Hikmah
Kupu-Kupu
Suatu hari Andi secara tidak sengaja dia menemukan sebuah kepompong
kupu-kupu yang sedang menetas. Karena rasa keingin tahuannya maka dia perhatikan
kepompong itu. Dia melihat betapa gigihnya sang kupu-kupu muda untuk keluar dari
cangkangnya. Sang kupu-kupu muda meregang-mengkerut berulang-ulang untuk
menembus lubang kecil di cangkang yang membungkusnya, namun usaha sang
kupu-kupu muda tak kunjung mendatangkan hasil.
Setelah beberapa lama Andi merasa iba terhadap kupu-kupu muda tersebut, maka bergegaslah ia masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama kemudian keluarlah ia dengan membawa sebuah gunting. Dengan hati-hati ia memperlebar lubang cangkang tersebut dengan gunting yang baru diambilnya. Berkat bantuan Andi sang kupu-kupu muda berhasil keluar dengan mudah. Hati Andi berbunga-bunga merasa telah membebaskan sang kupu-kupu muda dari penderitaan.
Andi belum beranjak pergi, ia ingin melihat sang kupu-kupu muda belajar terbang. Tidak berapa lama kemudian kupu-kupu muda mulai mengepak-ngepakan sayapnya. Andi sangat gembira, dalam pikirannya sang kupu-kupu muda akan segera terbang bebas untuk ke angkasa untuk menjalani kehidupan baru.
Setelah beberapa lama, yang ditunggu Andi tidak kunjung datang, sang kupu-kupu muda hanya mengepak-ngepakan sayap sambil berjalan kesana kemari dengan lamban di sekitar cangkang. Namun hati Andi belum putus asa dan masih bersabar menunggu, dalam pikirannya mungkin sang kupu-kupu muda masih butuh latihan yang lebih lama untuk bisa terbang.
Setelah menunggu-menunggu dan menunggu sang kupu-kupu muda tidak kunjung bisa terbang. Andi bertanya-tanya dalam hatinya ada apa gerangan sang kupu-kupu muda sehinggga tidak segera bisa terbang. Ia perhatikan sang kupu-kupu dengan teliti barangkali ada kelainan. Mula-mula ia perhatikan sayapnya, barangkali berlubang atau kelainan yang lain. Namun ia tidak menemukannnya, sayap sang kupu-kupu muda kelihatan normal-normal saja. Kemudian perhatikan bagian kakinya, barngkali cacat sehingga kurang kuat untuk memberikan dorongan awal, ternyata kakinya kelihatan normal. Kemudian kepalanya, juga kelihatan normal. Terakhir ia mengamati bagian perutnya, ia agak kaget, ia melihat perut sang kupu-kupu muda kelihatan lebih besar dari kupu kupu kebanyakan.
Kemudian ia bergegas ke dalam rumah, ia mengambil buku tentang serangga yang diperoleh dari sekolahnya. Ia buka-buka buku tersebut akhirnya ia sampai pada halaman yang mebicarakan masalah kupu-kupu. Ia baca dengan teliti artikel tersebut, alangkah terkejutnya setelah ia temukan kalimat yang berbunyi: "Ketika bayi kupu-kupu keluar dari lubang cangkang kepompong, akan keluar cairan dari perut bayi kupu-kupu yang merupakan sisa persedian makanan selama dalam fase kepompong. Keluarnya cairan tersebut membuat perut bayi kupu-kupu menjadi ramping, jika karena suatu hal cairan ini tidak keluar maka perut kupu-kupu akan besar dan bisa menghalangi kupu-kupu untuk bisa terbang karena badannya menjadi terlalu berat bagi sayap kupu-kupu".
Andi menjadi lemas, ternyata niat baik dia membantu sang kupu-kupu muda menjadi petaka baginya. Sang kupu-kupu tidak pernah bisa terbang selamanya.
Pelajaran yang bisa kita petik, kadang-kadang melakukan kesalahan serupa, kita tidak tega meilihat anak-anak kita (atau siapa saja) bersusah payah, lalu kita bantu dia untuk mengambil jalan pintas (short cut), padahal susah payah itu adalah bagian dari proses untuk melatih, mendewasakan dan mematangkan dia. Misal kita tidak tahan melihat balita kita makan berantakan, akhirnya kita suapin saja, akhirnya umur 7-8 tahun masih minta disuapin (so, setelah besar jadi pejabat juga suka disuap;-). Contoh lain kita tidak tahan melihat anak ngompol, maka kita tidak pernah (terlambat) mengajari 'potty training', akhirnya umur 4-5 tahun masih harus pakai diapers. Contoh lain untuk kasus di Indonesia, kita tidak ingin anak kita dapat sekolah yang tidak favorite padahal anak kita memang tidak memenuhi syarat untuk masuk di situ, akhirnya setelah dipaksakan masuk anak kita tersebut tertinggal dengan kawan-kawannya yang masuk melalu seleksi normal, salah satu akibatnya mungkin anak kita mencari pelampiasan untuk meuntupi ketertinggalannya misal terlibat narkoba dan alkohol. Contoh lainnya anak kita bandel dan usil, kita kasih obat saja biar hilang (kurang) kebandelannya.
Wallahu ahlam bisawab.