Kembali ke Cape Town, setelah kunjungan pertama saya pada 2002. Bila kunjungan pertama untuk kepentingan Truth and Reconciliation Commission (TRC/Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi), kali ini khusus untuk mengenang Syekh Muhammad Yusuf al-Makassari (1626-1699).
Syekh Yusuf, putra Gowa, Sulawesi Selatan, adalah salah satu ikon terpenting dalam sejarah sosial-intelektual Islam pada abad ke-17; tidak hanya di nusantara, tetapi lebih-lebih lagi kaum Muslimin Afrika Selatan, yang secara tradisional dikenal sebagai ''Cape Malay''. Karena, meski beberapa Muslim sudah ada sebelumnya, seperti Ibrahim van Batavia pada 1653, baru setelah datangnya Syekh Yusuf pada 1694 sebagai ''political exile'' penjajah Belanda, Islam menemukan momentumnya. Hasilnya, dalam sejarah Islam di Afrika Selatan, Syekh Yusuf dikenang sebagai ''the founder of Islam in South Africa''.
Mengenang Syekh Yusuf dalam acara seminar sehari di Cape Town merupakan bagian dari perayaan Easter Festival. Hari Paskah tentu saja biasanya hanya dirayakan kaum Kristiani. Tetapi, tidak dalam kasus Afrika Selatan. Kaum Muslimin di negara ini memanfaatkan libur Paskah dengan acara mereka sendiri, terutama dengan berziarah ke makam Syekh Yusuf, yang di Afrika Selatan dikenal sebagai ''Karamat Syaikh Yusuf''.
Saya mendapat cerita menarik dari Wapres Muhammad Jusuf Kalla dalam pertemuan dengan beberapa anggota delegasi yang akan berangkat ke Afrika Selatan. Diantar Menbudpar, Jero Wacik, dalam pertemuan itu Wapres Jusuf Kalla bercerita, asal-usul perayaan Festival Easter di kalangan Muslim Afrika Selatan, bermula ketika Syekh Yusuf dan para pengikutnya yang dibuang penjajah Belanda ke Cape Town diberikan juga hak liburan pada hari-hari Easter. Kesempatan ini juga digunakan kaum Muslimin untuk merayakannya dengan maksud dan cara tersendiri, yang akhirnya menjadi tradisi, yang berpusat pada acara dan kegiatan mengenang Syekh Yusuf.
Dalam seminar di Cape Town, 23 Maret 2005, yang menghadirkan saya sendiri, Prof Nabilah Lubis, Prof Suleman Dangor, dan Prof Robert CH Shells, tersimpul bahwa Syekh Yusuf memang sosok luar biasa. Bagi saya, ia adalah ulama besar, salah satu pembaru (mujaddid) Islam di nusantara. Ia --bersama Sultan Ageng Tirtayasa-- adalah pemimpin perlawanan bersenjata di Kesultanan Banten melawan penjajah Belanda. Ia di Afrika Selatan dikenal sebagai ''founder of Islam'', pendiri Islam.
Ia adalah penulis yang menghasilkan tidak kurang dari 22 karya penting, yang menunjukkan ketinggian intelektualisme Islam nusantara. Sudah banyak tesis, disertasi, dan tulisan ilmiah lain ditulis di Indonesia, Afrika Selatan, AS, Belanda, Malaysia, dan lain-lain dalam dua dasawarsa terakhir tentang Syekh Yusuf dan karya-karyanya; tapi masih banyak lagi karya Syekh Yusuf yang perlu dikaji.
Saya ''berkenalan'' dengan Syekh Yusuf sejak awal 1990-an ketika melakukan penelitian untuk disertasi PhD di Columbia University, New York, tentang jaringan ulama. ''Perkenalan'' itu bermula ketika menemukan nama Syekh Yusuf disebut sumber-sumber lokal sebagai pernah belajar pada ulama besar Syekh Nuruddin ar-Raniri. Syekh Yusuf sendiri dalam beberapa karyanya juga menyebut beberapa nama singkat guru-gurunya.
Pelacakan saya atas sumber-sumber berbahasa Arab, khususnya tarajim (kamus biografi) ulama di Dunia Arab pada abad ke-17, menemukan nama-nama lengkap seluruh gurunya tersebut. Dan guru-gurunya tersebut merupakan ulama-ulama terkemuka, baik di Yaman, Haramayn (Makkah dan Madinah), Syria, maupun negeri-negeri lain di Semenanjung Arabia.
Syekh Yusuf menghabiskan waktu hampir dua dasawarsa mengembara dari satu tempat ke tempat lain di Arabia untuk menuntut ilmu (rihlah `ilmiyyah), ketika alat transportasi yang ada hanyalah unta. Bisa dibayangkan betapa tegarnya Syekh Yusuf menjejakkan langkahnya di tengah padang pasir yang panas bernyala-nyala.
Banyak warisan dan teladan yang ditinggalkan Syekh Yusuf. Presiden Soeharto pada 1995--tiga ratus tahun setelah kematian ulama besar ini--menganugerahkan gelar pahlawan kepada Syekh Yusuf. Dan pada 1997 Presiden Soeharto menziarahi makam Syekh Yusuf yang terletak di kawasan Makassar, Cape Town. Makam yang dikenal sebagai ''Karamat Syaikh Yusuf'' tidak bisa lain, menjadi tempat ziarah paling populer di kalangan masyarakat Muslim Afrika Selatan.
Perhatian Pemerintah Indonesia pada masyarakat Muslim Afrika Selatan asal Indonesia, yang kini sudah merupakan generasi kedelapan, terus berlanjut. Melalui Duta Besar RI di Pretoria, Abdul Nasier, Pemerintah Indonesia di masa Presiden Megawati Soekarnoputri mendanai renovasi dan perluasan Masjid Nurul Latief yang terletak tidak jauh dari makam Syekh Yusuf.
Kaum Muslimin Indonesia masa kini boleh bersyukur dan bangga, bahwa anak negerinya--seperti Syekh Yusuf dan banyak lagi dalam sejarah Islam di Afrika Selatan--telah berperan besar dalam meninggikan kalimatullah di rantau yang begitu jauh.