhir. Cobaan yang sebenarnya baru dimulai setelah mesjid (fasilitas permanen) tersebut telah berdiri. Setelah mesjid itu berdiri, tidak ada kata mundur lagi. □
Struktur Keuangan Bulanan Pasca Pembangunan
|
Pengeluaran per bulan: - Operasional dan perawatan - Full-time / part time employees salary |
$1,500 |
|
Pemasukan per bulan: - Sumbangan bulanan - Penyewaan tempat / ruangan - Pemasukan dari kegiatan IMF, seperti majalah MT, bazaar, sekolah Islam Sabtu |
$2,000 (perlu dilebihkan untuk meng-cover biaya tak terduga di kemudian hari) |
Untuk saran dan pertanyaan kepada penulis, hubungi langsung (310) 204-4905 atau afirmandi@att.net. Penulis adalah Kepala Editor Buletin Mentari Timur. Menamatkan pendidikan dari University of Southern California (USC), Master of Science in Civil Engineering dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Sarjana Teknik Sipil. Profesi saat ini: Project Controls Engineer, Analytical Planning Services (APSI).