Kisah Nasrudin

Konon, Nasrudin adalah seorang sufi yang hidup di Anatolia, Turkey pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol. Beliau terkenal sebagai orang berilmu tinggi, cerdas, arif dan kecerdikannya tak tertandingi. Penampilan Nasrudin sangat sederhana dan bahkan cenderung "nyleneh". karena ketinggian ilmunya Nasrudin dipanggil Mullah (sepadan dengan Kyai). Nasrudin turut mengalami pendudukan Bangsa Mongol di bawah panglima Timur Lenk yang kejam. Timur Lenk banyak sekali melakukan penghancuran kebudayaan, tetapi dengan berbagai kecerdikan, Nasrudin dapat melewati masa ini. Konon, antara lain berkat pengaruh Nasrudin pula lah akhirnya Timur Lenk meninggalkan tanah air Nasrudin, meneruskan pengembaraan barbarnya.

Dalam kisah Nasrudin ini banyak diajarakan kearifan. Kisah Nasrudin ini diwariskan turun temurun sehingga tidak jelas siapa pengarangya. Dalam buletin ini akan dimuat kisah Nasrudin secara berseri.
Selamat menikmati. (SUD)
===

NASIB DAN ASUMSI

Suatu hari murid Nasrudin bertanya kepada beliau.

"Apa artinya nasib, Mullah ?"

"Asumsi-asumsi.", jawab Nasrudin.

"Bagaimana ?", tanya murid lagi.

"Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah itu yang disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi. Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib”, jawab Nasrudin lagi.

Catatan: Timur Lenk adalah panglima perang Mongol ketika Otoman dikalahkan bangsa Mongol.